You are currently browsing the monthly archive for Mei 2008.


Taufikurahman untuk Walikota Bandung 2008-2013

Visi:  

  • Terwujudnya Bandung yang Kreatif, Nyaman, dan Sejahtera”

 

 

Misi :

  1. Mewujudkan Pemerintah yang Bersih dan Melayani
  2. Menumbuhkan Lapangan Kerja yang Luas dan Inovatif
  3. Menyediakan Pendidikan Gratis dan Berkualitas
  4. Memberikan Pelayanan Kesehatan yang Murah dan Merata
  5. Menciptakan Lingkungan yang Aman dan Nyaman
  6. Meningkatkan Kehidupan Beragama yang Toleran dan Harmonis
  7. Mengembangkan Budaya Kreatif dan Berdaya Saing

  

Strategi

 

         Pengelolaan pemerintahan yang baik, bersih dan profesional

         Pelibatan partisipasi aktif masyarakat dalam pembangunan

         Peningkatan pertumbuhan ekonomi dan budaya kreatif

         Peningkatan kapasitas dan daya saing koperasi, usaha kecil, dan menengah

         Pelayanan untuk kemudahan investasi dan iklim usaha yang kondusif

         Perbaikan dan peningkatan sarana dan prasarana pendidikan

         Peningkatan kesejahteraan dan kompetensi pengelola dan tenaga pendidik

         Perbaikan dan peningkatan sarana dan prasarana kesehatan

         Penyelenggaraan jaminan kesehatan masyarakat

         Pengelolaan sampah secara terpadu

         Penyediaan infrastruktur kota yang memadai dan manusiawi

         Penyediaan sarana transportasi yang aman dan nyaman

         Peningkatan ruang publik dan ruang terbuka hijau

—————


Mendapatkan peluang melanjutkan studi S2 di ITB dengan diberi beasiswa dan ditawari sebagai dosen tentu merupakan sebuah karunia Allah Swt yang besar bagi saya, karena itu kesempatan tersebut tidak saya sia-siakan. Sempat 3 bulan istirahat dari aktivitas akademik setelah lulus S1 di bulan Juni 1985, kemudian saya mulai kuliah lagi sebagai mahasiswa S2 di bulan September 1985.

Selain biaya sekolah gratis, saya mendapat uang saku bulanan lebih kurang 150 ribu rupiah 🙂 itu jumlah yang lumayan sebagai bujangan saat itu, tetapi kalau dengan keluarga jelas kurang. Syukurnya setahun kemudian saya termasuk yang beruntung lagi karena mendapat kesempatan untuk mengikuti kegiatan persiapan studi di luar negeri dengan dana dari projek Center Grant PAU (Pusat Antar Universitas) ITB, dan ada tambahan beasiswa selama lebih kurang sembilan bulan ikut kursus bahasa Inggris untuk persiapan studi S3.

Tanggal 10 Agustus 1986, saya memberanikan diri menikah ! Saat itu usia saya belum genap 25 tahun. Isteri saya Nurani Esti Lestari adalah alumni jurusan Gizi dan Sumberdaya Keluarga IPB. Saat itu isteri saya bekerja di Akademi Gizi di Semarang, dan beliau sendiri memang kelahiran Semarang. Jadi setelah menikah saya kemudian harus bolak-balik Bandung-Semarang, lebih kurang selama setengah tahun, sampai akhirnya saya memboyong isteri untuk tinggal di Bandung, sehingga otomatis beliau harus meninggalkan pekerjaannya.

Diakhir masa studi S2 saya, selain disibukkan dengan penelitian dan penyusunan tesis, sayapun harus mengurus persiapan keberangkatan ke luar negeri. Saya sudah dijadwalkan untuk berangkat ke Inggris akhir Agustus 1987. Alhamdulillah tesis beres, sidang kecil dan sidang besar S2 selesai. Akhirnya pada tanggal yang telah ditentukan sayapun berangkat ke Inggris untuk melanjutkan studi S3 di University College of Swansea (University of Wales), kendati saya harus meninggalkan isteri yang saat itu sedang hamil anak pertama kami dengan usia kandungan 7 bulan…. berat meninggalkannya dalam keadaan seperti, tetapi itu pilihan yang kami tempuh dan menjadi takdir Allah Swt.

  


Tahun 1980 saya masuk ITB melalui jalur Perintis II, tanpa testing, semacam PMDK yang masih dilakukan IPB (rasanya) hingga saat ini. Saat itu yang masuk ITB melalui jalur tersebut hanya boleh masuk FMIPA minus Farmasi, that’s ok for me, sebab saya ingin masuk Biologi. Setelah TPB ditahun pertama dan kemudian penjurusan, saya mantap memilih Biologi sebagai pilihan studi saya, ini karena sejak SMA saya tertarik dengan issue lingkungan yang saat itu mulai ramai dibicarakan di media.

Tahun pertama dan kedua di Bandung saya kost di daerah Lebak Gede yang sekarang sebagiannya sudah diubah menjadi Sabuga ITB. Tahun ketiga saya mendaftar masuk asrama mahasiswa ITB, dan diterima bersama sekitar 20 rekan lainnya masuk asrama Barrac (G). Asrama ini terkenal seniornya galak-galak, dan penghuninya paling banyak dibanding dengan asrama ITB lainnya (A,B,C,D,E,F,H). Tekanan menjadi yunior di asrama awalnya memang terasa berat, tetapi karena kami masuk rame-rame, kami bikin kekuatan sendiri dan jadi solid menghadapi senior, sehingga tekanan tidak begitu terasa lagi.  Dua tahun kemudian bahkan saya terpilih menjadi Ketua Dewan Senior Asrama Mahasiswa (DSAM) ITB. kegiatan DSAM yang paling signifikan adalah menyelenggarakan Pekan Olahraga Antar Asrama Mahasiswa (PORAM).  

Di Biologi saya juga aktif  menjadi salah seorang pengurus Himpunan Mahasiswa Nymphaea. Selain itu saya juga senang mengikuti kegiatan di Masjid Salman ITB, dari kuliah dhuha, ceramah ramadhan, dan mengikuti kegiatan Latihan Mujahid Da’wah (LMD). Setelah ikut LMD saya juga terlibat dalam kepanitiaan LMD berikutnya. Berada di masjid Salman terasa sangat nyaman, sejuk dan damai. Ceramah-ceramah yang diberikan oleh para penceramah sangat berkesan, apalagi kalau sudah mendengar ceramah Buya Hamka, luar biasa, air mata menetes diam-diam. Pada beberapa kegiatan Ramadhan di Salman, saya juga sempat membantu kepanitiaan dengan ikut memberi pengajaran baca AlQur’an, kebetulan sejak SMA saya pernah ikut beberapa kursus membaca AlQur’an untuk menjadi qori’ dan pernah ikut beberapa musabaqoh hingga tingkat kelurahan 🙂

Sebetulnya menyenangkan menjadi mahasiswa, tetapi saya ingin cepat lulus agar  bisa cepat bekerja dan meringankan beban orang tua. Alhamdulillah saya menyelesaikan S1 dalam waktu empat setengah tahun pas, I coudn’t do better or faster than that. Selepas lulus beberapa waktu sempat bingung mau kerja dimana, sampai akhirnya saya dapat tawaran untuk melanjutkan studi ke S2 dengan beasiswa dari Pemerintah, dengan catatatan saya menjadi dosen di almamater saya. Saya pikir ini kesempatan emas, saya ingin studi lanjut dan ditawari jadi dosen lagi, alhamdulillah.  

 

 

 

 

 

 

 


Selain sebagai dosen di Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati ITB, saat ini saya diberi amanah sebagai Ketua Asosiasi Akademisi Perguruan Tinggi Seluruh Indonesia, disingkat ASASI. Organisasi ini didirikan di Bandung pada tanggal 1 oktober 2005, dideklarasikan oleh 42 orang pendiri yang merupakan akademisi dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.  Untuk mengenal lebih dekat ASASI, silakan lihat di http://asasi01.wordpress.com.

Selain itu sejak tahun 2003 saya bersama beberapa teman aktivis lingkungan, mendirikan LSM Lingkungan hidup yang kami beri nama GreenLifeSociety (GLS). Sejak didirikan hingga saat ini saya mengomandani LSM tersebut. Melalui organisasi ini kami mengadakan pelatihan dan advokasi ke masyarakat mengenai lingkungan hidup, diantaranya program pengomposan dan penghijauan. Bersama dengan LSM lingkungan hidup yang lain, GLS tergabung dengan KMBB (Koalisi Masyarakat Bandung Bermartabat). yang diantaranya mengkritisi kebijakan pemkot Bandung saat ini dalam issue lingkungan, diantaranya issue Punclut (kawasan Bandung utara) dan PLTSA. Untuk mengenal lebih dekat dengan GLS, silakan simak program dan diskusi kami di http://greenlifesociety.wordpress.com

Sejak tahun 2007 lalu saya juga diberi amanah oleh Keluarga Alumni Aktivis Salman  (Kalam) ITB untuk mengetuai Kalam ITB cabang Bandung yang daerah operasinya melingkupi Jawa Barat dan Banten. Melalui wadah ini para alumni aktivis Salman ITB bersilaturahim, berkomunikasi dan membangun jejaring untuk kemaslahatan umat.  Melalui Kalam ITB, sejauh ini kami memberikan beasiswa dan program pembinaan kepada para mahasiswa. Saat ini dua puluh siswa sudah diberi beasiswa dan pembinaan.

Selain itu sejak tahun 2005 saya mengetuai Program Pembinaan Sumberdaya Manusia Strategis (PPSDMS) regional II Bandung. yang bernaung dibawah Yayasan Nurul Fikri. Program yang dilakukan adalah pengasramaan atau penyantrenan, pemberian beasiswa dan pembinaan mahasiswa. Angkatan I terdiri dari 20 mahasiswa ITB yang tersebar dari berbagai program studi, berlangsung dari tahun 2005-2006. Angkatan II periode 2006-2008 terdiri dari 20 mahasiswa ITB dan 10 mahasiswa UNPAD. Motto program ini: Creates future leaders

Di lingkungan kampus saat ini saya diberi kepercayaan menjadi pengawas Koperasi Keluarga Pegawai (KKP) ITB. Saat ini saya diamanahi sebagai Ketua Pengawas KKP ITB tersebut. Koperasi ini memliki anggota sekitar 3500 orang yang terdiri dari dosen dan karyawan ITB, Politeknik Manufaktur dan Politeknik Bandung. Kegiatan Koperasi selain simpan pinjam juga ada usaha waserda, toko buku dan kedai hijau. KKP ITB tahun lalu dianugerahi sebagai Koperasi terbaik di Indonesia.   

 

 

 


Punya nama “cuma” satu kata sebenarnya hal yang lazim bagi orang Indonesia. kecuali pada beberapa suku yang memiliki marga, nama orang Indonesia pada umumnya tidak mengenal “forename” dan “surname” seperti orang diluar.  kalaupun ada yang namanya lebih dari satu suku kata, biasanya itu memang nama ybs sendiri. Anak saya yan bontot (sementara) namanya agak panjang: “Muhammad izzudin AlFathi”, itu melulu nama dia, tidak bawa-bawa nama orang tuanya. Karena itu saya agak sedikit kerepotan kalau mengisi form yang ada “forename” dan “surname”nya gitu. Untuk menyiasatinya saya suka menuliskan nama saya “T. Taufikurahman”, maka jadilah beberapa orang menyebut saya “mister T” hehe (nget film seri The A Team khan 🙂

Dalam dunia tulis menulis, beberapa mengenal saya dengan nama TAURA. Nama itu muncul dalam diskusi di ISNET (Islamic network), sebuah mailing-list karyasiswa muslim di mancanegara yang muncul sekitar tahun 1990, diawal-awal mulainya dunia internet. Sebetulnya nama itu muncul by mistake ketika kami sedang diskusi kitab-kitab suci, diantaranya Taurat, entah mengapa diakhir tulisan, saya menulis nama saya dengan kata “Taura”, jadilah sejak itu kata tersebut saya pakai di mailing list tersebut, terutama ketika mengirim puisi-puisi. Tahun 2003 kalau tidak salah, seorang teman menawarkan untuk menerbitkan kumpulan puisi saya itu, dan terbit dengan judul “Panggilan kemenangan” dengan penyair: TAURA. InsyaAllah akan saya potingkan beberapa puisi dari kumpulanpuisi saya tersebut di blog ini nanti.

 

 

 


If Indonesia is a wealth and prosperous country, having many holidays probably will do no harm to the people and the development of the country. But realizing  that Indonesia is a country that can be categorized as developing country (not to say a poor country), I think we have to consider the fact that in our country there are too many public holidays !

 

These public holidays mostly related to religious events. In Moslem calender, beside having iedul fitri and Iedul adha, we also have “maulid” and “isra mi’raj” of the prophet (pbuh). Commemorating the prophet birthday and event of Isra mi’raj is fine, the thing is that is it necessary in commemorating those events that it has to be public holidays ?  I don’t think that’s important to make them as public holidays. The same case in christianity, it’s okay that we have public holiday at christmass day, but other events such as the death of Isa (pbuh) and good friday… does it need to be commemorated in public holidays ?

 

Beside those religious related events, some ordinary days can also become holidays if they are being “kejepit”  between two holidays, we call it “harpitnas’ (hari kejepit nasional). Those adds more public holidays in the country. I am afraid that too many holidays will do no good to the progress of development in Indonesia. What do you think ? 


Ternyata hingga saat ini tidak ada yang namanya standarisasi anggaran pendapatan dan belanja sekolah. Setiap sekolah karenanya bisa sesuka hati menetapkan RAPBS mereka. Selain itu tampaknya juga tidak ada kewajiban pihak sekolah untuk secara transparan memberi tahu kepada publik, paling tidak kepada para wali murid, kemana saja dana yang telah mereka terima digunakan. Karena itu, kata teman saya yang pemerhati pendididikan di kota Bandung, pihak sekolah bisa mencantumkan dalam RAPBS-nya seperti dana trasportasi/uang bensin pak kepala sekolah, dana hadiah sunatan anak kepala sekolah, biaya rapat kepala sekolah dll. Itu semua dan dana tekek bengek yang tidak jelas kontribusinya bagi operasional sekolah selama ini tampaknya banyak dibebankan kepada siswa.

Dana APBS  yang tidak transparan barangkali menjadi penyebab dari biang keladi munculnya rasa kurang puas bahkan bisa dikategorikan sebagai kecurigaan dari masyarakat terhadap penggunaan dana masyarakat oleh sekolah-sekolah. Rasa kurang puas dan kecurigaan tersebut tentu saja tidak baik kalau dibiarkan terus. Para orang tua dan komite sekolah mungkin tidak banyak berani bicara dan mengkkrtitik pihak sekolah, takut kalau hal tersebut akan berakibat anak mereka yang akan ditekan oleh pihak sekolah. Itu adalah rasa kekhawatiran yang real dialami oleh para orang tua siswa dan juga anggota komite sekolah, sehingga mekanisme pengontrolan dan pengendalian sistem keuangan sekolah tidak bekerja dengan baik. Komite sekolah dan orang tua murid akhirnya mungkin cuma menggerutu dibelakang.

Jalan keluar untuk mengatasi hal tersebut, saya kira adalah Diknas sepatutnya mengeluarkan rambu-rambu semacam standarisasi biaya apa saja yang boleh ada dalam RAPBS, setiap item ada nomenklatuur-nya yang jelas dan logis. Selanjutnya APBS harus dipertanggungjawabkan dan diaudit setiap tahunnya oleh akuntan publik. Beberapa SMA di Bandung, menurut selentingan, memiliki dana tahunan paling tidak 6 milyar rupiah. Itu dana yang cukup besar tentu dan harus dipertanggungjawabkan penggunaannya kepada publik, apalagi sekolah-sekolah negeri yang seharusnya merupakan servis negara kepada rakyat, harusnya gratis ! sesuai amanat konstitusi. Pertanggungjawaban kepada publik sepatutnya bisa dilakukan sekolah dengan menayangkan laporan keuangan di papan pengumuman sekolah, buletin sekolah, atau kalau perlu bahkan di mass media agar masyarakat bisa menilai dan setulusnya bisa mempercayai pihak sekolah dalam pengelolaan keuangannya. Mungkinkah hal tersebut dilakukan oleh sekolah-sekolah di Bandung ? Beberapa daerah di luar Bandung saja bisa kok, mestinya di Bandung juga bisa ya …


Ahad pagi tadi saya diundang temen-teman yang tergabung dalam KOMPOS (Komunitas Masyarakat Peduli Olah Sampah) Bandung, membuat pelatihan pengomposan di daerah Binong. Untuk ketempat acara masuk gang-gang kecil dari pasar Binong, untungnya saya pake motor, jadi bisa masuk hingga ke depan lokasi acara.  Sesampainya ditempat acara, acaranya sudah dimulai oleh teman saya yang menerangkan tentang prinsip-prinsip pengomposan sampah organik. Yang mengikuti pelatihan ibu-ibu rumah tangga dan bapak-bapak, termasuk pak RW di daerah tersebut. Begitu sampai ruangan dan duduk bersila, seorang peserta bapak-bapak mendekati dan menjabat tangan saya: “Taufik… saya …. nih…” agak kurang jelas nama yang dia sebut, kemudian diulang: “Nana” … oalah rupanya teman saya satu angkatan di TPB 80 dulu, Nana Sutresna namanya.  Seingat saya dia memang pernah bilang rumahnya di daerah Binong, tapi sungguh tidak menyangka kalau ditempat tersebut bakalan ketemu teman lama.

 

Kembali ke soal pelatihan pengomposan sampah ini, ibu-ibu dan bapak-bapak yang hadir tampaknya sangat antusias. setelah teman saya selesai bicara, panitia mempersilakan saya barang 20 menit bicara. Saya berbicara tentang pentingnya mengolah sampah organik menjadi kompos dengan beberapa alasan, pertama secara ekologis langkah tersebut paling benar… hehe mudah-mudahan ibu-ibu tersebut pada ngerti maksudnya. Saya bilang tanah yang subur semakin susah didapat sekarang, kalau ibu dan bapak beli tanah lembang, kualitasnya tidak sebaik dulu lagi. Saya ceritakan bahwa saya pernah beli beberapa karung tanah lembang, dan isinya ternyata tanah merah yang tidak berhumus, dan bahkan membuat tanaman dalam pot saya sekarat. Karena itu mengolah sampah organik menjadi kompos merupakan langkah yang paling bijak. Sampah organik tidak untuk dibakar ! Karena dengan pembakaran itu akan menghilangkan potensi humus dan kompos yang sesungguhnya dapat meningkatkan kualitas tanah disekitar kita. Selain itu pembakaran akan mengeluarkan  asap yang tidak menyehatkan bagi udara sekitar. Pembakaran juga akan membutuhkan minyak tanah yang cukup banyak, karena limbah organik biasanya basah atau kandungan airnya relatif tinggi sehingga perlu minyak tanah yang cukup banyak untuk membakarnya.

 

Dengan dihasilkannya kompos, kita dapat menggunakan kompos tersebut untuk memperbaiki kualitas tanah di pekarang kita untuk bertanam bunga, tanaman obat-obatan tradisional atau hortikultur. Pengomposan sampah dilakukan dengan menggunakan wadah semacam drum kecil dari plastik yang telah dilubangi untuk aerasi dan pada bagian bawahnya diberi semacam pintu kecil untuk mengeluarkan produk kompos yang telah matang. Untuk mempercepat proses pengomposan, perlu diberikan starter bakteri yang sudah banyak dijual dengan nama macam-macam, diantaranya Simba, EM4 dll.  Saya sampaikan juga bahwa ibu-ibu bisa menanam padi di polybag dengan medium tanah campur kompos tersebut. Dengan luasan 1 x 1 meter persegi, kita bisa memanen lebih kurang 10 kg beras. Hal ini tentu akan bermanafaat untuk meningkatkan ketahanan pangan warga Bandung, terutama menghadapi kemungkinan krisis pangan dan energi dimasa depan.

 

Pada kesempatan tersebut rekan-rekan dari KOMPOS memberi sumbangan drum plastik yang sudah didesain khusus untuk pengomposan, plus sebotol cairan berisi bakteri sebagai starter pengomposan.  Jika ada rekan-rekan di Bandung yang berminat untuk diberi pelatihan oleh tim kOMPOS, silakan koordinasikan dengan warga setempat, dan hubungi kami, insyaAllah dengan senang hati tim kami akan datang . Bila ada yang berminat jadi voluntir KOMPOS, kami tentu akan sangat senang.  

 

Selesai acara. saya menyempatkan mampir ke rumah teman lama saya itu, dan pulangnya anak saya yang bontot, umur 7 tahun, yang kebetulan saya ajak jalan-jalan, sangat senang karena teman saya itu memberi tiga buah mainan yang sangat dia suka, mobil-mobilan dan motor-motoran 🙂  


Dimungkinkannya calon perorangan atau independen untuk berlaga di pilkada kota Bandung yang akan digelar 10 Agustus 2008 yang akan datang, tampaknya memberikan sebuah euforia bagi masyarakat yang berminat untuk ikut berlaga dalam pilkada tersebut tanpa harus menggunakan “perahu” Partai.

Tadi pagi saya baca di koran, jumlah calon perorangan yang telah mengambil formulir sebanyak 28 pasang ! Saya duga, jumlah tersebut kemungkinan akan bertambah lagi hingga bisa jadi diatas 30 pasang calon. Saya ingat tahun 2004 pada saat pendaftaran bakal calon Walikota/wakil walikota Bandung, yang mendaftar ke KPUD sekitar 70-an orang, jadi ya… sekarangpun kira-kira jumlah pasangan yang berminat maju lebih kurang 35 pasang, termasuk calon dari partai.

Bagaimana kalau semua calon independen tersebut ternyata bisa memenuhi persyaratan mengumpulkan tanda tangan dukungan dan fc KTP para pendukungnya sebanyak 3 % dari total populasi Bandung yang 2,4 juta jiwa, yakni sekitar 60-70 ribu dukungan ? Itu tentunya sebuah jumlah yang lumayan banyak euy… Bila hal tersebut terjadi, wah heboh juga ya, pilkada pertama di Indonesia yang mengikut sertakan calon perorangan diiikuti oleh sebanyak 35 pasang calon… “gubrak” ! Sejauh ini sih baru ada satu pasang yang sudah meng-claim sudah mengantongi 70 ribu pendukung… hebat euy.

Jika jumlah calonnya buanyak (more than sekedar ‘banyak’), kebayang kertas suara yang akan dibuat akan buegitu luebar dan puanjang (remember: luebar x puanjang = luuuuas !) seperti pemilu partai yang lalu dan mugkin juga yang akan datang…. kasihannya aki-aki jeung nini-nini nu bakal ripuh ngalipet kertas suara di bilik nu leutik saukuran kandang itik atawa kikirik atawa jangkrik 🙂  halah…. capek dech !

Harapan warga Bandung saya kira, peserta pilkada 10 Agustus yang akan datang paling banyak diikuti yah..  sekitar 5 orang lah seperti yang terakhir di pilkada Sumut yang lalu. Maksimal barangkali 10 pasang. Tapi bagaimana ya kalau ternyata memang sejumlah 30-an pasang calon perorangan itu layak.. yah apa boleh buat barangkali, kecuali kalau ada verifikasi lebih lanjut oleh KPUD atau oleh Forum Calon Perorangan yang akan bikin konvensi lagi diantara mereka sendiri ? Akh, rasanya yang terakhir itu kecil kemungkinanya, lha wong mereka sebelumnya kan sudah bikin semacam pemilihan dari beberapa kandidat sehingga muncul satu pasang calon yang diusung bersama, tapi siapa yang bisa melarang kalau calon-calon lain akhirnya bermunculan juga ?

 

 


 

Ada lebih kurang 40 pasar tradisional di kota Bandung, dari Simpang Dago, Cihaurgeulis, Cikutra, Cicadas, Ujung Berung dsb. Pasar-pasar tersebut beroperasi dari pagi/dini hari, bahkan beberapa sudah mulai ramai sejak jam 10 malam, seperti pasar Ciroyom, hingga sekitar jam 5 sore. Perjuangan para pedagang di pasar tradisional menurut saya sangat luar biasa, mereka rela tidak tidur malam hari untuk mendapatkan sesuap nasi. Para pembelinya juga banyak, sehingga pasar tradional umumnya ramai oleh penjual dan pembeli, dari ibu-ibu, anak-anak hingga nenek-nenek dan kakek-kakek.

 

Kehadiran pasar tradisional tersebut sebenarnya sangat penting bagi perekonomian warga Bandung, namun sayangnya sejauh ini mereka tampaknya kurang mendapatkan perhatian yang layak dari pemerintah kota Bandung ! Mereka tidak mendapatkan fasilitas yang layak untuk berjualan. Karena kurang perhatian dan penataan, pasar tradisional di Bandung menjadi identik dengan kekumuhun, becek, bau, kotor, jorok. Kalaupun kemudian didirikan bangunan oleh developer atas izin pemda, para pedagang tidak dilibatkan, tidak ditanya apa keinginan mereka, dan kemudian diharuskan membeli atau menyewa dengan harga yang tak terjangkau kantong mereka. Selain itu mereka biasanya ditempatkan di bagian bawah atau basement gedung yang sumpek, gelap, kurang oksigen… oh malang benar nasib para pedagang di pasar tradisional kota Bandung.

 

Jelas, kebijakan pemkot Bandung saat ini tidak berpihak kepada perbaikan nasib para pedagang di pasar tradional tersebut, tetapi lebih berpihak kepada para pemilik modal besar untuk membuat supermarket-supermarket, mall-mall yang malah mematikan potensi pasar tradisional warga Bandung sendiri. Kota Bandung sangat tertinggal dalam penataan pasar tradional. Coba belajar misalnya dari bagaimana pemkot Solo mengelola pasar Klewer yang tertata dengan rapih. Apalagi kalau dibandingkan dengan pasar tradisional di Singapura, Malaysia yan bersih dan tertata rapih. Saya pernah jalan-jalan di pasar tradisional di dekat Kuala Lumpur yang berlangsung hingga jam 9 malam, rapih, bersih, nyaman, tidak becyek dan tidak bau… 

 

Herannya, bukankah pak Walikota dan para wakil rakyat di DPRD sudah sering melakukan kunjungan dinas ke berbagai kota di dalam dan luar negeri, sehingga msetinya mereka-mereka yang terhormat itu memiliki wawasan yang lebih luas dan dapat memilih apa yang terbaik untuk kota Bandung. Sayangnya sejauh ini apa yang ditiru dari kebaikan-kebaikan dari kota-kota di luar Bandung itu ? Kayaknya gak ada deh… yang mau ditiru malah PLTSa yang sebenarnya bisa menyengsarakan kondisi lingkungan dan warga kota Bandung sendiri.

Bandung jelas membutuhkan Pemimpin baru yang lebih memperhatikan nasib rakyat kecil, yang banyak perekonomiannya berputar di pasar tradisional ! Sudah saatnya Bandung dibebaskan dari pemimpin yang hanya dikelilingi, dibisiki dan dipengaruhi oleh para pengusaha yang hanya berniat menarik keuntungan sebesar-besarnya dari warga Bandung, dengan tidak memperhatikan, malah cenderung mematikan penghidupan rakyat kecil. Tentu tidak semua pengusaha bermental seperti itu, insyaAllah masih banyak pengusaha yang baik-baik yang memang memiliki niat tulus ikhlas untuk memajukan Bandung dan bukan sekedar mengeruk keuntungan untuk diri sendiri saja. Bandung juga perlu banyak kontribusi para pengusaha berhati mulia seperti itu, untuk bersama dengan pemimpin baru kota Bandung nanti membangun Bandung yang benar-benar bermartabat (bukan cuma slogan kosong saja), yang mengangkat derajat, martabat dan kesejahteraan warga Bandung.

 

 

 

Mei 2008
S S R K J S M
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Klik tertinggi

  • Tidak ada

RSS Feed yang Tidak Diketahui

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

twitter

%d blogger menyukai ini: