You are currently browsing the monthly archive for Desember 2008.


Diantara banyak lagu-lagu yang diajarkan ibu ketika saya kecil dulu adalah lagu “satu-satu aku sayang ibu”. Lagu itu sangat sederhana baik nada maupun syairnya sehingga sangat mudah dihafal anak-anak. Secara makna lagu itu juga benar adanya, bahwa yang harus kita sayangi terlebih dahulu adalah ibu, lalu ayah dan pada urutan berikutnya barulah saudara kita. Ini mengingatkan kita juga pada hadis Rasulullah  yang mengajarkan kita untuk lebih memperhatikan, mengasihi dan berbakti pada ibu dengan disebutnya “ibumu” tiga kali ketika seseorang bertanya kepada siapa seseorang harus mengabdikan dirinya (setelah kepada Allah Swt), setelah itu  baru disebut: “ayahmu”. 

 

Ibulah yang dengan susah payah telah mengandung kita selama 9 bulan, lalu kita dilahirkan dengan perjuangan antara hidup-mati, sehingga Rasul mengatakan bila seorang ibu meninggal saat melahirkan anaknya, dia termasuk sebagai syahid. Setelah itu ibu menyusui kita selama lebih kurang dua tahun, untuk memberikan asupan yang terbaik bagi pertumbuhan kita melalui ASI-nya, sebelum kita disapih. Adalah ibu yang mengurus kita dengan kasih sayang, dari  memandikan dan membersihkan kita, memberi makan, menjaga kesehatan, mengajarkan agama dan etika, mengajarkan membaca AlQur’an, mengajarkan cara shalat, membaca dan menulis, berbicara, berjalan, berperilaku yang sopan, menyanyikan lagu-lagu yang menyenangkan hati. Andaipun ibu kita tidak memberikan itu semua karena satu dan lain hal, ibu kita tetap wanita mulia yang telah banyak berjasa pada kita.

 

Beberapa diantara kita mungkin masih beruntung, masih bisa mencium tangan, mencium pipi dan memeluk ibunya. Itu sebuah keberuntungan yang harus kita manfaatkan untuk mencari pahala sebanyak-banyaknya dengan berbakti kepada ibu kita dimasa tuanya, untuk mencari surga ditelapak kakinya, sebagaimana sabda Rasul “Aljannatu tahta aqddaamil ummahaati”. Namun banyak juga diantara kita yang mungkin ibunya telah berpulang ke rahmatullah, sehingga mereka tidak lagi bisa memeluk hangat ibunya. Kendati begitu, kita masih dapat memanjatkan do’a baginya, karena melalui do’a anak yang shaleh, masih terbuka jalan bagi ibu kita untuk menambah kebaikan baginya di alam kubur sana. Kalau ia masih meninggalkan hutang, baik ibadah maupun mu’amalah, kewajiban kitalah sebagai ahli warisnya untuk segera menyelesaikannya, agar ia tenang di alam sana.

 

Mengingat ibu kita disaat seusai shalat, atau saat malam hening ketika bermunajat kepada Allah swt, baik ibu kita masih hidup ataupun sudah kembali keharibaan-Nya, merupakan salah satu bakti dan amal shaleh kita kepada ibu tercinta. “Rabbighfirli waliwalidayya warhamhuma kamaa Robbayaani shagiira”. Ya Allah, ampunilah hambamu ini, juga ampuni kedua orang tuaku yang telah mengasihiku sewaktu aku masih kecil.      


piyanut1                         

I’ve just received a picture from Piyanut (Thailand) which showed Endah, Ratna, Ilemobayo and myself in the front,  a Japanese friend and an Australian lady in the back. The picture was taken nicely by our friend Piyanut from Thailand in a lecture room where an APGC symposium was taking place. The date was 10 december 2008 . I think that was during the last session of the symposium.  That is a very clear photograph, very different from the pghotograph I uploaded previously. Thank you Piyanut !


 

albani

XHAMI dalam bahasa Albania pasti maksudnya  “Jamie” atau “Masjid Jamie” yakni masjid yang digunakan untuk shalat jum’at, tapi  SHQIPTARE  apakah berarti “Masjid” ? rasanya akar katanya rada tidak nyambung.  Dari sebuah blog saya mengetahui bahwa orang Albania menyebut tanah mereka sebagai “Shqiperia” yang artinya “land of the eagle”, dan mereka menyebut diri mereka “shqiptare” yang artinya “Sons of the eagle”. jadi XHAMI SHQIPTARE artinya adalah “Masjidnya orang Albania”.

Ini adalah Albanian Mosque di Melbourne yang kami singgahi untuk shalat dzuhur, kamis 11 desember lalu.  Masjid ini sepertinya didirikan tahun 1969, berdasarkan angka yang tertulis dibawah “Albanian Mosque”. Bagian eksteriornya tampaknya sangat simple, minimalis, sebetulnya interiornya juga tidak banyak ornamen, tetapi sangat rapi, nyaman. Yang jelas, masjid ini telah mengalami renovasi sejak didirikan empat puluh tahun lalu itu.  Tempat wudhunya melingkar juga sangat rapih dan nyaman digunakan.

albani2

Berdiri dibawah menara masjid Albania ini, dengan pendaran sinar matahari yang melatar belakangi menara, melahirkan sebuah sensasi sendiri:  akankah cahaya Islam akan terus berpendar,  menyeruak menyinari benua Australia ?


 

ratna2

The last session in APGC symposium was a final discussion where participants can propose topics for the next APGC meeting.  The above photo, although poor in quality as the light was not enough, nevertheless showed Ratna, Ilemobayo and myself sitting in the symposium.


Ros Gleadow’s presentation with the tittle “A multiscale analysis of resource allocation in cyanogenic plants in response to drought and elevated CO2” probably one the most interesting topic presented in APGC seminar this time. I think many participants agree with this as also mentioned by Malcolm J. Hawkesford in the final discussion. Gleadow started her presentation with the fact that cyanogenesis, a phenomenon where organism contains toxic HCN that can poison and kill predator who eat them or parts of their body,  is a widespread phenomena, can be found  from bacteria, insects to higher plants.

In their work, Gleadow et al. compared cyanogenic crops white clover (Trifolium repens), wheat (Sorghum bicolour) (or bicolor ?), and cassava (Manihot esculenta) with cyanogenic and non-cyanogenic Eucalyptus. Gleadow et al. found that in elevated CO2 -grownC3 crop plants there was a significant increase in the concentration of cyanogenic glycosides on a per mass basis in the leaves. From her presentation I noted that cyanide in leaves increased in highest emision scenario. Although there was no change in cyanogenic glycoside in cassava’s tubers, it was surpising when they found that there was a highly decrease in biomass in cassava. 

According to Gleadow,  cassava is a staple food for more than 750 million people in the world, especially those who live in sub-sahara desert of Africa. There has been Konzo epidemic in the area due to this HCN contained in cassaava, which paralyzed childrens. The increased of HCN concentration in the leaves of cassava when exposed to elevated CO2 is alarming to many Indonesians who like to eat cassava leaves for salad (lalab), especially the sundanese and padang tribes. We also have to prepare when the size of cassava tubers in the future will be much smaller and much lighter in weight than today’s cassava due to the increase of CO2  emission to the atmosphere.


For almost five days I have been in Creswick, a small city about 135 km nothern side Melbourne,  joining an APGC symposium. APGC stand for Air Pollution and Global Change. The symposium itself was effectively only three days i.e. 8-10 December 2008. This year, the symposium took a theme “Plant funtioning in a changing environment”. There were about 78 registered participants who came from different parts of the the word. It was rather a small gathering of scientists, but as many participants feel, we like it because with that rather  small number of participants, a more friendly environment was created, this hardly happened if the symposium was attended by hundreds participants.

The symposium was organized very well, efficiently and efectively by Michael Tausz as a Chairman of the organizing committee. He offcouse helped by a team such as Luit J. de Kok from Netherland as a secretary, and some other plant scientists.

During three  days symposium I’ve learnt a lot, especially in the subjects  of interaction between plant functioning and the atmosphere, climate change and mitigation of global change factors. Several prominent  speakers have delivered excellent and important talks on the subjects. I will discuss this more detail in another post.  

For this time I would like to express my gratitude to  Michael Tausz and all the organizing committe, for giving me the opportunity to present my paper in the symposium, for their excellent work in organizing the event, and their hospitality. I also would like to thank  friends whom I met and talked a lot during the symposium’s break, and here are some of them:

-Liangmin Wang, a nice Chinese senior man who hardly find himself hungry for food. I hope you’ll increase the apetite to your foods. 

-Ilemobayo Oguntimehin, a Nigerian who is going to  finish his PhD in Hiroshima University Japan. Good luck for your viva and final presentation of your thesis. My advice, don’t wear your hat during the viva.  

– P. Ratna Kumar, an Indian gentleman who once get headache for not been able to sleep, Hopefuly after the symposium you will be able to sleep well. Come on Ratna, it was only few days you left your family…

– Piyanut Khanema, a Thai girl who is going to get married soon. Good luck for you.          

– Muhammad Shahbaz, a Pakistani who also finishing his PhD in University of Groningen, Netherland. Don’t do a lot of studies friend, since you have to deliver your knowledge to others too. 

– Stanislaw Cieslik, a senior scientist, a kind of multinational person I guess, but has been staying in Italy for more than 20 years. Don’t eat too much pasta Sir !

–  Hideyuki Shimizu, a senior scientist from Japan. I am waiting for your visit to Bandung Sir. Arigato !

 – Saman Sanaweera, a Srilankan scientist who has been long time work in Australia. Great work Saman !

– Malcolm J. Hawkesford, an English senior scientist. Thank you for having nice discussion during breakfast times.

– Katri Kostiainen of Finland who travelled more than 30 hours to Melbourne. Have a nice journey to Tasmania and back home. I believe you will have good research funds for the years to come. Now if that happen, don’t forget me ya, share with me a little bit 🙂 

– Ineke Stulen, who has just retired from University of Groningen.   

and many others, especially my collegue from Indonesia: Endah Sulistyawati …, it’s wonderfull to meet you all, thank you for your kindness and have a pleasant and safe journey home. Hopefully we can meet again in the next symposium. Where and when will that be Michael ?


For students in my TKI (Teknik Komunikasi Ilmiah), please visit my other blog at http://taufikurahmanitb.ac,id for my advice on preparing slides for academic presentation. Thank you.


Kamis 4 Desember lalu saya berangkat ke Melbourne, Australia untuk mengikuti dan mempresentasikan paper saya di APGC (Air Pollution and Global Change) Simposium yang kali ini mengambil tema “Plant Functioning in a Changing Environment”.  Simposiumnya sendiri berlangsung dari tanggal 7-11 Desember 2008. Penyelenggara simposium APGC kali ini adalah Departement of Forest and Ecosystem Science, Melbourne School of Land and Environment, University of Melbourne yang berlokasi di sebuah kota kecil Creswick. Kota ini terletak disebelah utara Melbourne, berjarak sekitar 135 km dari Melbourne, atau sekitar 2 jam dg mobil/bis.

Simposium ini kalau tidak salah sudah yang ketujuh kali diselenggarakan oleh sekelompok ilmuwan Plant eco-physiologists. Terakhir mereka mengadakan di Jepang dua tahun lalu. Sebelumnya mereka telah menyelanggarakanya di UK, USA, dan beberapa tempat lainnya. Karena disebutnya simposium, bukan conference, pesertanya tidak banyak, sekitar 70an, dari target mereka sekitar 90an. Kendati tidak banyak pesertanya, tetapi simposium ini menurut saya istimewa karena dihadiri oleh ilmuwan dari berbagai negara: USA, UK, Australia, Jepang, Korea selatan, Jerman, Belanda, Kanada, Finlandia, Swedia, Austria, India, Pakistan, Italia, Perancis, Belgia, Thailand, Nigeria, Cina, Taiwan, tentu saja Indonesia (yang diwakili oleh saya dan seorang kolega dari SITH) dan mungkin negara lain yang saya terlewat. Karena tidak banyak pesertanya dan bersifat sederhana, simposium ini menjadi terasa sangat friendly. Saat istirahat sambil menikmati makan siang, snack dan makan makan kami banyak bertukar pikiran tentang berbagai hal, dari soal keilmuan, politik, ekonomi,keluarga, dll. Dengan rekan-rekan dari negara-negara berkembang, termasuk  Jepang kami bahkan banyak bergurau dan tertawa.

Saya mendapat banyak pelajaran penting tentang penelitian-penelitian mutakhir yang dilakukan para peserta dalam bidang ekofisiologi tumbuhan sebagai respons dari pencemaran udara dan perubahan global. Hari pertama tadi jatah topik interaksi antara pemungsian tumbuhan (plant functioning) dengan atmosfer (interaction between plant functioning and the atmosphere). Saya mendapat kesempatan untuk presentasi di hari pertama ini dengan judul paper “Ecophysiological responses of lichen Physcia sp to sulfur dioxide polluted air”. Paper ini hasil kerja bersama dengan M. Muhsin (dosen UNHALU, Palangkaraya) yang telah melakukan penelitian S2-nya dibawah bimbingan saya.

 Hari kedua besok topiknya adalah “interaction between plant functioning and climate change”, dan hari ketiga “Plant functioning and mitigation of global change factors”.

Desember 2008
S S R K J S M
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Klik tertinggi

  • Tidak ada

RSS Feed yang Tidak Diketahui

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

twitter

%d blogger menyukai ini: