You are currently browsing the category archive for the ‘Bandung euy !’ category.


Berkenaan dengan rencana pencalonan saya dalam pilkada Bandung 2008 yang akan datang, rabu 11 Juni 2008 kemarin saya telah menyampaikan pernyataan meletakan jabatan negara kepada Rektor ITB. Surat penyataan tersebut ditandatangani diatas meterai dan diketahui/ditandatangani pula oleh Wakil Rektor Senior pak Prof.Dr. Carmadi Machbub. Hal tersebut merupakan persyaratan yang diminta peraturan bagi PNS yang akan maju dalam pertarungan pilkada. Mohon do’a restu anda semua, terima kasih.


 

Ada lebih kurang 40 pasar tradisional di kota Bandung, dari Simpang Dago, Cihaurgeulis, Cikutra, Cicadas, Ujung Berung dsb. Pasar-pasar tersebut beroperasi dari pagi/dini hari, bahkan beberapa sudah mulai ramai sejak jam 10 malam, seperti pasar Ciroyom, hingga sekitar jam 5 sore. Perjuangan para pedagang di pasar tradisional menurut saya sangat luar biasa, mereka rela tidak tidur malam hari untuk mendapatkan sesuap nasi. Para pembelinya juga banyak, sehingga pasar tradional umumnya ramai oleh penjual dan pembeli, dari ibu-ibu, anak-anak hingga nenek-nenek dan kakek-kakek.

 

Kehadiran pasar tradisional tersebut sebenarnya sangat penting bagi perekonomian warga Bandung, namun sayangnya sejauh ini mereka tampaknya kurang mendapatkan perhatian yang layak dari pemerintah kota Bandung ! Mereka tidak mendapatkan fasilitas yang layak untuk berjualan. Karena kurang perhatian dan penataan, pasar tradisional di Bandung menjadi identik dengan kekumuhun, becek, bau, kotor, jorok. Kalaupun kemudian didirikan bangunan oleh developer atas izin pemda, para pedagang tidak dilibatkan, tidak ditanya apa keinginan mereka, dan kemudian diharuskan membeli atau menyewa dengan harga yang tak terjangkau kantong mereka. Selain itu mereka biasanya ditempatkan di bagian bawah atau basement gedung yang sumpek, gelap, kurang oksigen… oh malang benar nasib para pedagang di pasar tradisional kota Bandung.

 

Jelas, kebijakan pemkot Bandung saat ini tidak berpihak kepada perbaikan nasib para pedagang di pasar tradional tersebut, tetapi lebih berpihak kepada para pemilik modal besar untuk membuat supermarket-supermarket, mall-mall yang malah mematikan potensi pasar tradisional warga Bandung sendiri. Kota Bandung sangat tertinggal dalam penataan pasar tradional. Coba belajar misalnya dari bagaimana pemkot Solo mengelola pasar Klewer yang tertata dengan rapih. Apalagi kalau dibandingkan dengan pasar tradisional di Singapura, Malaysia yan bersih dan tertata rapih. Saya pernah jalan-jalan di pasar tradisional di dekat Kuala Lumpur yang berlangsung hingga jam 9 malam, rapih, bersih, nyaman, tidak becyek dan tidak bau… 

 

Herannya, bukankah pak Walikota dan para wakil rakyat di DPRD sudah sering melakukan kunjungan dinas ke berbagai kota di dalam dan luar negeri, sehingga msetinya mereka-mereka yang terhormat itu memiliki wawasan yang lebih luas dan dapat memilih apa yang terbaik untuk kota Bandung. Sayangnya sejauh ini apa yang ditiru dari kebaikan-kebaikan dari kota-kota di luar Bandung itu ? Kayaknya gak ada deh… yang mau ditiru malah PLTSa yang sebenarnya bisa menyengsarakan kondisi lingkungan dan warga kota Bandung sendiri.

Bandung jelas membutuhkan Pemimpin baru yang lebih memperhatikan nasib rakyat kecil, yang banyak perekonomiannya berputar di pasar tradisional ! Sudah saatnya Bandung dibebaskan dari pemimpin yang hanya dikelilingi, dibisiki dan dipengaruhi oleh para pengusaha yang hanya berniat menarik keuntungan sebesar-besarnya dari warga Bandung, dengan tidak memperhatikan, malah cenderung mematikan penghidupan rakyat kecil. Tentu tidak semua pengusaha bermental seperti itu, insyaAllah masih banyak pengusaha yang baik-baik yang memang memiliki niat tulus ikhlas untuk memajukan Bandung dan bukan sekedar mengeruk keuntungan untuk diri sendiri saja. Bandung juga perlu banyak kontribusi para pengusaha berhati mulia seperti itu, untuk bersama dengan pemimpin baru kota Bandung nanti membangun Bandung yang benar-benar bermartabat (bukan cuma slogan kosong saja), yang mengangkat derajat, martabat dan kesejahteraan warga Bandung.

 

 

 


Mungkin ! InsyaAllah, sangat mungkin. Mengapa tidak ?

Pendidikan gratis yang dimaksud adalah untuk pendidikan dasar dan menengah, minimal untuk anak-anak SD dan SMP (paket Wajar 9 tahun). Darimana dananya ? Sebagian besar tentu APBD. Alokasi dana untuk APBD yang saat ini masih sekitar 13 %  (?) harus ditingkatkan MINIMAL menjadi 20 %, dan itu tidak termasuk gaji atau honor untuk guru-guru. Sekolah gratis harus disediakan untuk anak-anak dari keluarga yang kurang mampu atau berada dibawah garis kemiskinan. Tidak boleh ada anak-anak yang pada jam-jam sekolah, berkeliaran minta-minta dan ngamen di jalanan, dan mereka tidak bersekolah karena orang tuanya tidak mampu, dan lalu dimanfaatkan oleh orang tuanya untuk meminta-minta (sejauh ini saya tidak melihat ada upaya dari Pemkot Bandung untuk menangani anak-anak yang berkeliaran di jam-jam sekolah, bahkan mereka juga berkeliaran bisa sepanjang hari dan pada sebagian malam masih dijumpai minta-minta dan ngamen di jalanan. Lalu, apa saja yang diurus oleh Pemkot bandung selama ini ya ?)

Dana tambahan untuk pendidikan gratis juga bisa diperolah kalau Pemkot bisa melibatkan lembaga-lembaga Ziswaf seperti Rumah Zakat (DSUQ), PKPU, Dompet Du’afa, Dompet Umat, Rumah Amal Salman ITB, dll.  Dana tambahan lain juga bisa diperoleh dari dana CSR (Corporate Social Responsibility) perusahaan-perusahaan yang ada di Bandung dan para aghniya (orang-orang berada) yang punya kelebihan dana.

Itu kalau Pemkotnya punya kemauan, inisiatif dan berpihak pada rakyat kecil. .. 

 

 


Issue yang saya angkat sebelumnya tentang “memelihara taman kota” merupakan salah satu kegiatan saja yang sebenarnya dapat dikelola dengan lebih baik apabila pemerintah kota mau melibatkan masyarakat dalam proses perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi dari berbagai kegiatan untuk pembangunan, pemeliharaan dan pengelolaan kota Bandung. Satu issue bisa multi-facet, seperti pengelolaan taman kota bisa melibatkan mereka yang tidak memiliki mata pencaharian yang tetap, sehingga issue sosial juga bisa ditackle.

 

Sayangnya sejauh ini paradigma pelibatan masyarakat dalam pengelolaan kota Bandung dari sejak perencanaan, pelaksaan hingga evaluasi belum berjalan dengan baik.  Banyak faktor yang memengaruhinya, salah satunya adalah karena umumnya kegiatan-kegiatan tersebut memiliki implikasi finansial sehingga merupakan proyek-proyek pemda yang pelaksanaannya perlu melalui mekanisme tertentu, misalnya dengan pelelangan. Dan berbicara tentang dunia proyek, sudah menjadi pengetahuan umum bahwa dari sekian banyak dana yang dianggarkan, yang sampai ke tangan publik dan dinikmati masyarakat mungkin hanya berkisah antara 30-40 %. Sisanya menguap kemana ? entahlah…

 

Kedepan, Pemkot harus lebih banyak lagi melibatkan masyarakat dalam program atau kegiatan yang akan dilakukan agar hasilnya dapat lebih maksimal. Dengan melibatkan masyarakat, sense of belonging dari masyarakat pun akan tumbuh, dan pemkot mestinya akan terbantu banyak. Masalah sampah misalnya, kalau bisa ditangani pada level RW atau kelurahan, maka issue sampah yang menggunung tidak akan muncul berulang kali karena masyarakat membantu menjadikannya sebagai kompos atau mendaur-ulang sampah tersebut. 


Saya dengar AMDAL PLTSa sudah selesai dibuat dan akan disidangkan selasa 1 April besok. Sayangnya yang namanya sidang amdal bisanya tertutup, sehingga warga yang interested untuk mendengar… harus siap-siap kucewa. Issue ini memang sudah masuk kedalam ranah publik, sehingga bagaimanapun warga yang peduli pastinya ingin dengar hasil kajian amdal yang dilakukan oleh tim ITB dengan pemberi kerja PT BRIL.  

  Baca entri selengkapnya »


Hari ini angkot Bandung mogok, dikoran PR kemaren bilangnya salah satu tuntutan mereka adalah minta tambahan usia angkot yang diperbolehkan beroperasi dari 10 tahun jadi 15 tahun. Ada lagi tuntutan yang lain pake angka persen-persen gitu cuma saya kurang ngeh bacanya sepintas.  Baca entri selengkapnya »


Semakin lama masalah transportasi di kota Bandung tampaknya semakin parah.  Jumlah kendaraan semakin bertambah, sementara lebar jalan tidak mampu mengatasi pertambahan jumlah kendaraan yang demikian cepat.  Kemacetan terutama terjadi pada jam-jam sibuk (rus’u’h hours) pada pagi ketika orang memulai aktivitas dan pergi ke sekolah, kantor, pasar, dsb. Repotnya, pada jam ini beberapa pasar tumpah yang beroperasi sejak tengah malam masih menyisakan kesibukan yang memakan sebagian (seperempat) badan jalan, misal di pasar Suci dekat Pusdai.  Ada pedagang, ada pembeli yang tawar-menawar dengan pedagang, ada  tukang becak, tukang ojek, angkot yang sembarangan berhenti dan “ngetem”. Dibeberapa tempat seperti Dayeuh Kolot, atau daerah Gunung Batu, delman juga ikutan “ngetem”. Rasanya bagus nih kalau ada mahasiswa FSRD yang mengambar kesibukan pagi hari di pasar tumpah Bandung yang riuh rendah. Baca entri selengkapnya »

Mei 2021
S S R K J S M
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Klik tertinggi

  • Tidak ada

RSS Feed yang Tidak Diketahui

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

twitter

%d blogger menyukai ini: