You are currently browsing the category archive for the ‘Environment’ category.


Pertanyaan diatas sebenarnya pernah terlontar beberapa tahun lalu ketika saya dan beberapa rekan menyusuri pantai di daerah NTT sepeti Kupang, Soe dan beberapa daeah lainnya. Beberapa pantai yang indah pemandangannya seperti dikuasai oleh perorangan, sehingga akses masuk orang umum ke pantai tersebut jadi susah. Kemarin, sambil berjalan-jalan di pantai Senggigi mataram-Lombok, NTB, saya jadi ingat kembali pertanyaan tersebut. Sekiling pantai Sengggi telah berdiri hotel-hotel (Sheraton, Sentosa dll, restaurant dan warung penduduk). kehadiran bangunan tersebut yang beberapa diantaranya tingginya beberapa lantai tentu saja menghalangi pemandangan dan akses umum dari jalan ke arah pantai tersebut. Pantai yang didepannya ada hotel Sheraton misalnya, seolah menjadi pantai milik Sheraton. Mereka yang tidak menginap di Sheraton tentunya akan merasa kurang leluasa bila berjalan-jalan dipantai didepan hotel tersebut.

Penataan di pantai Kuta Bali barangkali seingat saya agak lebih baik, karena ada jarak yang cukup reasonable antara hotel dengan pantai, tetapi ada juga ya yang masih berbatasan langsung dengan pantai. Saya tidak tahu apakah ada aturan berkenaan dengan jarak hotel dengan pantai. Idealnya menurut saya, pantai dan hotel atau restaurant harusnya dipisahkan oleh jalan raya, agar akses umum terhadap pantai tidak terganggu.


Tadi pagi saya menerima SK Gubernur Jawa Barat yang ditandatangani oleh Sekda Prov. Jabar, saya termasuk anggota dalam Kelompok Kerja Pengelolaan Ekosistem Mangrove Jawa Barat, pada bidang kajian. Herannya, SK tersebut tertanggal 17 Juni 2008, tapi he he.. saya baru terima sekarang: 15 September 2008, jadi SK tersebut perlu waktu hampir tiga bulan untuk berjalan dari kantor Sekda Jabar di Gedung Sate, jl, Diponegoro, ke Kampus ITB di jl. Ganesha, padahal kalau naik mobil saja mungkin cuma 5 menit ! Sebetulnya saya juga heran, SK tersbut mestinya sudah lama saya terima semenjak rapat di kantor Bappeda jl Ir.H.Juanda, sebelum Pilkada Gubernur Jabar waktu itu, mungkin sekitar 4-5 bulan yang lalu. Tapi ya sudahlah, mungkin katrena kesibukan pilkada Jabar waktu itu, gubernurnya baru sehingga SK mungkin baru sempat di tandatangani beberapa hari lalu, dengan tanggal mundur hehe… mungkin.

Yang penting adalah, saya diminta membantu pengkajian untuk pengelolaan ekosistem mangrove di Jawa Barat. Kondisi ekosistem mangrove di Jawa Barat saat ini sudah dalam taraf yang sangat memprihatinkan. Penyebab utamanya saya kira adalah tekanan kegiatan penduduk di daerah pantura (pantai utara) Jawa Barat. Kerusakan ekosistem mangrove di pantura, terutama akibat konversi lahan mangrove menjadi tambak. Parahnya, produksi tambak tersebut juga pada umumnya sudah sangat menurun, bahkan banyak yang sudah ditinggalkan oleh pemiliknya karena merugi terus. Kegiatan pertambakan yang terjadi memang jauh dari konsep sustainabililtas atau keberlanjutan. Keuntungan yang diperoleh petambak hanya pada awal saja, tetapi kemudian dalam perjalanan waktu terus menurun, tambak perlu banyak masukan pengelolaan, berbagai penyakit mulai menyerang udang dan ikan yang diperlihara.

Melalui kelompok kerja yang dibentuk, pemerintah provinsi Jawa Barat tampaknya mulai menyadari pentingnya memelihara atau lebih tepatnya lagi memperbaiki kondisi ekosistem mangrove di daerah Jawa Barat. Saya belum tahu lagi bagaimana kerja dari kelompok kerja pengelolaan ekosistem mangrove yang baru dibentuk ini, tapi saya kira kita dukung saja niat baik pemerintah ini. Jika ada diantara anda yang punya minat khusus dengan mangrove, punya hasil-hasil penelitiannya, terutama yang di Jawa Barat, mohon bisa di share dengan kami. Terima kasih.


Bulan Mei nanti,  kami merencanakan mengadakan pelatihan fitoremediasi untuk mengolah air limbah yang keluar dari pabrik dengan cara sederhana dan murah. Untuk pelatihan ini,  dikenakan biaya penyelenggaraan sebesar Rp 250.000,- Jika ada yang berminat silakan kontak saya via e-mail ke taufik@sith.itb.ac.id. Informasi lebih lanjut akan saya susulkan di blog ini atau di web SITH.


SITH ITB akan mengadakan Pelatihan manajemen kualitas air dalam budidaya perikanan, pada hari kamis dan jum’at 27-28 Maret 2008, bertempat di SITH, labtek XI, kampus ITB, jl. Ganseha 10 Bandung. Pelatihnya adalah Dr. Gede Suantika, Dr. Pingkan Aditiawati dan Dr. Dea Indriani. Pelatihan akan berlangsung dari jam 8 sd 17 sore setiap hari. Hari pertama akan diisi pemaparan, studi kasus dan diskusi. Hari kedua Demonstrasi dan uji coba skala lab. Peserta pelatihan tidak dikenakan biaya pendaftaran. Karena tempat terbatas, mohon yang berminat bisa kontak saya hari ini atau maksimal rabu 26 maret besok jam 16.00, via email ke taufik@sith.itb.ac.id. Terima kasih. 


Sejak lebih kurang setahun yang lalu, media di kota Bandung memberitakan kontroversi seputar rencana Walikota Bandung, Dada Rosada, untuk mendirikan sebuah Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa). Rencana tersebut tampaknya sudah merupakan harga mati bagi pak Wali kota, karena beliau tidak melihat adanya alternatif lain dalam pengelolaan sampah di kota Bandung.   PLTSa istilah yang misleading  Sebetulnya istilah PLTSa tersebut misleading, karena yang dimaksud sesungguhnya adalah sebuah insinerator pemusnah sampah yang hasil pembakarannya dikonversi menjadi tenaga uap untuk menggerakkan generator pembangkit listrik. Istilah umumnya yang digunakan diluar adalah Waste to Energy. Kekhawatiran terhadap dioksin  Kontroversi muncul karena banyak hal, diantaranya adalah bahwa para pakar lingkungan dan publik khawatir dengan dampak lingkungan yang mungkin akan ditimbulkan oleh PLTSa tersebut, dan yang sangat dikhawatirkan adalah gas beracun yang disebut dioksin. Dioksin biasanya terbentuk dari pembakaran yang tidak sempurna. Efek dioksin bagi manusia bisa fatal. Saat ini pengukuran dan monitoring dioksin sangat mahal dan susah dilakukan. Para pakar lingkungan dan publik meragukan tingkat safety dari PLTSa ini. Baca entri selengkapnya »


NUR SYAZREEN BTE ABDULLAH SIDIT // Februari 18, 2008 at 3:13 pm

Malaysia is a land of fascinating sights and attractions. Rich in colour and contrasts, her multi-faceted charm provides intriguing images that leave visitors to the country in awe. The natural warmth of Malaysia is legendary, wherever one goes, the friendliness and hospitality of the people would prove to be very special experience. Malaysia is a paradise. Its sun-drenched beaches, enchanting islands, diverse flora and fauna, forest retreats and magnificient mountains are among the best in the region.
One of the most famous island in Malaysia is Langkawi Island. Langkawi Island is the main island are richly blessed with a heritage of fabolous myths and legends. As a natural paradise, the island are perhaps unmatched anywhere alse in Southeast Asia. The rustic beauty of the island is in itself a compelling attraction.Nestled against a dramatic backdrop of mountains are ancient lakes and forests, waterfalls and beaches, all of which enhance the wonder that is Langkawi. Baca entri selengkapnya »

Penulis : Tan Pei Err  (peierr86@yahoo.com)

Terengganu – a coastal area where it was once famous with the beautiful sea creature, Turtle! This is a place where I’m born and grew up. I’m a sea-lover; I
started to fall in love with the ocean since the day I knew its existence. Terengganu used to be leatherback turtle (the largest of all living turtles) major nesting site, but due to many different kinds of reasons, including pollution which is the main factor lead to the drop in turtle landing on Terengganu beach. Besides that, extinction of leatherback turtle also goes by prevailing of turtle eggs
consumption and poor hatchery management. I remember, years ago I could see people selling turtle’s eggs everywhere in my hometown, how sad it was! Turtle, please come back… Baca entri selengkapnya »


tropical-fruits1.jpg

Come to any traditional market in Indonesia, you will find tropical fruits of various kinds, namely banana, rambutan (hairy fruits), dukuh, kokosan, sawo, jambu klutuk (syzigium), salak (snake fruit) etc. Some are all the year fruits,like banana, papaya and jambu klutuk. Some others like mangga (manggos), rambutan, durian, dukuh are seasonal.

There are also variations among each fruit species. There are several varieties of banana,namely pisang raja, pisang mas, pisang ambon, pisang tanduk, pisang batu, etc with various size and taste. Pisang tanduk (horn banana) probably one of the longest banana fruit, its form is like horn of a bull. Pisang tanduk is nice to be fried covered with flour, or to be made as kolak, which is a sweet and usually made during ramadhan, favourite for  breakfast menu at dawn time (maghrib).

For mangga there are mangga arum manis, probably one of the most popular variety of mangga, mangga golek (I rarely found this variety nowadays, not like when I was a child), mangga dermayu (mostly produced in Indramayu city), mangga kuweni which is nice for juice, mangga gedong, mangga gedong gincu, mangga madu (one of the most expensive mangga), mangga daging, etc. For several years I noticed that mangga usually plenty during ramadhan (fasting) month which around months of september to January. When it reaches its peak season, the price of mangga as low as Rp 3000 per kg, whereas at the beginning or end of its season it could reach Rp 7.000 per kg.

The price of the fruit actually could be made constant if the supply of the fruit to the market can be regulated. This could be made if there are canning processing industries where some harvested fruits can preserved in canned for later ( more than a year) consumption.    


aeroponic.jpg 

You may be familiar with hydroponic, but do you also familiar with

Aeroponic ?  While hydroponic means growing or cultivating plants in water culture, aeroponic means growing or cultivating them in the air. But how could plants grow in the air ? well… sure the plants need something to support them hanging in the air such as polystyrene.  The shoot was hold by polystyrene while its roots hanging beneath.  Polystyrene was placed on a container made from fibre glass  where there was water sprinkler that regularly spray nutrient water to plant roots. By that way the plants get their water and mineral which are necessry for plant growth.  In Amazing farm, Lembang, you can see rows of vegetables such as lettuce grown in aeroponic method in plastic made greenhouses. Before the plants were grown the seeds were germinated on wool that was made from batu apung. What amazed in this amazing farming is the fact that almost all materials including the wool, fibre glass container, and plant seeds were imported either from the netherland, taiwan or singapore. The vegetables produced by Amazing farm are sent mostly to Jakarta for supermarkets and hotels, surely  with good  price, since the vegetables are of good quality.           


rimg4565.jpg  

Eceng gondok (Eichornia crassipes (Mart.) Solm.) pertama kali diuraikan secara taksonomis oleh seorang naturalis Brazil, Karl FP Martius. Tumbuhan ini termasuk ke dalam kelas Monocotylodenae dan keluarga Pontederiaceae. Tumbuhan ini di Indonesia merupakan tumbuhan eksotik yakni didatangkan dari luar, jadi bukan tumbuhan asli (native) Indonesia. Menurut riwayat tanaman ini dibawa ke Indonesia dijaman Raffless sebagai gubernur jenderal, ditanam di kolam di kebun raya Bogor karena warna bunganya yang menarik. Kemudian tersebar ke sungai dekat Kebun Raya Bogor hingga selanjutnya berkembang biak dengan cepat di berbagai badan perairan. Yang sangat menonjol dari tanaman ini adalah perkembangbiakannya yang luar biasa cepatnya. Ia dapat berkembang biak secara vegetatif dengan stolon dan juga secara generatif dengan biji. Gangstad (1978) dalam bukunya Weed Control in River Basin Management mencatat bahwa tanaman air ini dapat berlipat dua dalam jangka waktu sepuluh hari, karena itu maka bila seratus tanaman dibiarkan di suatu perairan, dalam jangka waktu delapan bulan ia akan menutupi wilayah perairan seluas  1 km2 . 

Kemampuan perkembangbiakannya yang tinggi dan penyesuaian dirinya yang baik pada berbagai iklim membuat tanaman ini telah tersebar luas di dunia terutama di negara-negara tropis dan sub-tropis. Penanggulangan tanaman ini sangat sukar sehingga terus menerus menimbulkan problema-problema yang berhubungan dengan navigasi, kontrol banjir, agrikultur, irigasi dan drainase, nilai dari tanah, konservasi satwa liar, perikanan, suplai sumber air, kesehatan lingkungan dan lainnya sehingga pantaslah apabila tanaman ini digelari sebagai “Gulma (tanaman pengganggu) terburuk didunia” dan “Gulma dengan biaya pengelolaan jutaan dollar”. Baca entri selengkapnya »

Mei 2021
S S R K J S M
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Klik tertinggi

  • Tidak ada

RSS Feed yang Tidak Diketahui

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

twitter

%d blogger menyukai ini: