You are currently browsing the category archive for the ‘Renungan’ category.


Kasus wanita cantik, karyawan sebuah Bank Asing yang beroperasi di Indonesia yang menilep uang nasabahnya puluhan milyar rupiah mengingatkan kita tentang betapa manusia, jika mengikuti hawa nafsunya, tak akan pernah puas untuk mengejar kenikmatan hidup di dunia yang fana ini. Bayangkan, sebetulnya apa yang kurang, wanita itu sudah dikaruniai dengan kecantikan, bergaji Rp 70 juta per bulan dengan tambahan bonus Rp 250 juta setiap 3 bulan. Bayangkan ! dengan gaji dan bonusnya itu saja rata-rata dia sudah mendapat paling tidak Rp 150 jutaan per bulan. Luar biasa ! Dengan take home pay sebanyak itu, dia mestinya sudah bisa membeli apa saja, termasuk mobil yang harganya milyaran, bila dia sedikit menabung saja.

Nyatanya, wanita itu masih merasa tidak cukup dengan uang sebanyak itu. Dia dengan leluasa dan dengan tangan dingin, menilep uang nasabah Bank tempatnya bekerja dengan jumlah yang fantastik, puluhan milyar rupiah, bahkan ada yang menduga jumlah total yang ditilep wanita itu mencapai lebih dari 1 trilyun. Dahsyat ! Untuk apa uang sebanyak itu ? Dia membeli rumah mewah, beberapa mobil mewah yang harganya milyaran dengan merk ferrari dan mercedes, dan tentu dia bisa membeli semua kenikmatan apa saja yang dikehendakinya, mau pergi kemana saja yang dia suka dia bisa.

Sepandai-pandai tupai meloncat akhirnya jatuh juga. Kejahatan wanita cantik itu akhirnya terungkap, dan kini dia harus meringkuk di penjara.


Alkisah, dahulu kala ada seorang penjahat yang telah membunuh 99 orang. Luar biasa. Hingga pada titik tersebut, si penjahat ini rupanya baru merasa bersalah dan ingin bertaubat. Masalahnya, apakah Tuhan akan mengampuni dosa-dosanya yang telah membunuh begitu banyak manusia ? Maka, datanglah ia kepada seorang pendeta, menyampaikan pengakuan dosanya dan bertanya apakah Tuhan masih akan memaafkannya, dan bagaimanakah caranya bertobat ? Sang pendeta, dengan gemetar menjawab bahwa kejahatan yang telah dilakukan oleh orang tersebut sungguh luar biasa, sehingga Tuhan pasti tidak akan sudi mengampuninya. Mendengar pernyataan sang pendeta, si penjahat merasa kesal, lalu dibunuhnya pulalah si pendeta itu, sehingga genaplah 100 orang telah dibunuhnya.

Dalam perjalanan, si pembunuh ini bertemu dengan seorang yang shaleh dan bijak. Ketika pertanyaan yang sama diajukan oleh si pembunuh, orang ini menyarankan si pembunuh untuk pergi ke suatu tempat yang cukup jauh, ditempat tersebut berkumpul orang-orang baik yang bisa membantu mengkondisikan sipembunuh ini untuk menjadi manusia yang baik. Si pembunuh ini mengikuti saran orang tersebut, dan berangkatlah ia ke tempat yang ditunjukkan itu. Dalam perjalanan menuju tempat yang dia harapkan dapat mengubah dia menjadi orang baik, ajal menjemputnya. Kematian si pembunuh ini yang dalam perjalanan menuju tempat orang-orang  baik menimbulkan perdebatan antara dua Malaikat, yang satu mengatakan bahwa orang itu harus dimasukkan sebagai orang jahat, sementara malaikat yang satunya lagi mengatakan bahwa orang itu layak dimasukkan kedalam golongan orang-orang baik, karena dia sudah menunjukkan keinginan kuat untuk bertobat, hanya saja dalam perjalanan ajal telah menjemputnya.  Untuk memutuskannya, mereka sepakat mengukur jarak dari lokasi kematian orang itu, apakah lebih dekat ke tempat dia berasal yang banyak orang-orang jahatnya, atau ke tempat yang akan dia tuju yang banyak aorang-orang baiknya. Dengan rahmat dan kasih sayang-Nya, Tuhan memendekkan jarak lokasi kematian orang tersebut ke tempat yang rencananya akan dia tuju, sehingga si pembunuh itu masuk kedalam kelompok orang-orang yang baik. Cerita tersebut dapat dibaca dalam Riyadusshalihin, kunmpulan haduts-hadits Rasulullah saw.

The message of the strory: Pertama, selama hayat masih dikandung badan, selalu ada kesempatan untuk bertaubat kepada Allah Swt atas segala dosa yang telah kita lakukan, sebesar apapun dosa-dosa tersebut.  Sungguh merupakan akhir yang baik bagi si pembunuh bahwa ajal menjemput ketika dia telah berniat untukbertaubat dan telah berusaha ke arah itu dengan berjalan menuju kampung orang-orang shaleh. Punya niat dan berupaya untuk berubah menjadi lebih baik saja sudah dihitung sebagai sebuah kebaikan. Kedua, untuk mengubah diri kita menjadi lebih baik kita harus berada dalam lingkungan orang-orang yang baik. Ini merupakan prinsip penting untuk perubahan sikap,perilaku, cara berpikir dan kebiasaan seseorang yanga memang benar-benar ingin berubah meninggalkan kebiasaan lamanya yang buruk.

Alan Deutschman, dalam bukunya “Change or die” (2008)*,  menyimpulkan ada tiga kunci untuk berubah, yakni kunci 3 R: Relate, Repeat dan Reframe.  Relate artinya menjalin hubungan emosional yang baru dengan seseorang atau sebuah komunitas yang dapat memberikan inspirasi dan mempertahankan harapan. Dalam kasus si pembunuh itu, dia bertemu dengan seorang shaleh di jalan yang memberinya arahan benar bagaimana caranya kalau dia ingin berubah, yakni dia harus berpindah ke tempat yang penuh dengan orang-orang baik.  Ketika dia telah berada dalam lingkungan orang-orang baik dan berinteraksi intensif dengan mereka,  hubungan emosional akan terjalin dan akan lebih mampu membuat orang tersebut bertahan pada niat perubahannya, tidak kembali ke kebiasaan semula.  R yang kedua yakni Repeat (mengulangi), maknanya hubungan yang baru membantu seseorang untuk belajar, berlatih dan menguasai kebiasaan-kebiasaan serta keterampilan-keterampilan baru yang diperlukan. R yang ketiga yakni Reframe (membingkai kembali), maknanya bahwa hubungan yang baru dengan orang-orang baik membantu seseorang untuk belajar mengubah cara atau kerangka berpikir sehingga dapat memahami dan mengikuti pola hidup yang sebelumnya asing atau tidak masuk akal.

—–

*) Deutschman, A. 2008. Change or Die. Penerbit Salamadani. Bandung.


Bulan syawal, sebagaimana juga bulan oktober sudah memasuki hari ke 13. masih ada waktu 17 hari untuk memilih pada hari-hari mana kita akan menjalankan shaum 6 hari di bulan syawal ini, jangan sampai terlambat. Mungkin juga sudah banyak yang menyelesikan shaum sunnah syawal-nya, dan bahkan sudah memulai dengan shaum senin-kamis atau shaum Daud-nya di bulan syawal ini. Alhamdulillah, selalu ada orang-orang shaleh di dunia ini yang selalu siap melakukan amalan-amalan shaleh, sebagaiman yang dicontohkan Rasulullah saw.

Mengapa shaum sunah di bulan syawal 6 hari ? Saya pernah baca uraian syeikh Yusuf Qardhaw (YQ)i disebuah bukunya (kumpulan khutbah), beliau menyitir hadits Rasululah yang bermakna lk bahwa barangsiapa yang mengikuiti shaum Ramadhan dengan shaum 6 hari bulan syawal, seolah orang tersebut telah menjalankan shaum satu TAHUN lamanya. Syeikh YQ mengatakan bahwa itu berarti 1 hari shaum diganjar dengan “seolah” 10 hari nilai shaum-nya, sehingga total 36 hari shaum (30 shaum ramadhan + 6 shaum syawal) diganjar Allah dengan pahala seolah kita menjalankan shaum selama 360 hari alias setahun !

Jadi, ayo… tunggu apa lagi ?


Tidak ada momen yang paling baik bagi seorang muslim untuk mendekatkan diri kepada Allah swt selain di bulan Ramadhan. Dengan berpuasa di bulan ini, kita menegasikan hal-hal duniawi untuk meraih kenikmatan ukhrawi, kenikmatan dalam berhubungan secara spiritual dengan Allah Swt. Berpuasa menjadi syarat sekaligus wasilah dalam proses mendekatkan diri kita kepada Allah Swt. Berpuasa itu sendiri menjadi pemicu awal dari muncul dan berkembangnya begitu banyak amalan kebaikan dalam keseharian kita. Berpuasa menjadi sebuah syarat mutlak ketika seorang hamba ingin mendekatkan diri kepada Rabb-nya.

Dengan menahan diri dari hawa nafsu dalam pemenuhan kebutuhan biologis (makan, minum, hubungan seksual) di siang hari kita akan memiliki kemampuan mengontrol diri dengan baik. Pengontrolan diri ini sangat penting dalam rangka kita mengendalikan hawa nafsu sendiri. Begitu banyak manusia terjerembab di lembah kehinaan lantaran tidak mampu menahan hawa nafsunya sendiri, sehingga dia melakukan kemaksiatan. Dengan berpuasa kita membebaskan diri kita sendiri dari kendali hawa nafsu. Bahkan dengan berpuasa, kita mendudukkan diri kita untuk mengendalikan hawa nafsu tersebut.

Ketika kita berpuasa, tubuh dan diri kita, secara fisik dan spiritual menjadi bersih dari pengaruh atau tarikan duniawi. Saat itulah menjadi momen yang tepat bagi kita untuk menggapai tali yang mendekatkan diri kita kepada Allah swt. Dalam keseharian manusia, hal-hal yang duniawi itulah yang sesungguhnya seringkali menjadi penghalang atau penghambat terjadinya komunikasi yang baik antara manusia dengan Khaliq-nya. Maka ketika hal-hal yang duniawi itu kita jauhi, jiwa kita menjadi lebih jernih untuk berkomunikasi dengan Allah Swt.

Jika diibaratkan dengan gelombang radio atau TV, kondisi cuaca yang berawan, hujan, udara yang tercemar oleh berbagai zat pencemar, menjadi penghalangnya dari jernih nya siaran radio atau TV tersebut tertangkap di radio atau TV kita, sehingga suara dan atau gambar jadi banyak noise-nya. Pada kondisi udara yang cerah, tidak berawan, bebas polusi, gelombang radio atau TV akan jernih tertangkap di receiver kita. Begitulah kondisi di bulan Ramadhan ini, jika diibaratkan seperti kondisi udara yang jernih, tenang, bebas awan, jauh dari gangguan petir atau halilintar (syetan), sehingga pada bulan ini “receiver” yang ada di hati kita lebih mudah menangkap sinyal hidayah atau petunjuk dari Allah Swt.

Berada dalam kondisi yang kondusif seperti itu, akan sangat disayangkan kalau kita tidak berbuat apa-apa, atau hanya berbuat apa adanya dan tidak maksimal, untuk meningkatkan hubungan kita dengan Allah Swt.
karena itulah menjadi sangat penting bagi kita untuk berbuat amal shaleh: shaum di siang hari, diikuti dengan tilawah Qur’an dia siang dan malam hari, qiyamullail, zakat-shadaqah-infaq, berbuat baik terhadap sesama seperti memberi makan orang yang berpuasa (pada saat berbuka), dan amalan shaleh lainnya.

Karena di bulan Ramadhan kedekatan hubungan kita dengan Allah swt mencapai puncaknya, maka seharusnyalah bila momen tersebut digunakan oleh setiap muslim untuk banyak-banyak berdo’a kepada Allah Swt agar do’anya itu diijabah Allah. Karena itulah tampaknya, diantara ayat-ayat yang mensyariatkan berpuasa di bulan Ramadhan, Allah Swt menyelipkan satu ayat tentang do’a: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendo’a apabila ia berdo’a kepada-Ku (Q.S. 2: 186).


Anda mesti pernah merasakan sakit kan, siapa sih yang tidak pernah sakit sepanjang hidupnya ? Hewan unta di gurun pasir aja yang terkenal tangguh mesti juga pernah sakit.  Tingkat keparahan sakit kita bisa bervariasi, dari flu yang hanya beberapa hari, walaupun kadang flu bisa berlangsung beberapa pekan, sakit gigi, diare, maag, tifus, DB, hingga yang mungkin bisa dikategorikan parah dan butuh perawatan selama beberapa bulan. Saya alhamdulillah belum pernah dirawat dalam waktu yang lama, pernah sih dirawat beberapa hari di RS ketika terkena infeksi saluran pencernaan dan atau diare. Anggota keluarga saya, terutama anak-anak juga pernah dirawat karena DB. Anak saya yang ketiga pernah terkena stephen johnson syndrome, cukup parah, selama dua pekan di RS. Alhamdulillah saya dan keluarga diberi kesembuhan oleh Allah Swt. Allah yang menurunkan penyakit, Allah yang memberi penyembuhan. Baca entri selengkapnya »


Senja terakhir 1428 H telah turun dari langit biru,

Menutup cerita tentang dirimu ditahun lalu,

Tengoklah kekanan dan kekiri

berapa berat catatan amalmu yang ditulis Rakib,

berapa tebal yang ditulis Atid

Kerap engkau begumam “ah… begitu cepat waktu berlalu”

Tinggal sepengalan senja hari, dan setahunpun genap berlalu

sementara kau belum berbuat banyak amal kebaikan

dan kau berguman: begitu banyak cita-cita, angan-angan, keinginan,

harapan  yang  belum terpenuhi, 

dan janji-janji yang belum tertunaikan.

Umat inipun masih tenggelam dalam alam mimpi

tidur yang panjang hampir seabad lamanya

sebentar lagi bukan hanya tahun yang berganti,

tetapi seabad hampir pasti

ketika simbol kejayaan umat runtuh ditangan kedzaliman

lalu berlalu masa yang panjang dan umat ini dalam kehinaan,

Wahai saudaraku, bangun dan bangkitlah

Sambut lembaran baru dengan sebuah kesadaran

Dengan ‘izzatul Islam yang membuncah didada

Berbekal iman dan ketaqwaan, ilmu dan amal nyata.

Hadapi dengan tegak cakrawala yang menantang

Fajar kemenangan pasti kan datang

Saat Islam jadi rahmat bagi semesta alam.

1 Muharram 1429 H.


Setelah dilantik menjadi khalifah menggantikan peran nabi Muhammad saw sebagai pimpinan umat, keesokan paginya Abu Bakar As-Shiddieq RA ditemukan masyarakat menggelar dagangan di pasar. Umat pun heboh, gimana ini kok pemimpin kita berdagang di pasar ? bagaimana dia akan mengatur negara ? Ketika hal tersebut ditanyakan kepada Abu Bakar RA, mengapa beliau yang sudah dilantik jadi Khalifah masih menggelar dagangan di pasar, jawabannya adalah karena ia harus mencari penghidupan untuk keluarganya.

Menjadi khalifah memang pekerjaan yang baru ada dalam sejarah umat Islam saat itu, dan aturan penggajian ataupun pemberian honor belum ada. Melihat itu beberapa pemuka masyarakat berunding lalu mengusulkan agar Khalifah diberikan gaji yang diambil dari Baitul Maal, sehingga Abu Bakar RA tidak perlu berdagang dan dapat berkonsentrasi sebagai seorang Khalifah. Untuk menetapkan jumlah uang atau kebutuhan dasar yang harus diberikan, mereka menyerahkan kepada Abu Bakar RA. berapa keperluan keluarganya. Abu Bakar RA menyetuji, dan bersama isterinya menghitung kebutuhan keluarga mereka setiap bulannya, dan itu bukanlah hal yang rumit bagi seorang Abu Bakar yang bersahaja, sehingga keluarlah angka yang diambil dari kebutuhan dasar keluarga mereka, dan itu adalah sebuah angka subsisten, yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok mereka. Angka itu disetujui, dan jadilah Abu Bakar sebagai Khalifah dengan gaji dibayarkan dari dana Baitul Maal atau kas negara.

Setelah berlangsung beberapa lama, sekali waktu Abu Bakar RA disuguhi makanan kue-kue oleh isterinya, dan hal ini ini bukan merupakan sebuah kebiasaan di keluarga beliau. Abu Bakar pun lalu bertanya kepada isterinya, darimana terigu yang digunakan untuk membuat makanan tersebut. Isteri beliau menjawab bahwa terigu itu merupakan kelebihan dari jatah yang diberikan setiap bulan dari Baitul Maal. Mendengar itu wajah Abu Bakar memerah, dan saat itu juga Abu Bakar RA menyatakan bahwa bulan depan gajinya harus dipotong sebanyak kelebihan terigu yang diperolehnya setiap bulan, karena ia merasa itu bukan haknya atau hak keluarganya. Haknya adalah hanya untuk kebutuhan dasar saja…

Rekan, itu sekelumit kisah bagaimana seorang sekaliber Abu Bakar AsShidiq RA ketika diberi amanah menjadi pimpinan, ia tidak menuntut gaji yang berlebih, ia hanya mau menerima gaji sekedar cukup untuk kebutuhan pokok keluarganya saja. Ia seorang yang tidak merasa dengan jabatannya lalu menjadi sarana atau kesempatan untuk memperkaya dirinya dan keluarganya. Ia tidak ingin berbeda dengan masyarakatnya, bahkan dengan mereka yang berada pada strata ekonomi terbawah sekalipun. Sungguh, kita sangat merindukan pemimpin dengan kualitas Abu Bakar RA tersebut .

Mei 2021
S S R K J S M
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Klik tertinggi

  • Tidak ada

RSS Feed yang Tidak Diketahui

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

twitter

%d blogger menyukai ini: