Ada lebih kurang 40 pasar tradisional di kota Bandung, dari Simpang Dago, Cihaurgeulis, Cikutra, Cicadas, Ujung Berung dsb. Pasar-pasar tersebut beroperasi dari pagi/dini hari, bahkan beberapa sudah mulai ramai sejak jam 10 malam, seperti pasar Ciroyom, hingga sekitar jam 5 sore. Perjuangan para pedagang di pasar tradisional menurut saya sangat luar biasa, mereka rela tidak tidur malam hari untuk mendapatkan sesuap nasi. Para pembelinya juga banyak, sehingga pasar tradional umumnya ramai oleh penjual dan pembeli, dari ibu-ibu, anak-anak hingga nenek-nenek dan kakek-kakek.

 

Kehadiran pasar tradisional tersebut sebenarnya sangat penting bagi perekonomian warga Bandung, namun sayangnya sejauh ini mereka tampaknya kurang mendapatkan perhatian yang layak dari pemerintah kota Bandung ! Mereka tidak mendapatkan fasilitas yang layak untuk berjualan. Karena kurang perhatian dan penataan, pasar tradisional di Bandung menjadi identik dengan kekumuhun, becek, bau, kotor, jorok. Kalaupun kemudian didirikan bangunan oleh developer atas izin pemda, para pedagang tidak dilibatkan, tidak ditanya apa keinginan mereka, dan kemudian diharuskan membeli atau menyewa dengan harga yang tak terjangkau kantong mereka. Selain itu mereka biasanya ditempatkan di bagian bawah atau basement gedung yang sumpek, gelap, kurang oksigen… oh malang benar nasib para pedagang di pasar tradisional kota Bandung.

 

Jelas, kebijakan pemkot Bandung saat ini tidak berpihak kepada perbaikan nasib para pedagang di pasar tradional tersebut, tetapi lebih berpihak kepada para pemilik modal besar untuk membuat supermarket-supermarket, mall-mall yang malah mematikan potensi pasar tradisional warga Bandung sendiri. Kota Bandung sangat tertinggal dalam penataan pasar tradional. Coba belajar misalnya dari bagaimana pemkot Solo mengelola pasar Klewer yang tertata dengan rapih. Apalagi kalau dibandingkan dengan pasar tradisional di Singapura, Malaysia yan bersih dan tertata rapih. Saya pernah jalan-jalan di pasar tradisional di dekat Kuala Lumpur yang berlangsung hingga jam 9 malam, rapih, bersih, nyaman, tidak becyek dan tidak bau… 

 

Herannya, bukankah pak Walikota dan para wakil rakyat di DPRD sudah sering melakukan kunjungan dinas ke berbagai kota di dalam dan luar negeri, sehingga msetinya mereka-mereka yang terhormat itu memiliki wawasan yang lebih luas dan dapat memilih apa yang terbaik untuk kota Bandung. Sayangnya sejauh ini apa yang ditiru dari kebaikan-kebaikan dari kota-kota di luar Bandung itu ? Kayaknya gak ada deh… yang mau ditiru malah PLTSa yang sebenarnya bisa menyengsarakan kondisi lingkungan dan warga kota Bandung sendiri.

Bandung jelas membutuhkan Pemimpin baru yang lebih memperhatikan nasib rakyat kecil, yang banyak perekonomiannya berputar di pasar tradisional ! Sudah saatnya Bandung dibebaskan dari pemimpin yang hanya dikelilingi, dibisiki dan dipengaruhi oleh para pengusaha yang hanya berniat menarik keuntungan sebesar-besarnya dari warga Bandung, dengan tidak memperhatikan, malah cenderung mematikan penghidupan rakyat kecil. Tentu tidak semua pengusaha bermental seperti itu, insyaAllah masih banyak pengusaha yang baik-baik yang memang memiliki niat tulus ikhlas untuk memajukan Bandung dan bukan sekedar mengeruk keuntungan untuk diri sendiri saja. Bandung juga perlu banyak kontribusi para pengusaha berhati mulia seperti itu, untuk bersama dengan pemimpin baru kota Bandung nanti membangun Bandung yang benar-benar bermartabat (bukan cuma slogan kosong saja), yang mengangkat derajat, martabat dan kesejahteraan warga Bandung.