Ahad pagi tadi saya diundang temen-teman yang tergabung dalam KOMPOS (Komunitas Masyarakat Peduli Olah Sampah) Bandung, membuat pelatihan pengomposan di daerah Binong. Untuk ketempat acara masuk gang-gang kecil dari pasar Binong, untungnya saya pake motor, jadi bisa masuk hingga ke depan lokasi acara.  Sesampainya ditempat acara, acaranya sudah dimulai oleh teman saya yang menerangkan tentang prinsip-prinsip pengomposan sampah organik. Yang mengikuti pelatihan ibu-ibu rumah tangga dan bapak-bapak, termasuk pak RW di daerah tersebut. Begitu sampai ruangan dan duduk bersila, seorang peserta bapak-bapak mendekati dan menjabat tangan saya: “Taufik… saya …. nih…” agak kurang jelas nama yang dia sebut, kemudian diulang: “Nana” … oalah rupanya teman saya satu angkatan di TPB 80 dulu, Nana Sutresna namanya.  Seingat saya dia memang pernah bilang rumahnya di daerah Binong, tapi sungguh tidak menyangka kalau ditempat tersebut bakalan ketemu teman lama.

 

Kembali ke soal pelatihan pengomposan sampah ini, ibu-ibu dan bapak-bapak yang hadir tampaknya sangat antusias. setelah teman saya selesai bicara, panitia mempersilakan saya barang 20 menit bicara. Saya berbicara tentang pentingnya mengolah sampah organik menjadi kompos dengan beberapa alasan, pertama secara ekologis langkah tersebut paling benar… hehe mudah-mudahan ibu-ibu tersebut pada ngerti maksudnya. Saya bilang tanah yang subur semakin susah didapat sekarang, kalau ibu dan bapak beli tanah lembang, kualitasnya tidak sebaik dulu lagi. Saya ceritakan bahwa saya pernah beli beberapa karung tanah lembang, dan isinya ternyata tanah merah yang tidak berhumus, dan bahkan membuat tanaman dalam pot saya sekarat. Karena itu mengolah sampah organik menjadi kompos merupakan langkah yang paling bijak. Sampah organik tidak untuk dibakar ! Karena dengan pembakaran itu akan menghilangkan potensi humus dan kompos yang sesungguhnya dapat meningkatkan kualitas tanah disekitar kita. Selain itu pembakaran akan mengeluarkan  asap yang tidak menyehatkan bagi udara sekitar. Pembakaran juga akan membutuhkan minyak tanah yang cukup banyak, karena limbah organik biasanya basah atau kandungan airnya relatif tinggi sehingga perlu minyak tanah yang cukup banyak untuk membakarnya.

 

Dengan dihasilkannya kompos, kita dapat menggunakan kompos tersebut untuk memperbaiki kualitas tanah di pekarang kita untuk bertanam bunga, tanaman obat-obatan tradisional atau hortikultur. Pengomposan sampah dilakukan dengan menggunakan wadah semacam drum kecil dari plastik yang telah dilubangi untuk aerasi dan pada bagian bawahnya diberi semacam pintu kecil untuk mengeluarkan produk kompos yang telah matang. Untuk mempercepat proses pengomposan, perlu diberikan starter bakteri yang sudah banyak dijual dengan nama macam-macam, diantaranya Simba, EM4 dll.  Saya sampaikan juga bahwa ibu-ibu bisa menanam padi di polybag dengan medium tanah campur kompos tersebut. Dengan luasan 1 x 1 meter persegi, kita bisa memanen lebih kurang 10 kg beras. Hal ini tentu akan bermanafaat untuk meningkatkan ketahanan pangan warga Bandung, terutama menghadapi kemungkinan krisis pangan dan energi dimasa depan.

 

Pada kesempatan tersebut rekan-rekan dari KOMPOS memberi sumbangan drum plastik yang sudah didesain khusus untuk pengomposan, plus sebotol cairan berisi bakteri sebagai starter pengomposan.  Jika ada rekan-rekan di Bandung yang berminat untuk diberi pelatihan oleh tim kOMPOS, silakan koordinasikan dengan warga setempat, dan hubungi kami, insyaAllah dengan senang hati tim kami akan datang . Bila ada yang berminat jadi voluntir KOMPOS, kami tentu akan sangat senang.  

 

Selesai acara. saya menyempatkan mampir ke rumah teman lama saya itu, dan pulangnya anak saya yang bontot, umur 7 tahun, yang kebetulan saya ajak jalan-jalan, sangat senang karena teman saya itu memberi tiga buah mainan yang sangat dia suka, mobil-mobilan dan motor-motoran :)