Tahun 1980 saya masuk ITB melalui jalur Perintis II, tanpa testing, semacam PMDK yang masih dilakukan IPB (rasanya) hingga saat ini. Saat itu yang masuk ITB melalui jalur tersebut hanya boleh masuk FMIPA minus Farmasi, that’s ok for me, sebab saya ingin masuk Biologi. Setelah TPB ditahun pertama dan kemudian penjurusan, saya mantap memilih Biologi sebagai pilihan studi saya, ini karena sejak SMA saya tertarik dengan issue lingkungan yang saat itu mulai ramai dibicarakan di media.

Tahun pertama dan kedua di Bandung saya kost di daerah Lebak Gede yang sekarang sebagiannya sudah diubah menjadi Sabuga ITB. Tahun ketiga saya mendaftar masuk asrama mahasiswa ITB, dan diterima bersama sekitar 20 rekan lainnya masuk asrama Barrac (G). Asrama ini terkenal seniornya galak-galak, dan penghuninya paling banyak dibanding dengan asrama ITB lainnya (A,B,C,D,E,F,H). Tekanan menjadi yunior di asrama awalnya memang terasa berat, tetapi karena kami masuk rame-rame, kami bikin kekuatan sendiri dan jadi solid menghadapi senior, sehingga tekanan tidak begitu terasa lagi.  Dua tahun kemudian bahkan saya terpilih menjadi Ketua Dewan Senior Asrama Mahasiswa (DSAM) ITB. kegiatan DSAM yang paling signifikan adalah menyelenggarakan Pekan Olahraga Antar Asrama Mahasiswa (PORAM).  

Di Biologi saya juga aktif  menjadi salah seorang pengurus Himpunan Mahasiswa Nymphaea. Selain itu saya juga senang mengikuti kegiatan di Masjid Salman ITB, dari kuliah dhuha, ceramah ramadhan, dan mengikuti kegiatan Latihan Mujahid Da’wah (LMD). Setelah ikut LMD saya juga terlibat dalam kepanitiaan LMD berikutnya. Berada di masjid Salman terasa sangat nyaman, sejuk dan damai. Ceramah-ceramah yang diberikan oleh para penceramah sangat berkesan, apalagi kalau sudah mendengar ceramah Buya Hamka, luar biasa, air mata menetes diam-diam. Pada beberapa kegiatan Ramadhan di Salman, saya juga sempat membantu kepanitiaan dengan ikut memberi pengajaran baca AlQur’an, kebetulan sejak SMA saya pernah ikut beberapa kursus membaca AlQur’an untuk menjadi qori’ dan pernah ikut beberapa musabaqoh hingga tingkat kelurahan🙂

Sebetulnya menyenangkan menjadi mahasiswa, tetapi saya ingin cepat lulus agar  bisa cepat bekerja dan meringankan beban orang tua. Alhamdulillah saya menyelesaikan S1 dalam waktu empat setengah tahun pas, I coudn’t do better or faster than that. Selepas lulus beberapa waktu sempat bingung mau kerja dimana, sampai akhirnya saya dapat tawaran untuk melanjutkan studi ke S2 dengan beasiswa dari Pemerintah, dengan catatatan saya menjadi dosen di almamater saya. Saya pikir ini kesempatan emas, saya ingin studi lanjut dan ditawari jadi dosen lagi, alhamdulillah.