Tanggapan atas tulisan Wildan Yatim
Oleh: Taufikurahman
(Staf Pengajar Dept. Biologi FMIPA-ITB)
Wildan Yatim dalam tulisannya di Kompas (23 April 2003) berjudul “Ada bantahan terhadap teori evolusi ?” mempermasalahkan pernyataan yang dikemukakan oleh seorang dosen Biologi ITB dalam sebuah seminar di Semarang yang diberitakan di Kompas (8 Oktober 2002) yang menyarankan dilakukannya revisi terhadap silabus pelajaran Biologi, khususnya menyangkut pembahasan tentang teori evolusi. Dosen Biologi ITB yang dimaksud adalah saya. Pandangan tersebut saya sampaikan dalam kapasitas pribadi (bukan institusi Departemen Biologi ITB). Penolakan saya terhadap teori evolusi Darwin bukan seperti yang ditulis Wildan Yatim yaitu semata karena telah membaca buku-buku Harun Yahya. Sudah lama saya meragukan keabsahan teori Darwin, dan saya yakin tidak sedikit orang yang berpendirian seperti saya. Komentar Wildan Yatim tersebut memancing diskusi lebih lanjut, dan tentunya akan semakin menarik dan bernas bila banyak pakar Biologi, Palaentologi dan ilmu-ilmu yang terkait juga turut memberikan pendapatnya dalam suasana diskusi yang sehat, dengan menjunjung tinggi semangat ilmiah.
Teori Evolusi yang mana ?
Istilah evolusi memang telah banyak digunakan oleh berbagai cabang ilmu pengetahuan, apalagi bila menggunakan definisi umum seperti yang digunakan Wildan Yatim bahwa “evolusi artinya perubahan berangsur-angsur sesuai dengan perubahan zaman’, maka makna evolusi menjadi sangat luas, padahal itu sudah diluar konteks teori evolusi Darwin. Bahkan sering terjadi kesalahpahaman dimana tahapan-tahapan embriologis seperti yang ditulis Wildan Yatim dipandang sebagai proses evolusi pada manusia, padahal proses tersebut dalam biologi disebut sebagai proses perkembangan biologis, bukan merupakan proses evolusi.
Dalam bidang geologi, buku The principle of Geology karya Charles Lyell (1830) yang banyak menginspirasi Darwin, mengungkapkan konsep tentang perubahan geologis. Dalam bidang fisika atau astronomi juga dikenal konsep evolusi alam semesta yang bermula dari peristiwa big-bang, kemudian menjadi benda-benda angkasa berupa planet, bintang, bulan, dsb. Demikian juga dalam bidang sosial ada konsep evolusi sosial-budaya. Konsep evolusi geologis, evolusi alam semesta dan evolusi sistem sosial-budaya bukan merupakan konsep yang dipermasalahkan baik oleh Harun Yahya maupun saya.
Walaupun demikian patut direnungkan bahwa teori evolusi Darwin juga ternyata berimplikasi terhadap ideologi. Ernst Haeckel (1863), seorang ahli Zoologi Jerman, yang sangat termotivasi oleh teori evolusi Darwin, meyakini bahwa Darwinisme dapat digunakan menjadi alat ideologis yang akan membentuk masa depan kemanusiaan dengan suatu reformasi sosial. Pandangan Haeckel ini memberi kontribusi atas ulah Hitler yang menyalahgunakan konsep “survival of the fittest”nya Darwin untuk tujuan pemurnian ras Aria dan pemusnahan ras manusia lain yang dianggapnya berkualitas rendah. Karl Marx menilai The Origin sebagai buku yang berisi landasan sejarah alam bagi pandangan komunisme. Marx bahkan mendedikasikan “Das kapital”nya dengan ungkapan “from a devoted admirer to Charles Darwin”. Teori evolusi Darwinisme juga telah digunakan sebagai senjata untuk melawan agama, khususnya Kristen.
Beberapa dasar penolakan
Dalam konteks agama, debat mengenai benar atau tidaknya teori ini memang sangat terkait dengan keyakinan agama bahwa Tuhan adalah pencipta semua makhluk hidup di dunia ini, sementara teori evolusi menyangkal terjadinya fenomena penciptaan tersebut dan menggantikannya dengan suatu konsep evolusi. Perdebatan antara Bishop Wilberforce dengan Thomas Huxley (yang menamakan dirinya sebagai “bulldog”nya Darwin) tahun 1860 di Oxford merupakan perdebatan sengit yang pertama mengenai teori ini.
Tahun 1860 terjadi perdebatan antara Louis Agassiz (ilmuwan yang dianggap banyak berjasa dalam membangun ilmu pengetahuan Amerika) yang menentang validitas dari argumentasi Darwin dengan Asa Gray yang mencoba menemukan rekonsiliasi antara Darwinisme dengan ajaran agama Kristen. Agassiz meyakini bahwa makhluk hidup (spesies) diciptakan oleh Tuhan dan tidak berubah menjadi spesies lain. Menurutnya teori Darwin hanya merupakan suatu conjecture atau dugaan belaka, tanpa dukungan fakta, dan adanya tingkatan kemajuan bentuk hidup dari pengamatan fosil dari suatu strata ke strata berikutnya menunjukkan adanya perencanaan dalam penciptaan makhluk hidup dan bukan merupakan perubahan alami akibat adanya tekanan dari lingkungan. Sementara itu Asa Gray berpandangan bahwa teori seleksi alam yang diajukan Darwin merupakan instrumen Tuhan dalam penciptaan. Pandangan Gray ini sendiri sebetulnya bertentangan dengan pandangan Darwin yang tidak mempercayai adanya peran Tuhan dalam pembentukan makhluk hidup.
Beberapa argumentasi lain yang telah dikemukakan para ilmuwan sehingga menolak konsep evolusi Darwin diantaranya adalah dipertanyakan apakah variasi dapat terakumulasi sebagaimana yang dikatakan Darwin. Jangankan di alam, bahkan pada penyilangan buatan, yang merupakan dasar dari argumen Darwin, ada batasan derajat perubahan yang mungkin terjadi. Selanjutnya banyak yang meragukan apakah usia bumi cukup lama untuk memungkinkan seleksi alam terjadi sehingga menghasilkan demikian beranekanya makhluk hidup. Selain itu beberapa ahli geologi mempertanyakan karena bukti-bukti fosil tidak mendukung gambaran terjadinya evolusi yang bertahap (gradual).
Sebenarnya Darwin sendiri menyadari bahwa teori evolusinya itu sulit untuk dibuktikan. Dalam bab Difficulties of the theory Darwin menulis: “ jika suatu spesies memang berasal dari spesies lain melalui perubahan sedikit demi sedikit, mengapa kita tidak melihat sejumlah besar bentuk transisi dimanapun ? Mengapa alam tidak berada dalam keadaan kacau balau, tetapi justru seperti kita lihat, spesies-spesies hidup dengan bentuk sebaik-baiknya ? …Menurut teori ini harus ada bentuk-bentuk peralihan dalam jumlah besar, tetapi mengapa kita tidak menemukan mereka terkubur di kerak bumi dalam jumlah tidak terhitung ? …. Dan pada daerah peralihan, yang memiliki kondisi hidup peralihan, mengapa sekarang tidak kita temukan jenis-jenis peralihan dengan kekerabatan yang erat ? Telah lama kesulitan ini sangat membingungkan saya”
Contoh populer evolusi kuda, yang mengemukakan perubahan bertahap dari makhluk seukuran rubah dengan kaki berjari empat yang hidup 50 juta tahun lalu menjadi kuda masa kini yang lebih besar dengan kaki berjari satu, telah lama diketahui keliru. Bertentangan dengan perubahan secara bertahap, fosil setiap spesies peralihan tampak sama sekali berbeda, tidak berubah dan kemudian menjadi punah. Bentuk-bentuk transisi tidak diketahui. Selanjutnya tahun 1981 The British Museum mengganti penggambaran hubungan kekerabatan antar makhluk hidup (filogeni)-nya menjadi kladogram yang tidak memberikan indikasi tentang pola evolusi sama sekali. Direktur Musem tersebut, Colin Patterson berujar: “As it turns out, all one can learn about the history of life is learned from systematics, from the groupings one finds in nature. The rest is storytelling of one sort and another”. Baginya cerita tentang asal usul makhluk hidup yang satu dari yang lain (evolusi) adalah dongeng belaka. (Vernon Blackmore dan Andrew Page. 1989. Evolution the great debate).
Dua orang ahli Paleontologi Amerika, Stephen Jay Gould (Professor Harvard University) dan Niles Eldredge membuat suatu model atau teori punctuated equilibrium. Model ini menolak gagasan terjadinya evolusi secara kumulatif dan sedikit demi sedikit, sebaliknya menawarkan konsep yang diskontinu dan tiba-tiba.
Penolakan lebih lanjut di masyarakat
Di dalam masyarakat Amerika sendiri sejak awal abad ke-20 terjadi perlawanan sengit terhadap pengajaran teori evolusi di sekolah-sekolah. Tahun 1924 Komisi pendidikan Carolina utara mengumumkan bahwa mereka tidak akan menggunakan buku-buku pelajaran Biologi yang bertentangan dengan Genesis. Di Tennessee tahun 1925 legislatif, atas upaya para orang tua murid, melarang diajarkannya teori yang menolak penciptaan makhluk hidup oleh Tuhan sebagaimana yang diajarkan oleh Bible. Di Oklahoma juga telah dibuat aturan mengenai teks book (text book bill) yang melarang setiap ‘konsepsi materialistik dari sejarah, yaitu teori evolusi Darwin’. Tahun 1981 Gubernur Arkansas menandatangani Act 590 yang membolehkan pengajaran ‘creation science’ sebagai alternatif dari evolusi, namun Act tersebut digugat oleh “The American Civil Liberties Union” yang menganggap bahwa ‘creation science’ bukan sains, tetapi agama. Gugatan tersebut dikabulkan dalam persidangan.
Saat ini sudah banyak buku ditulis oleh para ilmuwan untuk menentang teori evolusi tersebut, jauh sebelum Harun Yahya menuliskan buku-bukunya. Beberapa diantaranya: Norman Macbeth. (1971. Darwin retried: an appeal to reason), Michael Denton (1985. Evolution: a theory in crisis), Robert Saphiro. (1986. Origins: a sceptics guide to the creation of life on earth), Michael J. Behe. (1996. Darwin’s black box), W.R. Bird. (1991. The origin of species revisited), Elaine Morgan (1994. The scars of evolution), dan lain-lain. Diterjemahkannya buku-buku Harun Yahya boleh jadi merupakan langkah awal untuk meramaikan perdebatan tentang teori evolusi ini, dan kita berharap buku-buku dari penulis lain akan juga dapat dinikmati oleh masyarakat kita, sebagai bagian dari proses pencerdasan (dan bukan pembodohan) masyarakat.
Saya menaruh harapan bahwa penyampaian mengenai teori evolusi dalam silabus di sekolah dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi berkenaan dengan pengajaran mengenai teori evolusi perlu ditinjau kembali. Hal ini tidak berarti bahwa teori evolusi Darwin itu dihapuskan sama sekali, akan tetapi pengajarannya tidak boleh dogmatis bahwa itu sebagai sesuatu yang dianggap benar. Perlu ditumbuhkan sikap kritis siswa dalam membahas asal-usul makhluk hidup. Pandangan alternatif yang memberi penjelasan tentang hal tersebut yakni kreasionisme atau adanya “Supreme” atau “Creative Designer” untuk menjelaskan fenomena beranekaragamnya makhluk hidup di dunia ini harus juga disampaikan. kepada siswa secara proporsional. •
Tulisan ini diterbitkan di KOMPAS.

35 comments
Comments feed for this article
April 11, 2008 pada 3:39 pm
TaQ
Teori yang masih sangat rame diperbincangkan……
April 21, 2008 pada 7:03 am
Harjo
Sedikit menambahkan nih Pak,
mungkin yang dimaksud oleh Wildan Yatim adalah dalam konteks pandangan evolusi, yaitu Teori Rekapitulasi. Di mana, perkembangan embrio merupakan rekapan sejarah hidup perkembangan nenek moyang makhluk hidup tersebut. Padahal sejak abad ke-19, pandangan-pandangan seperti ini sudah tidak dipergunakan lagi. Banyak orang yang menyanggah, baik orang yang tidak percaya kepada teori evolusi maupun di dalam kalangan evolusionis sendiri.
Menurut saya ini memang merupakan sebuah teori aneh, hasil karya khayalan Ernst Haeckel. Sebuah teori yang terlalu dipaksakan (baca: dipaksacocokan) dengan pola pemikiran evolusi. Ada bagian bagian tertentu dari embrio ditambahkan, dikurangi, bahkan dihilangkan, yang berakibat dikucilkannya akhli zoologi tersebut karena tuduhan penipuan. Anehnya, pada buku-buku pelajaran masih saja teori ini dijadikan sebagai acuan bukti kebenaran teori evolusi.
Kembali ke persoalan di atas, jika Wildan Yatim, menyebut perkembangan embrio adalah proses evolusi. Maka orang yang tidak percaya evolusi, perkembangan embrio adalah perkembangan biologis biasa, yang tidak ada kaitannya dengan evolusi.
April 23, 2008 pada 10:08 am
mahasiswanegarawan
Hal seperti ini pernah menjadi topik diskusi menarik di mata kuliah bioteknologi molekul di program studi kimia ITB.
Evolusi harus diperjelas definisi dalam konteks perkembangan sejarah mahluk hidup dan perkembangan sains. Di tingkat molekuler, memang ada beberapa ada beberapa fakta evolusi molekuler yang yang diteoritisasi secara ekstrim untuk mendukung teori evolusi Darwin. Teori evolusi Darwin yang mengambil argumen-argumen dari biologi klasik jelas sudah out of date.
Biokimia sebagai jantung perkembangan biologi modern menjadi tumpuan sebagian pendukung teori darwin untuk menreteoritisasi evolusi Darwin dalam konteks sains modern.
Sebagai contoh kasus, dari 3 milyar pasangan DNA manusia, hanya kurang dari 10%-nya yang berfungsi sebagai gen. Nah, 90% sisanya masih menjadi misteri, dan oleh sebagian kalangan berhipotesis sisa pasangan DNA tersebut adalah gen-gen purba yang tidak aktif akibat evolusi. Era genomics membuat revolusi baru klasifiksasi mahluk hidup berdasarkan data gen-gen. Bahkan, di negara-negara maju (Eropa,AS,Jepang), kini sudah beralih ke era proteomics, bahkan ada yang sudah memasuki revolusi selanjutnya ke era metabolomics.
Contoh menarik lainnya, adalah perbandingan secara biokomputasi struktur protein haemaglobin manusia yang hidup di daerah pantai dengan manusia dataran tinggi Tibet. Ternyata struktur 3D haemoglobin-nya berbeda. Hioptesis yang kemudian muncul adalah perbedaan lingkungan hidup menjadi penyebab perbedaan struktur 3D haemaglobin manusia yang terjadi selama proses evolusi. Sampai di tingkat ini, evolusi molekuler masih dapat diterima secara logis.
Namun, bila dievolusi terjadi secara ekstrim mengubah suatu spesies menjadi spesies lain masih belum dapat dijelaskan oleh biokimia / biologi molekuler. Karena hal ini sangat berhubungan dengan milyaran data DNA, protein, dan sistem metabolisme dibutuhkan bioinformatika / biokomputasi untuk menganalisisnya. Di negara2 maju, riset bidang2 tersebut tumbuh dengan pesat.
Negara kita atau negeri2 muslim masih belum tertarik dengan sains yang negejelimet seperti itu. ITB aja belum punya lab cluster komputer untuk bioinformatika/biokomputasi. (tapi, dengar2 tahun depan mau dibuat prodi kimia).
Selama ini bantahan terhadap teori evolusi oleh kalangan muslim masih mengandalkan logika2 sederhana, belum melakukan riset2 canggih untuk menemukan jawabannya.
Sehingga teori evolusi masih menjadi perdebatan. Dosen saya pun, berlindung di teori Penciptaan. Menurutnya, yang pasti Tuhan menciptakan manusia dan mahluk hidup lainnya. Jalannya bisa saja melalui evolusi atau diciptakan langsung sempurna.
Ketimbang terus berdebat, lebih baik budayakan riset di kalangan negeri2 muslim. Biar PeDe kalau ada berdebet dengen pendukung evolusionis.
April 24, 2008 pada 9:43 am
aprilia
Sedikit berkomentar pak. Saya blm pernah membaca teori Darwin langsung dr bukunya, saya hanya tau dr pelajaran di sekolah dulu. Dan saya hanya pernah sekali membaca buku Harun Yahya ttg evolusi alam semesta, dan saya tidak terlalu suka dng tulisannnya krn sifatnya hanya meringkas dr berbagai buku/tulisan orang lain dan menceritakannya kembali tanpa ada pendapat dr Harun Yahya-nya sendiri kecuali bahwa pd akhirnya beliau menolak teori evolusi Darwin. Kalau saya tidak salah, Darwin tidak pernah mengatakan kalau mahluk hidup itu berubah bentuknya. Dulu ada 2 jenis jerapah, yg berleher pendek & panjang. Akibat seleksi alam, yg berleher pendek musnah. Yg mengatakan dulunya jerapah berleher pendek kemudian perlahan2 lehernya memanjang adalah Lamarck (?), cmiiw (corect me if i’m wrong). Saya pikir, ada beberapa aspek dlm teori Darwin yg bisa kita benarkan, spt seleksi alam tadi. Namun, mengenai Darwin yg menolak adanya penciptaan, mungkin itu yg tdk bisa dibenarkan, setidaknya bagi orang beragama.
Saya mempelajari alam semesta. Salah satu topik favorit saya adalah evolusi bintang.
April 27, 2008 pada 4:21 pm
aria.adonis
Apakah mungkin yang 90% pasang DNA adalah data informasi software karena yang 10% adalah data pembentukan hardware? Saya rasa makhluk hidup selain berkembang fisik hardwarenya juga harus dijalankan dengan memory database/software?
Mei 17, 2008 pada 2:58 am
Ardee’est Thing in My Life » » Blogger Review: Taufikurahmans Park
[...] kemudian memunculkan sikap pro-kontra dari berbagai pihak. Sikap kontra diantaranya disuarakan oleh Dr. Wildan Yatim dari UNPAD, yang sempat dipublikasikan di koran kompas. Terlepas dari pro kontra tersebut, saya [...]
Mei 21, 2008 pada 4:48 am
ari
Kalau teori evolusi darwin itu dimaksudkan sebagai perubahan wujud mahluk hidup (termasuk manusia) dari mahluk terdahulu (misalnya : manusia dulunya berbentuk “seperti” kera), maka hal ini sangat mudah membantahnya.
Sebab ternyata saat ini manusia (seperti sekarang) ada, dan kera pun tetap eksis (tetap ada sebagai kera dengan berbagai jenisnya, dan tersebar diseluruh dunia).
Mei 21, 2008 pada 2:49 pm
odingaminuddin
insya Allah manusia si mulai dari Nabi Adam dan Manusia belum (atau mungkin tidak) berevolusi setelah sekian lama. oding aminudin
Juni 25, 2008 pada 7:24 am
suhadinet
Saya adalah seorang guru biologi SMP. Selama ini saya juga mencoba untuk tidak mendogmakan konten yang satu ini dalam pembelajaran. Karena termaktub dalam standar isi kurikulum, saya tak bisa menghindarkannya. Saya sih inginnya teori evolusi Darwin diberikan pada level yang lebih tinggi saja. Minimal SMA, di mana kemampuan berpikir kritis siswa telah lebih terlatih. Sebuah teori macam teori Darwin tetap harus diajarkan menurut saya, bukannya apa. Ilmu pengetahuan kan dibangun dengan berpijak pada teori-teori/ilmu yang ada sebelumnya-benar ataupun salah teori itu. Kita akan selalu memperbaiki teori-teori itu secara bertahap dan kontinyu dengan munculnya bukti-bukti baru yang lebih baik. Salam.
Juni 28, 2008 pada 1:55 pm
Nycticorax nycticorax
Sains memang bukan dogma.. maka dari itu sifatnya relatif. Tapi dalam mendapatkan yang relatif/temporer itu harus pakai data dan metodologi yang sahih menurut sains. Jadi kalau mau mencocok2an kepercayaan dengan sains ya ga akan nyambung dong. Bukan ga nyambung lah, lagunya kan apa-apa nya dong..
Setiap hari hingga saat ini saintis terus berusaha meruntuhkan beragam teori ilmiah yang ada pakai metodologi ilmiah,, tapi bukannya runtuh, teori evolusi malah terus dapat bukti ilmiah pendukung. Mana bukti *ilmiah* dari Harun Yahya alias Adnan Oktar yang baru jadi pesakitan trus dipenjara tiga taon itu???
Silakan percaya apa aja menurut agama/kepercayaan. Tapi ga usah memaksakan kepercayaan anda dan menghakimi cara berpikir orang lain.
Juli 1, 2008 pada 2:05 am
Cikal Bakal Manusia Hanya Dari Satu Adam « Sains-Inreligion
[...] ada penolakan terhadap teori darwin di sini. Sedang penulis aslinya dari tulisan yang dimuat ada di sini (Klik). Tentu saja lebih afdol di tempat aslinya [...]
Juli 1, 2008 pada 4:22 am
Harjo
@ Suhadinet, saya setuju dengan pendapat Bapak.
Usulan saya ada baiknya teori penentang evolusi pun sudah mulai diajarkan sejak masih SMP. Dengan demikian ada didik tidak lagi dicuciotaknya, karena hanya menerima ajaran tunggal Teori evolusi. Kesalahan yg terjadi selama ini, bahwa Teori Evolusi dan bukti-buktinya dianggap sebagai fakta ilmiah, padahal tidak demikian kenyataannya. Bukti-bukti terakhir justru lebih mengarahkan kepada kekeliruan teori tersebut.
@Nyticorax, saya tidak setuju dengan pendapat Anda.
Sepengetahuan saya, justru begitu bukti baru muncul untuk menentang teori evolusi, yang ada para evolusionis mengeluarkan teori baru untuk menentang serangan yg ditujukan kepadanya. Artinya suatu kesalahan lama dalam teori evolusi yg seharusnya sudah tidak digunakan lagi teori baru (teori ngeles), justru membangun kesalahan baru di atas kesalahan sebelumnya. Semakin jauh dari kebenaran.
Ketika pengajaran evolusi maupun penentangnya sama-sama diajarkan, di sekolah, pada akhirnya biarkan saja, apakah mereka mau percaya ataupun tidak, itu adalah urusan masing-masing individu. Dan tidak perlu dipaksakan lagi, apalagi untuk menghakimi orang lain.
Juli 13, 2008 pada 6:07 pm
Arif Rahmat
@ nycticorax.
Yang sebenarnya sangat berbahaya ialah teori “kebetulan” atau “ketidaksengajaan”. Maksud saya, pendapat bahwa spesies baru dapat terbentuk dengan sendirinya secara kebetulan dari kombinasi genetik para pendahulunya memiliki probabilitas yang sangat kecil, mendekati tidak mungkin.
Bagi ilmuwan kuno seperti Darwin yang saat itu belum tahu ilmu genetika wajar saja berpendapat, tetapi kita yang hidup di zaman ini juga harus merevisi teori yang terbantahkan karena bertentangan dengan ilmu terkini yang telah didukung dengan alat penelitian dan pembuktian yang lebih canggih.
Para penentang Darwin setuju bahwa makhluk biologis adalah sebuah sistem yang begitu kompleks, yang tidak mungkin terbentuk tanpa diawali perencanaan, pembentukan, pemeliharaan, kehidupan yang memiliki tujuan serta kematian yang menjadi kepastian. Dan orang yang beragama meyakini bahwa perencana, pembentuk, pemelihara serta pemberi hidup dan mati itu adalah Yang Maha Berkehendak, Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, bukan makhluk biologis itu sendiri.
Ketika sains yang kita pahami dan agama yang kita yakini tidak sejalan, ada dua kemungkinan:
1. Pemahaman kita kurang benar.
2. Keyakinan kita perlu dipertanyakan.
Tapi walaupun sains yang kita pahami dan agama yang kita yakini sejalan, tetap saja ada potensi bahwa pemahaman dan keyakinan kita keduanya salah.
Jangan lupa, Galileo Galilei juga pernah menjadi tahanan rumah karena yakin dengan pemahaman Heliocentris di masanya.
Agustus 6, 2008 pada 4:12 pm
N. Arifin
Evolusi buat masyarakat di barat terutama atheis dan penganut scientology adalah Al-Kitab mereka. Mereka akan sedapat(semaximal) mungkin ngeles. Lawan nya banyak, terutama orang ber agama samawi (Islam, Kristen, Yahudi) yang menggunakan kitab Qur’an, Taurat, dan Injil.
Sayangnya umat Islam nggak punya ilmuwan dan riset yang kuat untuk membantah mereka.
Maaf, kita berdebat tanpa data.
Tapi kalau dilihat dari peristiwa di diri kita sendiri sebenarnya tidak ada evolusi. Anggapan saya bila dilihat di tingkat seluler. Dalam embriologi, ketika sel sperma membuahi ovum dan terjadi pembelahan sel, kemudian setiap sel berdiferensiasi – dan bukan evolusi. Di peristiwa tersebut terdapat berbagai macam kreasi (diferensiasi) sel. Dari satu sel menjadi banyak dengan perbedaan dari setiap sel-selnya – bisa menjadi sel otot, tulang, otak dll – yang seluruhnya berasal dari satu sel. Artinya ada suatu program dalam DNA sel induk yang sesuai dengan penciptaan dengan organisasi/manajemen yang sempurna.
Sayangnya saya bicara tidak didukung data. Jadi maaf kalau mungkin bisa jadi salah.
Agustus 9, 2008 pada 6:20 am
Mikhael
Salam,
Bagi saya kedua teori ini masih memungkinkan untuk menjadi salah dan memungkinkan menjadi benar..
Karena kedua teori ini (creation-evolution) tidak didukung oleh bukti2 yang 100% sahih..
Hanya pertanyaan yang cukup menggangu pada saya..
Jika memang semua mahluk diciptakan sempurna dan masing2 organ mempunyai kegunaan…
Apakah kegunaan “kuku” pada sirip Manatee / Sea Cow..?
peace
September 10, 2008 pada 5:51 am
Fernando Adventius
Seandainya Bapak mencoba menerapkan keyakinan Bapak dalam science, itu adalah hak Bapak. Namun alangkah baiknya jika Bapak terlebih dahulu mengajukan sanggahan Bapak terhadap teori Evolusi di dalam sebuah komunitas ilmiah didasarkan kepada hasil riset dan temuan ilmiah.
Alangkah baiknya jika Bapak menulis sebuah paper yang menjatuhkan teori itu. Bahkan teori seorang ilmuwan besar seperti Stephen Hawking (Professor di Cambridge) bisa dijatuhkan oleh Juan Maldacena seorang mahasiswa S-2 asal Argentina. JANGAN HANYA BISA MENULIS DI WORDPRESS.
Banyak sekali orang yang berusaha menuangkan agama terhadap science dan melanggar kaidah-kaidah penelitian yang ada yaitu value-free & objectivity. Salah satunya adalah Adnan Ottar yang tidak memiliki background yang sesuai dan menyebarkan sebuah “anti-evolutional science” kepada masyarakat – dan masyarakat percaya terhadap pendapatnya tersebut dan menganggapnya sebagai science yang shahih.
Saya sampai sekarang tidak setuju dengan teori evolusi namun setelah membaca paper-paper dan literatur-literatur di perpus ITB & FK-Maranatha selama 5 tahun lebih (sejak awal TPB hingga saat ini) saya akhirnya menerima teori evolusi sebagai kebenaran “temporary” yang bisa berubah setiap saat.
Alumni EL ITB 132 03 168
September 15, 2008 pada 3:00 am
mahawirasd
1. saya cukup yakin teori evolusi tidak menghilangkan sebuah kebutuhan ontologis akan adanya “sang pencipta”. Mungkin ada baiknya kita semua pelajari kembali apa yang dikemukakan Darwin sekaligus belajar sedikit tentang epistemologi…
2. tidak ada teori/hukum yang sempurna, dan kalo mau melihat satu persatu mungkin beberapa hasil penelitian darwin kurang tepat, tapi yang penting semangat dan jiwa “evolusi” itu sendiri menurut saya sudah benar adanya.
Kenapa benar?
karena kita bisa melihat bahwa konsep (yang jika dituliskan kasarnya) “evolusi-atau-mati” itu benar bagi berbagai macam organisme, baik biologis maupun non-biologis…
Darwin merupakan seorang pionir yang menunjukkan sifat dasar kehidupan organisme2 dimana organisme2 akan berusaha untuk menyelamatkan dan melindungi diri sendiri hingga berubah baik secara morfologis dan/atau fisiologis untuk tetap selamat. Lagi2 hal ini berlaku juga pada entitas2 non-biologis.
Sebuah contoh yang mudah anda perhatikan (karena laju evolusinya lebih terlihat dan lebih mudah diamati) adalah konstruk2 fisiologis manusia seperti kelompok2 sosial, partai, dan entitas bisnis. Ketika manusia secara morfologis sudah “cukup” untuk mencapai tujuan2 yg diinginkan, maka ia akan mengasah fisiologi yang dimilikinya agar ia menjadi lebih efisien. Terlihat sepanjang sejarah bahwa organisme2 sosial manusia cenderung menjadi semakin kompleks dan efisien dimana bagian2 yang tidak efisien dan tidak adaptif mati dengan sendirinya.
Dalam skala yang lebih kecil, anda dapat melihat bagaimana bisnis-bisnis harus beradaptasi dengan market pressure bila tidak ingin kolaps. Begitu juga dengan partai-partai yang menjual ideologi demi konstituennya agar tetap eksis.
3. Konsep “homo imago dei” sudah ada dari zaman yunani kuno. Manusia memang egois dan narsis. Apakah hanya karena hal tersebut kita segitunya melupakan bahwa masih ada kemungkinan-kemungkinan lain yang mungkin saja benar?
Begitu sombongkah manusia?
Begitu butakah kita?
4. all in all, saya yakin konsep evolusi-atau-mati akan lebih sistematis dan edukatif daripada konsep kreasionisme yang micro-managing…
-w-
mahawirasd{at}yahoo.com
Oktober 18, 2008 pada 5:46 pm
harjo
@Fernando
Saya dulu tidak percaya Teori Evolusi, makanya saya masuk Biologi untuk membuktikan patut dipercaya atau tidak. Yang saya peroleh justru, memang Teori Evolusi tidak layak untuk dipercaya. Banyak contoh kasus yg membuat kita tidak perlu mempercayainya. Belum lama ini dalam sebuah Majalah National Geographic, ada sebuah artikel berjudul “Perangkap T.Rex, Kisah kematian dalam sebongkah batu” yang ditulis oleh Peter Gwin dalam edisi Juli 2008. Sebuah tulisan yang menjelaskan mengenai penemuan berbagai macam fosil dinosaurus belum lama ini dalam sebuah bongkahan batu oleh Paleontolog James Clark dan Xu Xing di Basin Junggar, China. Tumpukan fosil tersebut terdiri dari 5 jenis binatang dinosaurus berkaki dua yang berukuran mini. Di mana pada bagian atas diidentifikasi sebagai Guanlong wucaii, kemudian di bawahnya juga dari jenis yang sama, di bawah kedua Guanlong tersebut adalah seeokor dinosaurus yang masih belum diidentikasi, sedangkan pada lapisan ke empat dan lima diidentikasi sebagai Ceratosaurs, yaitu dinosaurus karnivora pimitif. Sebuah penemuan yang menurut mereka sangat fenomenal. Karena dari penemuan ini pulalah yang pada akhirnya memunculkan teori ledakan evolusi dinosaurus pada 165 juta – 155 juta tahun yang lalu. Sehingga dari sini pula dibangun teori-teori baru, mengenai sejarah evolusi dinosaurus. Menurutnya bahwa dinosaurus kerdil ini merupakan leluhur dari dinosaurus raksasa yang dikenal menjelang kepunahannya seperti Ceraptosian, Stegosaurus, dan Tyranosaurus. Lalu mengapa ukurannya menjadi besar? Ada 2 teori yang dimunculkan (lagi). Pertama, saat itu muncul tanaman berbunga yang sangat berlimpah dan sangat kaya dengan nutrisi yang mengakibatkan pertumbuhan badannya menjadi meningkat. Kedua, gigantisme pada dinosaurus herbivora disebabkan oleh mekanisme untuk pertahanan hidup terhadap terhadap serangan predator. Kondisi ini akhirnya memicu dinosaurus karnivora untuk lebih besar lagi agar mampu memburu dinosaurus herbivora.
Untuk menjawab mengenai mengapa dinosaurus-dinosaurus kerdil itu terperangkap dan saling bertumpuk dalam bongkahan batu?. Berikut penuturannya “Mungkin jeritan binatang yang sekarat menarik seekor dinosaurus ke dalam perangkap. Predator tersebut meronta-ronta tak berdaya di dalam lumpur, tetapi kaki-kakinya tak bisa mencapai dasar. Binatang malang itu perlahan menerima takdirnya. Namun sebelum itu terjadi, perjuangan si dinosaurus menarik perhatian predator lainnya ke dalam lubang tersebut untuk melanjutkan siklus perangkap kematian.” (NG, Juli 2008, hlm 82).
Layakah cerita di atas bisa kita terima dengan akal sehat? Ilmiahkah pendapat-pendapat tersebut? Apakah hanya karena yang menulis adalah seorang pakar dan ditulis dalam majalah yang juga punya reputasi internasional, lalu dianggap sebuah kebenaran??? Saya berpendapat, justru penemuan ini lebih mendukung adanya peristiwa jaman Air Bah sebagaimana ditulis dalam Kitab Taurat, Musa. Timbunan fosil fosil yang bertumpuk dari berbagai jenis binatang dalam sebuah bongkahan batu yang tercampur aduk itu menunjukkan bahwa binatang itu seperti sedang mengaduk lumpur demi perjuangannya melawan kematian akibat banjir bah. Tentu pendapat ini akan didebat lagi, “apakah manusia pernah hidup sejaman dengan dinosaurus?. Ini merupakan perdebatan tersendiri, tetapi saya bisa membuktikan bahwa manusia memang hidup sejaman dengan dinosaurus. Sebagaimana contoh bahwa pernah ditemukan fosil jejak kaki manusia justru berdampingan dengan fosil jejak kaki dinosaurus di Sungai Paluxy, Texas. Penemuan oleh James Clark dan Xu Xing menambah daftar panjang bukti bahwa jaman air bah memang benar-benar pernah terjadi. Sebelumnya adalah penemuan ribuan fosil ikan termasuk ikan paus di pegunungan Alpen dan juga di Rockies Kanada. Contoh lain, adalah diketemukannya tumpukan ribuan fosil yang terbentang di sebelah Timur Agate Springs, Nebraska yang dipamerkan di American Museum of Natural History. Keadaan ini tentu hanya bisa dijelaskan oleh peristiwa air bah yang terkubur di dalam sedimen yang kemudian mengeras dan membatu.
Teori evolusi tentu akan membuang jauh-jauh mengenai peristiwa Air Bah ini, karena akan meruntuhkan teori evolusi itu sendiri. Tetapi coba lihat saja, bagaimana anehnya teori ledakan evolui dinosaurus itu disusun. Apakah dengan makan makanan yang banyak dengan gizi yang cukup akan membuat seekor makhluk hidup tumbuh menjadi makhluk raksasa, seperti Ceraptosian, Stegosaurus, dan Tyranosaurus. Padahal ukuran tubuh yang besar bukan merupakan ukuran keberhasilan evolusi, justru kemunduran.
Oktober 18, 2008 pada 5:50 pm
aQuincy
Tulisan anda menurut saya sangat tidak sesuai dengan scientific culture yang seharusnya. Anda terlalu memasukkan keyakinan agama anda untuk membahas masalah yang sesungguhnya ilmiah. Saya yakin sekali bahwa ketidaksetujuan anda terhadap teori evolusi Darwin (awalnya) memang karena sangat didasari oleh pertentangan teori itu terhadap suatu ‘fakta’ yang anda baca (atau anda dengar) dari ajaran agama anda. Anda lebih cenderung menganggap bahwa science adalah sesuatu yang salah ketika tidak sesuai dengan ‘fakta’ dalam kitab ajaran agama anda. Anda lebih percaya pada dogma, daripada pemikiran logis ilmiah.
Setelah membaca tulisan ini, saya sempat awalnya berpikir anda adalah orang awam yang mungkin sedikit sekali pernah membaca buku-buku biologi, dan jurnal-jurnal biologi internasional. Tapi, setelah saya meng-klik “about me” dan melihat bahwa profesi anda sebagai seorang dosen… dan ternyata dosen BIOLOGI.. di universitas (yang katanya) memiliki ‘kualitas’ sangat bagus di Indonesia… saya hanya bisa terbengong dan heran dalam hati… ternyata seperti ini kualitas seorang dosen biologi ITB; Tidak Percaya pada sebuah teori yang sangat logis dan diakui secara ilmiah sampai saat ini oleh para biologist dunia yang credible.
Perlu diketahui, tindakkan menghapus teori evolusi dari buku pelajaran sekolah dan menggantinya dengan dogma agama adalah PEMBODOHAN BESAR. Sekolah yang ada sekarang, termasuk ITB tempat anda mengajar, bukanlah tempat untuk menaruh dogma yang berdasar atas keyakinan semata, melainkan tempat untuk berpikir secara logis dan ilmiah, berdebat dan beragumen secara ilmiah. Jangan memaksakan segala macam teori lain dan statement untuk menyerang suatu teori hanya karena semata-mata teori yang anda serang itu tidak sesuai dengan agama anda. Teori Evolusi Darwin adalah yang terbaik, terlogis, paling terbukti ilmiah sampai saat ini yang memberikan gambaran garis besar bagaimana the origin of species. It makes sense!
Sebaiknya anda menaruh identitas dan segala pikiran anda tentang agama anda di luar pintu masuk sebelum memasuki suatu forum ilmiah, sebelum anda membuat sebuah argumen yang terkadang hanya berdasarkan ajaran agama anda, bukan ajaran untuk semua orang.
Apakah anda pikir, agama anda adalah yang paling benar?
(If you read this comment then immediately delete it, it means you are so childish to response on other people’s criticism.)
Oktober 18, 2008 pada 6:22 pm
harjo
@aQuincy
Apa sih yang dimaksud scientific culture? Apakah dengan membuat manusia Piltdown? Apakah dengan merekonstruksi P. erectus yang cuma berasal dari 1 tulang femur, 1 tulang geraham, dan 1 tulang tempurung yg ditemukan berjauhan dan juga pada tahun yg masing-masing berbeda pula? Tetapi anehnya dia bisa merekontruksi menjadi seperti yg terlihat di museum-museum itu. Lalu ditunjukan kepada dunia, inilah nenek moyang kita, si manusia kera H.erectus kepada orang yg tidak tahu apa2. Dan bagaimana asal-usul manusia Sangiran itu direkonstruksi. Seolah-olah menjadi sebuah kebenaran? Lalu di mana ilmiahnya?
Mungkin jika Anda pernah belajar pelajaran Sejarah (IPS) waktu SMP dulu kita kenal yg namanya H.wajakensi atau H. soloensis? Lalu kemana sekarang larinya?. Tidak lagi ditulis di pelajaran IPA, karena apa? Tidak sesuai dengan urut-urutan paradigma teori evolusi. H.wajakensis tidak boleh ditemukan!!! Meskipun penemuannya sendiri tidak jauh dari diketemukannya H.erectus, pada lapisan tanah yang sama oleh Dubois. Penemuan H. wajakensis harus dimusnahkan, karena tidak sesuai dengan “scientific culture”.
Februari 5, 2009 pada 6:29 am
Arief juniawan,drh
harun yahya adalah sebutir debu dilautan samudera ilmu darwin.harun yahya hanya tahu sekelimut ilmu ALLAH
Februari 5, 2009 pada 2:51 pm
harjo
@ Arief,
Saking dalamnya samudera ilmu Darwin, justru dalam bukunya “The Origin Species” dia tidak bisa lagi mengukur, apakah pendapatnya ilmiah atau tidak? Pantaskan sebuah pendapat atau dugaan yang banyak bertebaran di bukunya Darwin, bisa dijadikan sebagai bukti? Dugaan, dari seorang Darwin sama sekali tidak bisa dijadikan bukti kebenaran evolusi.
Inilah satu-satunya keberhasilan Darwin, yaitu mewarisi cara berpikir yang spekulasi. Yg justru saat ini diajarkan pada anak-anak sekolah, seolah Doktrin evolusi, merupakan kebenaran mutlak.
Sudah waktunya fantasi evolusi ini dihilangkan dari dunia pendidikan IPA/Biologi. Karena menghambat perkembangan ilmu Biologi itu sendiri.
Februari 8, 2009 pada 9:30 am
John Acramena
Teori Darwin memang hanyalah sebuah teori, dari dulu sampai sekarang pun masih sebuah teori. Sudah berkali-kali para ilmuan dari seluruh mancanegara menguji keterkaitan teori ini dengan analisa yang paling logis tentang kemungkinan bagaimana the origin of species, dan hasilnya.. teori ini sangat kuat bertahan (survive) sebagai penjelasan yang paling masuk akal tentang asal muasal kehidupan.
Biar begitu para scientist belum menyebutnya sebagai kebenaran yang MUTLAK, yang harus sangat dipercaya apalagi diimani. Tapi kenyataannya, teori ini memang sangat kuat sampai saat ini sebagai penjelasan asal muasal kehidupan dan keanekaragamannya. Tidaklah salah jika orang sains tetap mengatakan bahwa Teori Darwin valid, ketimbang mereka mengatakan bahwa asal muasal kehidupan adalah seperti yang tertera di kitab suci agama-agama. Karena mempercayai suatu hal begitu saja (seperti yg dilakukan org2 beriman) tidaklah cocok diterapkan dalam pencarian kebenaran sebagai seorang scientist.
Scientist bukan memaksa diri untuk membuktikan evolusi itu benar. Mereka itu netral, dan hanya memberikan fakta dan hipotesa logis yg kuat. Kalo hasil observasi mereka bertentangan dengan ajaran agama anda, mereka tidaklah salah, mereka hanya menceritakan anda fakta nyatanya. Sisanya, tergantung anda apakah anda mengikuti hasil observasi nyata para scientist, ato tetap bersikukuh: Agama saya adalah Agama yang PALING BENAR.
Februari 10, 2009 pada 5:28 am
harjo
@John Acramena,
Saya menyebut, “SEOLAH Doktrin evolusi, merupakan kebenaran mutlak”. Jadi memang bukan sebuah kebenaran yang mutlak. Lebih tepat disebut sebagai sebuah fantasi/khayalan dari seorang Darwin mengenai asal muasal kehidupan.
Saya termasuk orang yang menolak teori evolusi ini, justru BUKAN BERDASARKAN AGAMA. Melainkan teori yang dikembangkan dan bukti-bukti yang dikemukakan oleh para evolusionis itu sendiri, yang menurut saya justru tidak ilmiah dan tidak masuk akal. Bahkan tidak sedikit memaksakan kehendak melalui pengadaan bukti-bukti palsu.
Fakta nyata hasil observasi yang saya ikuti justru membuktikan bahwa teori evolusi yg dikemukakan oleh Darwin itu tidak benar. Sehingga:
TIDAK DIBUTUHKAN AGAMA, UNTUK MENOLAK KETIDAKBENARAN TEORI EVOLUSI ini.
Agama adalah sebuah kepercayaan, dan tidak dibutuhkan bukti untuk orang mempercayainya. Kalau pun ada bukti, itu cukup untuk lebih meningkatkan keimanan terhadap Agama yang diyakininya.
Berbeda dengan Teori Evolusi, yang katanya ilmiah. Sehingga sudah sepantasnya harus dapat diuji kebenarannya, dan terbukti. Kenyatannya? Tidak ada bukti, yang mendukung kebenaran Teori Evolusi tersebut.
Februari 10, 2009 pada 9:54 am
Alvaro Mikhael
Mestinya teori evolusi itu masih sebatas teori, jangan dianggap sebagai cabang keilmuan.
karena dari teori evolusi yang dikemukakan Darwin sampai detik ini pun masih diragukan,tidak ada bukti yang kuat untuk menghapus “difficulty of theory”-nya Darwin.
semua masih berupa dugaan.
Februari 12, 2009 pada 1:50 am
harjo
@Alvaro,
Apakah hanya sebatas dugaan? Coba saja anda cek majalah National Gaographic. Atau coba anda baca Majalah Scientific American edisi Des 2008. Atau coba hadiri hari ini (12/02/09) di UI pkl 13.00 nanti di FIB UI. Betapa hebatnya pengaruh fantasi Darwin ini.
Jawabnya, bukan lagi dugaan! Melainkan sebuah kebenaran!
Februari 18, 2009 pada 10:04 am
Hadi Setyono
inna matsala ‘iisaa ‘inda allaahi kamatsali aadama khalaqahu min turaabin tsumma qaala lahu kun fayakuunu
[3:59] Sesungguhnya misal (penciptaan) ‘Isa di sisi AllAh, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia. (ALI ‘IMRAN (KELUARGA ‘IMRAN) ayat 59)
Manusia diciptakan oleh Allah dari Tanah, dan bukan dari evolusi bangsa primitif. Hanya orang yang beriman saja yang mengimani kitab suci dan menjadi pembeda antara yang haq dan yang bathil. Kejadian manusia disebutkan dengan perkataan kun fayakuun.
Maret 29, 2009 pada 12:28 pm
muhammad zulfadhli bin yahya
Salam,Darwin?emm,he said that we develop from ape.how come?huhu.I wanna give a brief opinion about this.As a moslem,we know that long time ago,there are a few group of people that overlimit,did something that prohibited by God then they all has been cursed to be ape.Then come Darwin that suddenly came with a controversial theory.Last but not least,i not agree with darwin theory.Atur nuhun=)
April 13, 2009 pada 7:01 pm
Face
Perdebatan ini susah sekali di lanjutkan kalau ada salah satu pihak dengan hanya bermodalkan KEYAKINANNYA untuk menunjukkan kalau pendapatnyalah yang benar……di tambah dengan remah2 yang dianggapnya bukti ilmiah sebagai pendukungnya … bukan bersikap out of the box dan terjun langsung ke lapangan untuk membuktikannya….
Mei 6, 2009 pada 8:53 am
Harjo
@ Face,
Kalau soal keyakinan, itu tidak usah diperdebatkan lagi. Namanya juga keyakinan, itu adalah urusan masing-masing orang terhadap apa yang diyakininya, termasuk di dalamnya soal Agama. Kalau saja Teori Evolusi dianggap sebagai sebuah keyakinan, tentu tidak perlu juga diperdebatkan. Persoalannya, bahwa Teori Evolusi dikatakan teori ilmiah sehingga ada ruang untuk diperdebatkan benar tidak nya teori tersebut. Dan saya sama sekali tidak melihat ada nya bukti-bukti yang dapat menguatkan teori tersebut.
Mengenai remah-remah yang anda kemukakan, justru cara seperti itulah yang digunakan para evolusionis untuk meyakinkan kepada seberapa banyak orang yang dapat diyakinkan.
Juni 27, 2009 pada 9:02 am
saska
Kalo saya mah.. yakin sama teori evolusi.. karena semakin membuat saya yakin dengan dinul Islam…
he he he..
keselamatan untuk semuanya..
September 4, 2009 pada 9:33 am
Yoan Hazalea Hasan
nabi adam adalah manusia pertama…
dan d jelaskan bahwa nabi adam adalah manusia… bukan sejenis kera..
MUNGkin saja keturunan nabi adam ada yang 2 peradaban…
yg satu manusia.. dan yang satunya lagi kera yang mirip manusia…. nahhh
yang d temukan darwin itu peradaban yang satunya… jdi darwin menyimpulkan bahwa manusia berasal dari sejenis kera… (MENURUTKU)
jawaban ini belum tentu benar… okeeeeeeeeee
ini cuma pendapat….
November 5, 2009 pada 7:46 am
Arief juniawan,drh
yang semakin yakin dgn teori evolusi adalah berarti memahami bahwa segala kejadian melalui proses….yang tidak yakin berarti percaya bahwa segala kejadian tanpa proses….ALLAHpun mengajarkan manusia apa-apa yag blm diketahui manusia dgn proses…IQRA….Bacalah….dengan nama Tuhanmu……
November 21, 2009 pada 10:13 am
taufikurahman
Dalam menciptakan sesuatu Allah SWT tidak harus melaluinya dg “proses” sbgmn yg dipahami manusia. Selain itu jikapun pernyataan bahwa dalam menciptakan sesuatu itu perlu proses, teori evolusi Darwin bukan penjelasan yang benar tentang bagaimana Allah SWT melakukan “proses” penciptaan makhluk hidup.
November 11, 2009 pada 3:54 am
syamsul bahri
bukan koment bukan saran……
manusia pertama adalah nabi adam….
teori darwin itu ada benarnya dr segi logika,tetapi lebih banyak salahnya…
jadi manusia itu bukan keturunan kera,..
kera hanya menyerupai manusia……..