You are currently browsing the monthly archive for Juni 2008.


Saya lahir di Bekasi, Jawa Barat, 13 September 1961. Bapak saya H.A. Zaini Arief memang asli keturunan Bekasi. Saya memanggil beliau “Apa” , sebagaimana anak-anak di budaya sunda menyebut bapaknya. Ibu saya Hj. Neneng Maryam, asli dari Karawarang. Saudara-saudara dari pihak Apa (yakni Uwa, mang, bibi  dan sepupu-sepupu saya) umumnya tinggal di Bekasi, sedang saudara dari pihak ibu umumnya tinggal di Karawang.  

Nama panggilan saya di keluarga: “Pipik”, adik-adik saya menyebut saya “Aa Pipik”,  “Aa” adalah sebutan lazim di budaya sunda untuk kakak.  Beberapa teman  memanggil saya dengan panggilan “Opik”.   Saya anak tertua dari lima bersaudara, adik-adik saya: Cecep Fathurahman (sekarang guru di SMPN2 Bekasi dan kepala SMA Al Wathoniyah milik ibu), Tuti Fauziah (mengurus TK dan MI AlWathoniyah), Iis Mulyati (guru Madrasah Aliyah), dan Iin Zaenal Muttaqien (pegawai Pemda Kota Bekasi).

Sekolah SD sd SMA saya jalani di Bekasi bersama orang tua tentunya dan empat orang adik saya. Kami lima bersaudara, saya yang tertua. Sewaktu SD, selain sekolah di SD pada pagi hari (SDN Teladan Bekasi Pasar), siangnya saya juga sekolah di madrasah ibtidai’yah (Al Fatah, Tugu, Bekasi). Lulus dari SD, saya melanjutkan ke SMPN Bekasi, waktu itu satu-satunya SMP Negeri di Bekasi (sekarang jadi SMPN I). Lulus dari SMP saya melanjutkan ke SMAN Bekasi, yang saat itu juga satu-satunya SMA Negeri di Bekasi, sekarang namanya jadi SMA Negeri I Bekasi.

Ketika kecil saya dengan teman-teman di kampung menghabiskan siang hari sepulang sekolah dan madrasah dengan bermain ke sawah, mandi/berenang di sungai, main perang-perangan dengan pedang, main dompu dengan batu, main temprak, kelereng, gasing, petak umpet, dan sore harinya ngaji di surau. Ketika kelas 4 SD saya pernah juara 2 di musabaqoh tilawatil qur’an di SD saya. Seingat saya itulah lomba yang pertama kali saya ikuti dan saya dapat hadiah ! Saya juga pernah menjadi juara 1 lomba baca puisi/sajak madrasah2 ibtida’iyah se Bekasi (dalam rangka peringatan maulid nabi). Di SMP kelas 3 saya pernah menjadi juara 1 lomba menulis karangan memperingati hari Kartini. hadiahnya sebuah pulpen tinta cair. Sayang pulpen tersebut sekali waktu direbut seorang preman di pasar ketika saya pulang sekolah 😦  

Ketika di SMA, saya pernah menjadi juara 1 lomba pidato, juara 2 musabaqoh tilawatil Qur’an dan juara 3 lomba azan se SMA… borongan 🙂 Di SMA awalnya saya aktif sebagai seksi rohani OSIS, juga aktif di Pramuka sebagai penegak. Saya juga terpilih menjadi ketua OSIS. Saya pernah mewakili Bekasi dalam ajang pelajar teladan Jawa Barat, sayangnya cuma dapat urutan ke lima, tapi luamayan lah dapat hadiah dan beasiswa dari PR dan Bumi Putera, jumlahnya tidak ingat berapa… yang jelas dari hadiah itu salah satunya saya membeli jam tangan otomatis yang terus mendampingi saya bahkan sampai saya menyelesaikan S3 di Inggris. Jam itu terus setia mendampingi saya 🙂  saat ini jam itu juga masih saya simpan sebagai kenangan (dan masih jalan lagi…).

    


ini cerita tentang anak saya yang keempat: Shafa Inayah, yang sekarang sudah naik ke kelas V SD. Suatu ketika, saat dia masih kecil dulu, beberapa kali kami mendengar dia menyanyi tapi dengan ucapan yang kurang jelas …. terdengarnya seperti “ibu latifah… ibu latifah…” anehnya, rasanya tidak ada lagu tentang “ibu latifah”… Selidik punya selidik dari nadanya, ternyata Shafa sebenarnya tengah menyanyikan lagunya Tasya “Libur tlah tiba” tapi didengarnya dan dilagukannya sebagai “ibu latifah… ibu latifah… hore !”. Sampai sekarang kalau dia diingatkan dengan kejadian itu, dia mesti malu dan memukul saya… 🙂


Silakan click http://taufikurahman.com dan anda akan masuk ke website saya terkait dengan pencalonan saya sebagai Walikota Bandung 2008-2013.


Berkenaan dengan rencana pencalonan saya dalam pilkada Bandung 2008 yang akan datang, rabu 11 Juni 2008 kemarin saya telah menyampaikan pernyataan meletakan jabatan negara kepada Rektor ITB. Surat penyataan tersebut ditandatangani diatas meterai dan diketahui/ditandatangani pula oleh Wakil Rektor Senior pak Prof.Dr. Carmadi Machbub. Hal tersebut merupakan persyaratan yang diminta peraturan bagi PNS yang akan maju dalam pertarungan pilkada. Mohon do’a restu anda semua, terima kasih.


Memprihatinkan ! satu kata singkat itu menggambarkan kondisi pasar-pasar tradisional umumnya di kota Bandung. Secara fisik kondisi pasar-pasar tradisional di kota Bandung: kumuh, kotor, becek, sumpek, tumplek ke jalan  hingga memacetkan lalulintas. Kendati demikian setiap pagi pasar-pasar tradisional ini dibanjiri pembeli, umumnya ibu-ibu, yang tinggal disekitarnya.

Selama bertahun-tahun boleh dibilang tidak ada renovasi pasar tradisonal yang berarti di kota Bandung. Kalaupun ada, program renovasi, revitalisasi yang ditawarkan oleh Pemerintah kota Bandung selama ini tampaknya tidak tepat sasaran. Konsep yang ditawarkan pemkot selama ini dengan revitalisasi pasar adalah dengan mengundang investor yang membangun gedung tinggi: mall dan pedagang tradisional yang telah berdagang selama puluhan tahun cuma disediakan ruangan di basement yang juga sumpek, pengap, tidak menarik, beberapa sangat dekat dengan tempat parkir mobil sehingga mudah terpolusi asap kendaraan bermotor. Yang lebih parah lagi adalah mereka kemudian diharuskan membayar sejumlah uang yang diluar kemampuan mereka. Pemilik mall itu mematok bervariasi, dari Rp 11 juta per meter persegi hingga Rp 25 juta per meter persegi ! Dan dengan naiknya harga-harga saat ini , kemungkinan harganyapun akan semakin meningkat ! Wah itu khan harga yang kelewat mahal untuk para pedagang tradisional yang usahanya tergolong usaha kecil-kecilan saja.

Kasus yang  terjadi di pasar Cicadas barangkali menggambarkan salah satu saja yang sudah terjadi dan mungkin akan terjadi lagi pada pasar tradisional lainnya di kota Bandung bila pola kebijakan Pemkotnya tidak berubah. Di Cicadas, para pedagang ini telah terusir dari tempatnya semula berdagang selama puluhan tahun, diatas bekas lahan pasar tersebut sekarang telah berdiri sebuah mall yang megah. Para pedagang yang tersingkir ini umumnya tidak mampu membeli atau menyewa kios yang berada di basement gedung yang harganya mencapai Rp 11 juta per meter persegi ! Akhirnya mereka menyewa lahan bekas supermarket (super bazaar) yang lokasinya berdekatan dengan mall baru tesebut, dan mereka kelola sendiri pasar tradisonal mereka ! Itupun dengan perasaan was-was dan khawatir kalau nanti mereka harus tergusur lagi, lalu harus berdagang dimana ?

Kasus pasar Cicadas adalah salah satu kasus saja dari sekian banyak kasus yang terjadi dalam program revitalisasi pasar di kota Bandung selama ini. Pasar Kosambi adalah contoh lainnya yang tidak berhasil. Kondisi basement pasar kosambi yang disediakan bagi para pedagang di pasar tradisional ini sebenarnya kurang layak dari sudut kebersihan, kesehatan lingkungan, kerapihan dll. Akhirnya banyak pedagang yang menggelar dagangannya diluar pasar, jadi kaki lima.

Kalau saya jadi Walikota Bandung, saya akan memberikan perhatian dan keberpihakan yang jelas kepada para pedagang di pasar-pasar tradisional, dengan memberikan kepada mereka fasilitas pasar yang layak dengan harga yang terjangkau, dengan subsidi yang signifikan dari Pemerintah. Saya tidak akan mengubah pasar-pasar tradisional yang ada saat ini menjadi gedung-gedung mall yang tinggi menjulang, tetapi akan menata pasar-pasar tradisional tersebut dengan lebih baik dengan melibatkan para  pedagang di pasar tradisonal tersebut sebagai stake holder utama. Revitalisasi pasar tradisional tidak boleh diartikan mengubahnya menjadi mall, cukup bangunan satu atau dua lantai yang tertata rapih, cukup sinar matahari dan udara segar masuk kedalam pasar, dengan fasilitas seperti ruangan penyimpanan dingin (cold storage room), galeri dan pertunjukan seni, pokoknya orang harus nyaman berjualan dan berbelanja didalamnya, dan dikelola dengan sistem manajemen yang profesional. Pasar tersebut harus menjadi daya tarik kota Bandung yang menjajakan bukan hanya beras, daging, sayuran, dan buah-buahan, tetapi juga menjadi tempat wisata kuliner khas Bandung dan orang bisa mencari produk-produk kreatif berupa kerajinan tangan dll yang dihasilkan oleh warga Bandung sambil berekreasi dan menikmati karya-karya seni dan kriya warga Bandung yang luar biasa. How about that ?

Juni 2008
S S R K J S M
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Klik tertinggi

  • Tidak ada

RSS Feed yang Tidak Diketahui

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

twitter

%d blogger menyukai ini: