You are currently browsing the monthly archive for September 2008.


Selamat Iedul Fitri 1429 H

Taqobalallahu minna wa minkum

Mohon maaf lahir dan batin.

-dari Taufikurahman & keluarga


Text of President Bush’s speech on economic crisis

By The Associated Press Wed Sep 24, 9:59 PM ET

Text of President Bush’s speech Wednesday on the economic crisis and a financial rescue plan, as transcribed by CQ Transcriptions:

ADVERTISEMENT

BUSH: Good evening. This is an extraordinary period for America’s economy.

Over the past few weeks, many Americans have felt anxiety about their finances and their future. I understand their worry and their frustration.

We’ve seen triple-digit swings in the stock market. Major financial institutions have teetered on the edge of collapse, and some have failed. As uncertainty has grown, many banks have restricted lending, credit markets have frozen, and families and businesses have found it harder to borrow money.

We’re in the midst of a serious financial crisis, and the federal government is responding with decisive action.

We boosted confidence in money market mutual funds and acted to prevent major investors from intentionally driving down stocks for their own personal gain.

Most importantly, my administration is working with Congress to address the root cause behind much of the instability in our markets.

Baca entri selengkapnya »


Saat itu mungkin sekitar jam 9 malam, di sebuah bulan ramadhan, beberapa tahun yang lalu. Saya sedang mengendarai kijang putih saya di jalan Pelajar Pejuang, on the way home dari sebuah pertemuan. Dari agak kejauhan saya melihat sebuah mobil carry yang berjalan pelan, dan pengendaranya mendorong mobilnya dari sisi pintu dekat setir, pasti dia sendirian naik mobil itu sehingga ketika mobilnya mogok, dia harus turun dan mendorong mobilnya dari samping. Suasana jalan sepi, selintas saya berpikir, saya tidak tahu siapa yang akan menolong dia. Saya merasa si bapak itu perlu ditolong, jadi setelah melewati mobilnya, saya memutuskan untuk meminggirkan mobil saya ke tepi, mematikan mesinnya, dan agak berlari mendekati mobil carry itu. Saya kasih isyarat bahwa saya akan mendorong mobil orang itu, jadi dia naik saja. tadinya saya pikir dia akan meminggirkan mobilnya kedekat mobil saya, tetapi carry yang saya dorong terus berjalan lurus, tidak menepi. Tahulah saya, si bapak itu minta saya mendorong mobilnya lurus untuk menghidupkan mobilnya. Benar saja, setelah beberapa meter saya dorong, tidak lama kemudian suara mesin menderu. mobil carry itu jalan. Si bapak di mobil itu melambaikan tangannya pada saya, sambil bilang terima kasih. Saya terseyum lega, kembali ke kijang putih saya, dan meneruskan perjalanan, meluncur ke rumah.

Ada rasa senang bisa membantu orang yang sedang kesusahan dijalan, kebayang kalau saya dalam posisi seperti si bapak itu, tentu saya juga akan mengharapkan pertolongan dari orang lain di jalan. Berdasarkan beberapa kali pengalaman, saya sendiri merasa sesungguhynya orang kita itu baik-baik, dan saya sering mendapatkan pertolongan dari orang lain pada saat saya memerlukannya, baik itu di jalan, di kampus, di pasar, di kantor, dll. Karena itu bukanlah kita juga harus berbuat baik juga pada orang lain. Sedikit pertolongan yang kita berikan, bisa jadi begitu berarti nilainya bagi orang lain. “Hal jazaa’ul ihsaan illah ihsaan”, apakah balasan yang baik dari sebuah kebaikan selain kebaikan juga ? Nah, kalau kita merasa bahwa Allah Swt telah berbuat begitu baik pada kita dalam banyak hal: umur, kesehatan, keluarga yang menyenangkan hati, kesuksesan dalam berbagai hal, rizki yang terus mengalir walaupun mungkin tidak seberapa… sebagai ungkapan rasa syuukur atau terima kasih kita pada Allah Swt yang telah melimpahkan begitu banyak kebaikan dan kenikmatan pada kita, maka ayolah kita berbuat baik pada sesama, terutama pada mereka yang memerlukan uluran tangan kita. Perbuatan baik kita itu, sekecil apapun, menjadi sesuatu yang sudah seharusnya dilakukan oleh seorang yang bersyukur dalam hidupnya.


Pagi tadi, di pelataran masjid Habiburrahman (PTDI), mobil kijang putih saya gak mau distarter, penyakitnya kumat lagi. Sudah hampir sebulan ini kijang putih saya itu memang sering ngambekgak mau di starter. Gak ngerti salahnya dimana, padahal akinya relatif baru. Kemungkinan bisa dinamo starter, dinamo pengisian, dinamo jalan, kualitas akinya sendiri, kabel-kabel yang tersumbat atau mungkin terbuka, atau apalagi ya ? kalau sudah ngambek begitu, solusinya sementara biasanya didorong atau dipancing dengan aki dari mobil lain.

Karena keseringan kejadian seperti itu dimobil saya selalu tersedia kabel warna merah dan hitam untuk mancing ke aki mobi lain. Nah, pagi tadi mobil-mobil lain di tempat parkiran masjid sudah tinggal sedikit, padahal semalam penuh, karena waktu memang sudah menunjukkan sekitar jam setengah enam, para i’tikafer tentu umumnya sudah memacu kendaraannya di jalan, kembali ke rumah dan mungkin bersiap kerja atau belanja. Jadi, mau mancing ke mobil siapa ?, kalau minta bantuan ke orang belum kenal saya merasa gimanaa gitu. Sebenarnya sih semalam saya sudah janjian dengan teman yang juga bawa mobil untuk habis subuh bantu mancing aki mobil saya, tapi salah saya… habis subuh saya berbaring dan beberapa menit terlelap di masjid, menemani anak saya yang tertidur lagi habis shalat subuh, sehingga ketika teman saya nelpon ke hp, saya gak denger, trus dia berpikir bahwa saya mungkin sudah mencari alternatif solusi lainnya, so he has gone deh.

Isteri saya sebenarnya sudah menawari untuk mendorong mobil seperti beberapa hari lalu setelah beli bakso di Cikutra, waktu itu kebetulan jalan agak turun jadi saya pikir kalau isteri saya mendorong mobil tidak akan perlu keluar tenaga banyak 🙂 dan terbukti, hanya sekali dorongan, mobil meluncur dan hidup lagi. Sayangnya kali ini lahan parkiran datar, dan posisi mobil saya hidungnya membelakangi lahan parkir, sehingga kalau mau didorong harus memundurkan mobil dulu dan mungkin perlu atret berbalik arah. Saya coba nyiram akinya dengan air, sugan awe… ah tetap saja gak jalan. Sambil berpikir “dorong atau minta bantuan mobil lain” tiba-tiba ada seorang “i’tikafer” datang menyapa saya, dan bertanya apakah saya bawa kunci roda karena ban mobilnya kempes. Saya bilang ada, dan saya tanya balik apakah aki mobilnya masih bagus, karena aki mobil saya kayaknya sudah soak sehingga gak bisa distarter. Akhirnya terjadilah barter meminjam, dia meminjam kunci roda dan kemudian dongkrak, dan dia membawakan aki mobilnya untuk jadi pancingan ke aki mobil saya. Done ! Mobil saya jadi bisa jalan lagi, dan mobil dia bisa diganti rodanya ! Alhamdulillah… berkah Ramadhan hari ke dua puluh lima yang harus disyukuri 🙂


Seharian tadi saya dari jam 11 sd jam 17 sore saya menguji tiga mahasiswa dalam sidang akhir, dua diantaranya mahasiswa bimbingan saya. Alhamdulillah mereka semua lulus dngan nilai yang memuaskan. Menjadi sarjana tentu merupakan sebuah tonggak sejarah dalam perjalanan hidup seseorang. Yang disidang memang mahasiswa, tetapi ketika pertanyaan menyangkut tentang metodologi penelitian, sebenarnya sang pembimbing juga akan merasa dia ikutan disidang, apalagi bila ada kritik dari penguji (dosen lain) yang mempertanyakan metodologi penelitian yang dilakukan mahasiswa, dosen pembimbingnya tentu akan ikutan merasa jadi “tersangka” kalau ternyata ada dugaan kekeliruan dalam metodologi penelitiannya.

Saya jadi teringat 23 tahun lalu, ketika saya akan sidang, saya menemui pembimbing saya: pak Aat (Prof.Dr. Soeriaatmadja). Saat itu barangkali beliau melihat saya agak nervous saat akan menghadapi sidang, beliau bilang:” kamu yang paling tahu apa yang kamu lakukan dalam penelitian tugas akhir kamu, jadi jangan ragu dalam menceritakan atau menyampaikan apa yang telah kamu teliti”. Saran beliau itu sangat penting, karena kemudian saya jadi merasa “pede” untuk bicara tentang penelitian saya dalam sidang tersebut.

Sidang S1 di Biologi (sekarang SITH) ITB sejak dahulu bersifat komprehensif dengan mengacu pada penelitian yang dilakukan. Karena itu mahasiswa perlu  menyiapkan diri dengan pemehaman dan ingatan akan konsep-konsep dasar  biologi, konsep penyatu dalam Biologi, teknik dan aplikasi Biologi dan pengetahuan penting lainnya yang terkait dengan penelitian yang dilakukan mahasiswa tersebut.


Aktivitas saya sabtu kemarin lumayan menyedot energi. Pagi-pagi koordinasi di Pesantren (Asrama) PPSDMS, setelah itu ke kampus koordinasi kegiatan dengan beberapa dosen hingga dzuhur. Baru saja berangkat dari kampus, saya sudah di telpon dari rumah, sudah ada yang jemput, ya saya janjian untuk ke Jatinangor untuk menyampaikan sebuah bahan diskusi dengan mahasiswa UNPAD. Itupun jadwalnya sudah dinegosiasi ulang. Perjalanan ke Jatinangor saya nikmati dengan tertidur di mobil, tahu-tahu sudah di gerbang tol Cileunyi. Acara dengan mahasiswa UNPAD sampai ashar, setelah itu saya harus segera kembali ke Bandung, karena jadi tuan rumah acara ifthar bareng di Sukajadi. Jalan ternyata macet, dan saya baru sampai tempat acara sekitar 17.30, ditempat acara sudah banyak yang datang, sekitar 70an orang saya kira, dan saya langsung didaulat oleh pembawa acara menyampaikan materi tausiah, lantaran penceramah yang ditunggu ternyata belum datang. Sore tadi jalan ke Sukajadi sangat macet-cet, sehingga ustadz yang diundang datang terlambat, syukurnya beliau masih bisa datang ke tempat acara dan menyampaikan tausyiah ba’da makan malam.

Setelah itu, malamnya saya janji untuk mengisi sebuah acara pembinaan untuk anak-anak SMA di Pesantren Miftahul Choir di daerah Tubagus Ismail. Pada forum tersebut saya diminta panitia untuk bicara tentang kepemimpinan dalam Islam. Ada belasan anak-anak SMA yang hadir dan antusias mendengarkan ceramah dan berdialog sampai sekitar jam 10 malam, and that closed my activities for yesterday.

Kendati melelahkan, saya ingin tidak tidur malam ini, mau ngejar tilawah Al Qur’an yang tertinggal …


Malam ini sudah masuk 21 Ramadhan, sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan sudah kita masuki. Subhanallah, walhamdulillah wa laailaaha illallahu wa allahu akbar !

Ayo hidupkan malam-malam Ramadahan dengan qiyamullail, tadarus Al Qur’an, dzikir dan i’tikaf di Masjid.

“wamaa adrookamaa lailatul qadr ?” demikian pertanyaan Allah dalam AlQur’an, dan jawabannya pada ayat berikutnya “Lailatul qodri khoirun min alfi sahr”, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Seribu bulan itu artinya lebih dari 83 tahun ! Bayangkan, jika pada malam itu kita beribadah pada Allah Swt: qiyamullail atau tahajud, tadarus dan tadabur Qur’an, berdzikir, berdo’a dan melakukan amalan sunnah/sholeh lainnya, nilai pahalanya sama dengan kita beribadah kepada Allah swt selama 83 tahun lebih. Rasulullah saw menganjurkan kita untuk berdo’a pada malam lailatul qodr tersebut dengan do’a meminta ampun kepada Allah Swt: “Allaumma innaKa ‘afuwwun Karriem, tuhibbul ‘afwa fa’fu anna yaa Kariiem”.

Untuk mendapatkan lailatl qadr, Rasulullah menganjurkankita untuk kita “mengintai”nya pada 10 hari terakhir di bulan Ramadhan, khususnya pada malam-malam ganjil: malam ke 21, 23, 25,27 dan 29. Sebagian pandangan pada ulama mengisyaratkan agar kita terutama memberikan perhatian extra pada malam ke 27.

Melalui malam lailatul qadar yang terbaik memang tentunya di dalam masjid sambil beri’tikaf, tetapi itu tidak berarti bahwa kita hanya bisa mendapatkannya di dalam masjid. Bagi anda yang dalam perjalanan pulang kampung misalnya, asalkan selama dalam perjalanan tersebut anda senantiasa berdzikir, tilawah Qur’an, dan amalan shaleh lainnya, insyaAlah anda juga akan mendapatkannya. Bagi para pejuang di medan perang dahulu, para sahabat Rasul yang sering kali berada di medan peperangan, lailatul qadar sangat boleh jadi sering mereka dapatkan di kemah-kemah atau di lapangan terbuka medan peperangan !

Bergegas dan bersiap dirilah menyambut kedatangan malam lailatul  qadar.


Rabu kemaren saya menerima undangan mahasiswa KImia ITB untuk memberikan ceramah di acara buka bersama mereka. Tempatnya di lapangan parkir belakang Basic Science B dekat gedung Kimia. Acaranya ternyata heboh juga, didahului dengan penampilan tiap angkatan dengan kehebohan para supporter masing-masing. Selain itu, mereka juga mendatangkan anak-anak dari Yayasan Bunda Air, sebuah Yayasan yang menampung dan membina anak-anak jalanan.

Selama 30 menit saya berbicara tentang silaturahim dan kebersamaan, sesuai permintaan panitia. Bahwa silaturahim bisa menambah rizki dan umur kita. Untuk bersilaturahim dengan baik dibutuhkan kemampuan personal terutama dalam berkomunikasi. Tidak sedikit mahasiswa dan bahkan alumni ITB yang secara intelektual tidak masalah, tetapi memiliki kemampuan komunikasi yang kurang baik, kurang mampu menyampaikan gagasan, kurang mampu meng-apresiasi pandangan dan kerja orang lain, kurang mampu bekerja sama dalam sebuah team work. Kebersamaan dalam tim harus dibangun dengan ikatan emosi.

Karena itulah saya menyarankan para mahasiswa untuk memperat rasa kebersamaan dengan membangun rasa kepeduilian terhadap sesama, terhadap teman, terhadap orang lain. Saya tekankan pentingnya menjalin tali kasih sayang dalam kebersaam ini, salah satunya dengan saling memberi dan menerima. Saya tanya, apakah mereka pernah saling tukar-menukar kado misalnya dengan sesama teman ? Jawabnya beluum. Saya anjurkan mereka untuk melakukan itu sebagai salah satu cara untuk menjain rasa persaudaraan atau persahabatan.


Kemarin, separuh hari, dari siang sampai sore saya memoderatori seminar mahasiswa S1, gantian dengan kolega yang memoderatorinya dari pagi sampai siang. Memperhatikan presentasi mahasiswa , saya mencatat banyak hal. Pertama , banyak mahasiswa yang ketika mempresentasikan hasilnya hanya membaca power pointnya di layar tayangan LCD proyektor, tidak atau jarang menghadap ke audiens. Ketika presenter tidak menghadap audiens, presenter telah mengalihkan fokus audiens yang seharusnya kepada presenter, tapi kemudian haya tertuju ke layar proyektor. Benar bahwa untuk presentasi ilmiah kita harus menyiapkan bahan presentasi yang baik dan menarik, tetapi jangan lupa bahwa fokus dalam kegiatan presentasi itu adalah si presenter itu sendiri, bukan tayangan power pointnya. Presenternya adalah makhluk hidup, sedangkan tayangan power pointnya hanyalah benda tak bernyawa. Jangan lupa juga bahwa anda memiliki audiens yang adalah makhluk hidup, jadi jangan hanya melihat ke tayangan LCD, lihatlah audiens sering-sering.

Kedua, presentasi ilmiah tentu perlu disampaikan dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar, jangan menggunakan bahasa pasar atau pergaulan sehari-hari dengan teman. Jangan lupa bahwa seminar adalah kegiatan formal atau akademik, karena itu perhatikan penggunaan bahasa, jangan terkesan terlalu santai, walaupun juga jangan terkesan kaku “teuing”.

Apabila peresentasi menggunakan bantuan pelantang suara (bukan pengeras suara lho), perhatikan teknik miking, dan anda perlu mentest dulu, seberapa jauh baiknya mike itu dari bibir, kemudian dengarkan baik-baik suara anada yang terdengar, apakah cukup lantang, kurang atau terlalu lantang. Kemampuan menghasilkan kualitas suara memang sangat bervariasi, ada yang suaeranya berkualitas untuk menjadi MC atau pembaca berita di TV atau radio, tapi sadari ada juga tidak semua punya kualitas suara seperti itu, bahkan mungkin terdengar “cempreng”, dalam kasus seperti itu, mikenya jangan terlalu dekat dengan bibir.


Lebaran tinggal 12 hari lagi, alhamdulillah ! Anak saya yang paling kecil (7 tahun) setiap hari menghitung, berapa lama lagi puasanya dan tinggal berapa hari lagi lebarannya 🙂 Setap lebaran kami selalu kumpul keluarga besar, ke keluarga orang tua saya di Bekasi dan Karawang, dan keluarga mertua saya di Semarang dan Klaten. Perjalanan ke Bekasi mungkin sudah terlalu biasa, cuma 1,5 jam dari Bandung. Yang seru tentu perjalanan “mudik” ke Semarang lewat pantura. Ke Semarang biasanya hari kedua, jarang-jarang sebelum lebaran, ini untuk menghinidari kemacetan di jalan. Selain itu saya juga tidak ingin banyak waktu terbuang di jalan pada saat 10 hari terakhir di bulan Ramadhan. Pernah sih ke Semarang sebelum lebaran, tapi kami banyak berhenti di masjid, selain beristirahat juga untuk beri’tikaf. Tentu saja itu kalau kita bawa kendaraan sendiri, kalau naik kendaraan umum ya tentu tidak bisa sesukanya…

Shalat Ied seringnya di Bandung, biasanya ada saja yang meminta saya untuk menjadi khatib Ied. Dalam hal tidak ada tugas jadi khatib, saya biasanya akan shalat Ied di Bekasi atau di Semarang. Setelah shalat Ied, biasanya kami langsung meluncur…. mudik. Alhamdulillah, perjalanan mudik umumnya lancar, kendati kendaraan yang saya pakai selama ini: Kijang 90 sudah terbilang cukup tua, tapi masih relatif nyaman di kendarai, relatif irit (1500 cc), bandel dan yang penting sangat jarang mogok.

Sepanjang perjalanan, biasanya di mobil riuh rendah dengan suara anak-anak, maklum 5 orang anak, empat perempuan dan satu laki-laki, sering kali kami nyanyi bersama lagu apa saja… dari lagu anak-anak, nasyid sampai lagu pop, yang jelas tidak ada yang suka dangdut atau rock n roll. Kadang-kadang tanpa komando masing-masing menyanyi sendiri-sendiri… nah kalau sudah begini biasanya ada yang teriak untuk menyatukan lagu 🙂 Kalau sudah kelelahan semua akan tertidur, tinggal sopir yang “manyun” sendiri ditemani radio atau tape, tapi kalau sang sopir sudah lelah juga, saya parkir didekat masjid atau pom bensin, lalu join the club…. tidur di dalam mobil.

Perjalanan panjang tentu membutuhkan kesiapan kendaraan, so before leaving Bandung,  make sure that your car or minibus ready to use, gak bakal nyusahin di perjalanan. dan ini artinya harus dibawa ke bengkel dulu: tune up, ganti oli, cek rem, kanvas dsb. Selain itu perbekalan makanan, minuman baiknya disiapkan sebelum berangkat, walaupun berhenti di rumah makan atau belanja di jalan juga punya nilai fun tersendiri, but we can not do that every time and any time khan, karena akan sangat costly dan tidak tentu karena harus cari-cari rumah makan yang pas menu dan harganya dengan kantong kita.

So, have a nice and save mudik ya…

September 2008
S S R K J S M
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Klik tertinggi

  • Tidak ada

RSS Feed yang Tidak Diketahui

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

twitter

%d blogger menyukai ini: