You are currently browsing the monthly archive for Mei 2011.


Saat-saat seperti ini, sesudah pengumuman kelulusan di SMA dan undangan masuk ke PT sudah diterima oleh calon -calon mahasiswa yang beruntung, saya jadi teringat kembali 31 tahun lalu, di tahun 1980 saat saya baru saja lulus SMA dan melalui Perintis II saya diterima di ITB. Perintis II itu jalur undangan masuk ke perguruan tanpa testing masuk, yang pakai testing dulu Perintis I. Saat itu melalui Perintis II ITB dan UI hanya menerima untuk jalur FMIPA, sedang IPB bisa untuk semua jurusan. Tentu saja saya senang sekali bisa diterima di ITB dan tidak perlu repot-repot menyiapkan diri untuk beli formulir Perintis I dan testing.
Baca entri selengkapnya »



Dahulu ketika listrik belum masuk desa, bila malam menjelang, jalan-jalan di desa hanya diterangi oleh obor atau lampu cempor yang diletakkan penduduk didepan rumahnya, untuk menerangi pekarangan rumah sekaligus membantu menerangi jalan. Sekarang ketika listrik sudah masuk desa, tapi lampu merkuri untuk penerangan jalan umum belum terpasang, penduduk menerangi pekarangan dan jalan didepan rumahnya dengan lampu neon atau bohlam dengan aliran dari rumahnya. Cahaya yang dipendarkan oleh lampu itu lumayan untuk membantu pengguna jalan di malam hari untuk melihat kondisi jalan. Memberi cahaya disekitar rumah dengan lampu itu merupakan sedekah, karena itu membantu orang yang lewat dimalam hari.


Saat ini kita berada dalam peradaban benda-benda. Perhatikan rumah kita, benda-benda boleh jadi tersusun rapih di rak-rak atau boleh jadi berserakan. Benda-benda itu buatan manusia: ada benda-benda furnitur: kursi, lemari, miswar, divan, karpet, rak kayu dsb. Ada benda-benda elektronik seperti: TV, radio, komputer, laptop, kamera, printer, hand phone, jam tangan dsb. Selain itu ada benda-benda keperluan dapur, dari kompor, kulkas, panci, penggorengan, coet, piring, sendok, gelas, dsb. Kita juga memiliki pakaian yang disimpan dalam lemari, sepatu-sepatu dan sandal-sandal aneka model yang disusun di rak-rak sepatu. Untuk keperluan sekolah dan upaya menambah iilmu, kita juga punya buku-buku untuk dibaca, atau kita sudah merasa senang ketika buku itu sudah kita miliki walaupun belum sempat dibaca. Untuk keperluan transportasi kita membeli mobil, motor dan sepeda. Fungsi sepeda bagi sebagian kita barangkali hanya sebagai alat olah raga, walaupun sudah mulai trend gerakan “Bike to Work”. Semakin banyak anggota keluarga yang ada di rumah tersebut, semakin banyak benda-benda yang terdapat didalamnya.


by Taura Taufikurahman on Thursday, May 12, 2011 at 12:49pm

Bagi sebagian ustadz, menjadi khatib shalat jum’at bisa memberikan stres sendiri, ada yang kalau jadwalnya tiba, mendadak mengalami perut mules, sering harus sering buang air kecil, sampai gelisah hingga saatnya tiba. Belum lagi kalau lokasi masjidnya relatif jauh, ditambah dengan kemacetan lalu lintas, untuk mengejar waktu, apakah naik mobil sendiri atau bawa motor sering keringat dingin keluar, khawatir telat.

Seorang teman pernah bercerita, sekali waktu dia harus menjadi khatib shalat jum’at di masjid yang letaknya cukup jauh. Dengan motor honda bebek yang sudah tua teman ini ngebut untuk sampai di masjid tepat waktu, dengan berkelak-kelok diantara mobil-mobil, akhirnya sampai juga di masjid yang dituju “just on time” .

Sesampainya di masjid, sang ustadz disambut dengan senyum lega DKM yang juga mulai terlihat panik, karena saat adzan sudah masuk. “mangga ustz, sudah masuk waktunya” kata sang DKM sambil mempersilakan khatib masuk melalui mihrab dan naik mimbar. Maka, naik mimbarlah sang khatib, dengan mengucapkan salam kepada hadirin yang sudah memadati masjid. Ketika salam itu, sang khatib kita ini heran, kenapa para jama’ah tidak menjawab salamnya dengan benar malah banyak yang telihat tersenyum2 kearah khatib kita ini…

Pak DKM yang duduk didepan membisiki Ustadz kalau helm-nya masih bertengger di kepala beliau. Ups !

Barangkali ada baiknya di mihrab setiap masjid disediakan cermin agar khatib dapat melihat penampilannya terlebih dahulu sebelum naik mimbar….


by Taura Taufikurahman on Saturday, May 21, 2011 at 10:42pm

“Ustadz, tolonglah selamatkan saya” pinta akhawat itu memelas diujung telpon. Sang Ustadz termangu sejenak lalu menjawab sambil keningnya berkerut “ya insyaAllah nanti akan saya coba carikan”. Diujung telpon itu seorang akhwat menelpon sang Ustadz, meminta dicarikan calon suami seorang ikhwan segera, karena jika tidak maka dalam beberapa hari ini dia akan dipinang oleh seorang pilihan orang tuanya.

Sang ustadz kemudian mengingat-ingat siapa diantara mad’u-nya yang masih bujangan dan kira-kira siap untuk menikah segera. Setelah berpikir dan memilih-milih, akhirnya sang Ustdz-pun menelpon seorang ikhwan untuk datang menemuinya sekarang juga. Ketika sang ikhwan itu datang, sang ustdz tanpa panjang lebar langsung meminta kesiapan mad’u-nya itu untuk menikah dalam beberapa hari ini dengan seorang akhwat yang telah dipilih. Tanpa berpikir panjang, dan sama sekali belum mengenal nama dan wajah akhwat yang akan dijodohkan dengan nya, ikhwan ini menyatakan “siap ustadz”.

Maka di sore itu sang ustadz dengan mad’unya datang ke rumah orang tua akhawat itu untuk meminang sang akhwat, padahal rencananya malam harinya akan datang lelaki lain yang juga akan melamar sang akhwat tersebut. Orang tua akhwat ini setelah menimbang-nimbang dengan seksama, akhirnya menerima lamaran ikhwan ini dengan syarat tentu saja nanti harus ada mahar pada saat pernikahan, yang waktunya ditentukan hanya beberapa hari lagi.

Sepulang dari khitbah (lamaran) tersebut, ikhwan inipun sibuk meminjam ke sanak saudara dan tetangga untuk membeli mas kawinnya. Maka pada hari yang telah ditentukan, dilangsungkanlah pernikahan itu secara sederhana, maka jadilah kemudian mereka pasangan suami-isteri yang bahagia. Pasangan ini selanjutnya dikaruniai banyak anak yang shaleh dan shalehah dan limpahan rizki yang cukup dari Allah SWT.

—- cerita dari seorang Ustdz, mengenang sang akhwat (ustadzah) yang telah berpulang keharibaan Khaliq-nya, diiringi do’a: “Allahumaghfirlaha warhamha wa’afiha wa’fu anha”.


Waktu itu saya masih kelas 1 SMA di satu-satunya SMA yang ada di Bekasi saat itu. SMA kami belum punya masjid, jadi kalau jum’atan, sebuah kelas disulap menjadi masjid.

Kakak kelas yang menjadi seksi rohani OSIS mengajak saya untuk membantu beliau. Diantara yang diminta adalah saya dijadwal kebagian menjadi mu’adzin. Persisnya saya lupa apakah itu jum’atan pertama dimana saya bertugas sebagai muadzin atau sudah yang keberapa kali. Saat itu yang menjadi khatib adalah guru Agama kami tercinta. Ceritanya, setelah khatib naik mimbar, saya pun berdiri untuk azan… so far so good-lah.

Nah, setelah azan itu dan khatib mulai berkhutbah, saya rupanya terserang kantuk beurat… lalu tertidur. Tentu saya tidak ingat sudah berapa lama saya tertidur ketika tiba-tiba lamat-lamat saya mendengar sepertinya khutbah telah selesai, maka sebagai muadzin yang sigap sayapun yang tadinya tertidur segera bangkit dan langsung qomat “Allahu akbar-Allahuakbar, asyhadu anlaa ilaha illallah….” … tapi belum selesai saya qomat, khatib memberi isyarat dengan tangannya, dan saya lihat orang-orang memandang saya seperti makhluk aneh. Ya Salam… saya baru menyadari rupanya itu baru khutbah pertama… teman2, para guru tentu melihat saya dengan heran, ada yang mendelik, ada yang senyum-senyum (karena kalau ketawa batal shalatnya…). Aduh malunya saya saat itu, qomat belum selesai sayapun harus duduk dengan lemas. Setelah itu tentu saya tidak bisa tertidur lagi, dan harus melotot sampai khutbah selesai lalu bangkit lagi untuk qomat.

Usai jum’atan, para jama’ah ramai membicarakan kekeliruan saya, dan tentu saja muka dan telinga saya merah, tetapi kakak kelas yang menjadi seksi rohani mendekati saya malah senyum dan nepuk pundak saya sambil bilang: “Lain kali kalau bertugas jadi muadzin jangan tertidur ya” katanya “ya kak, mohon maaf kak” kataku dengan tenggorokan seperti tercekat…


“Olahraga apa yang anda lakukan?”
“berapa kali dalam sepekan?”
Itu dua pertanyaan, selain pertanyaan lainnya tentang tinggi dan berat badan, apakah pernah operasi sebelumnya dst, yang tertera pada lembar isian di dokter yang memeriksa general check-up untuk kesehatan saya. Jawaban saya tentang olah raga itu: renang dan bersepeda.

Hasil general check-up nya ternyata merekomendasikan saya untuk lebih sering lagi ber-olahraga. Jadi olahraga yang saya lakukan sementara ini belum cukup intensif rupanya. Saya akui berenang itu rutinnya cuma sekali sepekan, kadang-kadang saja 2-3 kali sepekan. Bersepeda? Ini lebih jarang lagi, terakhir beberapa kali saya mengajak anak bersepeda di “car free day” dago.

Di kantor sebetulnya ada meja pingpong, tapi itu tadi saya hanya main sekali-sekali saja. pernah juga saya bawa raket badminton dan tepak-tepakan didepan kantor saat sore hari usai jam kerja, tapi seingat saya itu baru sekali-sekalinya, dan sekarang raket badmintonnya saya bawa pulang lagi.

Nah, dengan rekomendasi dari dokter untuk lebih sering lagi olahraga mestinya semakin memacu saya untuk giat berolahraga terutama di akhir pekan seperti ini. Jadi…. ayo olahraga !


Ini komentar2 di fb saya (taura taufikurahman)

Anay Gethih Zubair and Yeny Wahyuni like this.

>A Salam Taufik DR Biologi yang tahu, tanyakan saja kepadanya

>Agah Garnadi He he he kang Opik di tanya si Muh yang lagi ngerjain PR.
Nggak bisa jawab sabab bukan ahli lauk, kecuali kalau sudah dipepes …

>Taura Taufikurahman ‎
@AST: tp saya mah bukan ahli per-laukan da…
@Agah: apakah mata ikan yg dipepes terpejam ? hayoo yg suka pepes..

>Agah Garnadi Karena sudah jadi pepes, sudah nggak ketahuan apakah tadinya si ikan memejamkan matanya atau molotot. Yang penting enak …

>Taura Taufikurahman hehe…

>A Salam Taufik Kalau ingin lebih jelas, tanya ikang Fauzi, jangan ikang mas, ikang muzair atau ikang yang lain!

>Azira Kanakanccinyo inget lagu waktu msh kecil….. oh ikan ku mengapa matamu terbuka selalu…kapankah bobo mu….

>Lestari Herbudiyanto sekali2 berkedip boleh kali?? he..he..he….ada kelopaknya ga ya??

>Nugrahani Pudyo Kayaknya enggak deh… ! Kalo diem sebentar (gak gerak) saat tidur itu mungkin tapi kayaknya ikan gak perlu memejamkan mata saat tidur.

>Utik Pratomo Ikan dikolamku g pernah merem mas, melek mulu….g pg, siang, malem berenang mulu sambil brantem ma sobat2nya…..bener!

>Risma Chaerunnisa kalo ga salah ga pak..

>Azira Kanakanccinyo iya..ya,mata ikan slalu terbuka,dan bibirnya slalu tersenyum…. kagak ada ikan yg monyong?!..xixixi.. kalau ikannya ngedip,yg miara cantik kali ya…..xixixi

>Taura Taufikurahman ikan tidak punya kelopak mata (eyelid) tampaknya. Kelopak mata utk memejam ini diperlukan manusia untuk selalu mambasahi mata saat terpejam. Karena hidup di air, maka ikan tidak perlu memejam utk membasahi matanya. Kalau kelilipan bgmn? Kan setiap saat kena air jadi langsung dibersihkan lg, kecuali kalau airnya semuanya kotor.

>Taura Taufikurahman ikan juga tampaknya tidak tidur, hanya istirahat saja…


kenapa ya orang sering salah menuliskan kata ini: “mengubah” kok malah jadi “merubah”, di lirik lagu, esei, bahkan SK, padahal kata “merubah” berarti “berubah menjadi rubah alias serigala”… apakah disekitar kita banyak wolfman/werewolf ?

Mei 2011
S S R K J S M
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Klik tertinggi

  • Tidak ada

RSS Feed yang Tidak Diketahui

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

twitter

%d blogger menyukai ini: