You are currently browsing the monthly archive for Maret 2009.


Jum’at kemaren saya ikutan jum’atan  di masjid dekat jl. mangga. Saya terheran-heran, khatibnya mengkritik fatwa MUI tentang golput, seakan fatwa tersebut dibuat sama sekali tanpa landasan agama, padahal jelas bahwa fatwa MUI tersebut merupakan hasil keputusan dari berkumpulnya para ulama dan organisasi keagamaan di negeri ini, jadi itu bukan fatwa main-main ! Lebih lanjut saya mendapat kesan bahwa khatib mengarahkan audiens bahwa menjadi golput itu merupakan pilihan yang wajar saja.

Yang lebih membuat saya geleng kepala adalah alasan yang dikemukakan khatib tersebut: kalau golput diharamkan, maka anak-anak akil baligh yg belum berhak memilih akan berdosa karena tidak memilih, begitu juga anggota TNI yang tidak boleh milih akan berdosa dan karena itu masuk neraka. Saya tidak habis pikir… dalil yang seperti itu kok dikemukakan di forum khutbah Jum’at yang mulia. Siapapun tahu, fatwa MUI itu hanya mengenai mereka yang punya hak pilih, bukan mereka yang tidak mempunyai hak pilih secara hukum ! Jelas sang khatib, saya gak tahu siapa namanya karena agak telat datang, menurut saya telah memprovokasi umat agar menjadi golput.

Selain itu, dari diskusi dengan beberapa rekan semalam, saya mendapat informasi bahwa  ternyata upaya seperti ini dilakukan dibeberapa tempat dengan menggunakan forum pengajian ibu-ibu. Ada seorang ibu yang sebetulnya dia bukan pembicara tetapi memaksa untuk berbicara dan dia bicara  menantang fatwa golput dan menganjurkan ibu-ibu yang lain agar golput. Teman saya di Bekasi  bilang bahkan disana ada yang menyebarkan issu bahwa kalau saat pemilu nanti umat Islam ikutan memilih, itu menunjukkan jahil murokab, artinya: goblok abis. Walah nekat benar tuduhannya ! Tuduhan yang seperti itu layaknya berbalik buat si penuduh itu sendiri. 

Saya curiga bahwa upaya cukup gencar menentang fatwa MUI tentang golput ini, yang disampaikan oleh kelompok tertentu di forum pengajian bahkan khutbah jum’at,  kendati dibungkus dengan dalil-dalil agama, sebenarnya merupakan sebuah konspirasi yang dilakukan  oleh mereka yang menginginkan suara partai-partai Islam atau yang berbasis umat Islam dalam pemilu yang akan datang jeblok ! Jelas hal tersebut juga menunjukkan bahwa mereka tidak suka dengan munculnya umat Islam berperan dalam pemerintahan. Mereka telah menjadi corong pihak-pihak yang tidak menginginkan umat Islam memiliki kiprah politik yang lebih baik di negeri ini dimasa yang akan datang. Mereka sangat boleh jadi dibiayai oleh pihak luar yang menginginkan hancurnya sendi-sendi politik umat Islam di negeri ini, di negeri yang mayoritas penduduknya adalah umat Islam. Pola seperti itu biasa dilakukan oleh kolonialis dulu seperti Snouck Horgronje yang menggunakan dalil-dalil AlQur’an dan Hadits untuk melemahkan jihad umat Islam di Aceh. Inggris juga pernah mengunakannya di India dengan mendukung munculnya sebuah aliran yang mengesampingkan semangat jihad umat Islam.

Wahai umat Islam di Indonesia, waspadalah dan jangan dengarkan ocehan para provokator itu, kendati mereka menggunakan dalil-dalil dari AlQur’an dan hadits. Jika mereka bukan orang “jahil murokab”, mereka tidak lain adalah kaki tangan alias cucunguk kolonialis yang anti Islam, yang memperbodoh umat Islam, dan tampaknya senang serta mendapat banyak keuntungan bila umat Islam bodoh dan buta, terutama dalam hal politik . Mereka senang bila yang berkuasa terus di negeri ini adalah orang-orang yang jauh komitmennya dari nilai-nilai Islam, yang akan menguras habis harta kekayaan tanah air ini untuk kepentingan sendiri atau golongan/kelompok mereka, bukan untuk kepentingan rakyat, apalagi umat Islam. Cukuplah sudah pembodohan terhadap umat ini, enough is enough !


Senin besok tanggal merah lagi,  libur peringatan maulid nabi besar Muhammad saw.  Saya hanya merasa bahwa di negara kita begitu banyak hari libur dengan basis peringatan agama. Pertanyaannya, apakah untuk memperingati maulid nabi, isra mi’raj nabi memang harus libur ?

Hari raya dalam Islam sebenarnya cuma dua yakni Idul fitri dan Idul Adha, selebihnya tentu bukan hari raya, tapi hari memperingati peristiwa yang diangap penting dalam sejarah Islam: kelahiran nabi, isra mi’raj nabi, hijrahnya nabi.  Selama hidup baginda Rasulullah saw, setahu saya, ketiga hal tersebut tidak pernah secara spesifik diperingati oleh nabi dan para sahabat.

Alkisah, peringatan maulid nabi dimulai oleh Salahuddin Al Ayubi,  salah seorang panglima besar Islam yang telah membebaskan Paletina dari tangan Romawi. Maksud peringatan maulid oleh Salahudin adalah untuk memberikan semangat pada pasukannya yang akan bertempur.

Kembali ke pertanyaan diawal, apakah untuk memperingati hal tersebut, kita perlu meliburkan diri dari kerja kita ?

Pertanyaan yang sama juga berlaku untuk peringatan atau perayaan persitiwa agama yang lain. Dalam agama Kristen misalnya, bukankah yang paling dianggap penting bagi mereka adalah hari natal atau kelahiran Isa Almasih (Jesus), sehingga itu dijadikan sebagai hari raya.  tetapi mengapa kemudian hari diangkatnya dan wafat Jesus kita harus libur juga ?  Demikian juga halnya dengan agama Hindu, Budha.

My point is, kita tetap dapat memperingati dengan baik berbagai peristiwa dalam sejarah agama kita tanpa harus meliburkan diri dari kerja.

Maret 2009
S S R K J S M
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Klik tertinggi

  • Tidak ada

RSS Feed yang Tidak Diketahui

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

twitter

%d blogger menyukai ini: