You are currently browsing the monthly archive for Maret 2012.


Bamboo shelter project ini dibuat oleh Prof. Bando Taaki dari (Musashino Art University, Tokyo), saat ini dipajang di kampus ITB. Bola bambu ini tersusun dari 740 potong bambu berukuran sekitar 75 cm. Diameter bangunan bola ini sekitar 7 m. Didalam bola diletakkan panggung untuk pentas atau pertunjukan. Dalam pembuatannya melibatkan pengrajin bambu di Tasikmalaya.

Ide pembuatan struktur bola ini adalah untuk memberikan alternatif struktur bangunan yang tahan gempa. Struktur bola dinilai paling stabil terhadap gempa, Selain itu pemilihan bahan bakunya dari bambu yang ringan namun cukup kokoh akan sangat mengurangi resiko jatuhnya korban tertimpa struktur bangunan ketika terjadi gempa skala besar.

Prof Taaki akan memberikan kuliah terbuka yang mengenai Bamboo Shelter Project ini pada Hari Senin, pk.13:00 di Ruang Seminar FSRD (lantai 2 gedung FSRD, di atas Galeri Soemardja).



Nature provides miraculous phenomena, from a small scale world of the cell to a big scale of the universe. Thanks to those who invent a microscope, from the most primitive one which was created by Robert Hook to today’s the most sophisticated electron microscope.

I always have a passion of taking a picture of plants, flowers, animal, landscape and people since I borrowed a camera of my father when I was in Senior High School (1977-1980). later on when I was a student in a university (ITB), during the period of 1980-1987, I used also my father’s camera to take some pictures of my research objects to put them in my thesis. I bought several cameras when I studied my PhD, from pocket to a proper gear. But at that time when the camera still using a film and we have to develop the negative, photography is an expensive hobby.

Nowadays in digital era, we don’t have to buy a film and later on there is no neeed to develop it. Digital camera enabling us to take thousands of pictures in a short time, and we just need to save them in our computer, later on we can show them to our families or colleagues by means of blog, website, facebook, email, twitter, even just by uploading it in our Blackberry phone. It just becoming so simple.

Since the era of digital camera, I have bought several pocket cameras, the first one is Ricoh 2 megapixel (?), and then Mpix with 5 Megapixel, later on Sony Cybershot (8 Mpixel). The last one was stollen, and then I bought another pocket camera, stil Sony (12 Mpixel). I even bought a Nikon DSLR camera for my daughter as she need it for her “Photography” course in DKV-ITB in 2008. In 2011 I won a research grant from the ASAHI Foundation which I used for buying some research appartus including a Canon DSLR camera.


I just called this animal as ‘ a golden fly’ although that might be not appropriate. This is a tinny fly so that I could not be able to get better picture of it through my macro lens.


Tomcat atau Rove beetle tidak menggigit atau menyengat, tetapi “darah” atau lebih tepat disebut cairan hemolymph-nya mengandung senyawa racun kuat yang disebut pederin (C24 H43 O9 N) yang dapat menyebabkan iritasi kulit dan mata. Jika tomcat di tepuk spt yg kita lakukan thd nyamuk, darahnya akan diserap oleh kulit kita dan ini yang menyebabkan iritasi serius pd kulit. Jadi jika binatang ini bersentuhan dengan kulit anda, jangan ditepuk tapi cukup ditiup dan atau disemprot atau siram cairan sabun. Cairan sabun akan dengan cepat mengusir senyawa toksin nya sebelum merembas masuk ke kulit. Jadi apabila anda berada di daerah yang banyak dihuni tomcat, disarankan bawa cairan sabun dalam botol.

Apabila anda terkena tomcat, setelah kulit yang terkena itu segera disiram dengan air sabun, anda dianjurkan untuk mengompres bagian yang terkena dengan es lalu oleskan lidah buaya atau salep hydrocortisone 1% atau salep betametasone atau Salep Acyclovir 5% untuk menghilangkan bekas luka terbakar pada kulit yang terkena. Untuk mencegah alergi lebih lanjut anda dapat mengkonsumsi antistamin seperti CTM dan antibiotik neomycin sulfat. Untuk hal ini baiknya konsultasikan pada dokter.

Sebutan lokal untuk hewan ini macam-macam, ada yang menyebutnya “jungkit” karena ekornya bisa menjungkit, ada yang menyebutnya semut semai, semut kayap atau semut charlie karena sekilas bentuknya memang seperti semut. Tomcat sebenarnya bukan termasuk kelompok semut, tapi termasuk kelompok kumbang atau beetle, dan diluar dikenal dengan nama “beetle rove”. Nama latin hewan ini adalah Paederus dermatitis, atau P. riparia, P. littoralis, dsb termasuk kedalam ordo Coleoptera (kumbang-kumbangan) dan family Staphylinidae (“rove beetles”). Ada lebih kurang 600 species dari genus Paederus ini. Disebut “Tomcat” barangkali karena bentuk hewan ini mirip pesawat F-14 Tomcat yang ramping.

Serangga tomcat yang mampu memproduksi hemolymph toxin adalah yang betina, sementara yang jantan tidak mampu memproduksi sendiri dan hanya memperoleh dari induknya saat masih telur atau larva, dan akan jauh berkurang atau hilang seiring dengan pertumbuhan. Fakta yang menarik ternyata tidak semua betina tomcat dapat memproduksi toksin ini, ada yang tidak mampu memproduksinya, jadi ada semacam polimorfisme secara genetik dalam hal kemampuan memproduksi senyawa racun tersebut. Selain itu diduga bahwa toksin yang dimiliki oleh serangga ini sebenarnya tidak diproduksi sendiri, tetapi dihasilkan oleh bakteri sejenis Pseudomonas yang bersimbiosis didalam tubuhnya.

Informasi lebih lanjut tentang ini silakan refer ke situs berikut

http://en.wikipedia.org/wiki/Paederus
http://id.wikipedia.org/wiki/Serangga_Tomcat
http://www.health.nsw.gov.au/factsheets/environmental/rove_beetles.html
*sumber gbr: http://www.ces.csiro.au/aicn/name_c/a_4652.htm

Maret 2012
S S R K J S M
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Klik tertinggi

  • Tidak ada

RSS Feed yang Tidak Diketahui

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

twitter

%d blogger menyukai ini: