Tadi pagi di Metro TV saya lihat laporan VOA tentang pameran anggrek sebuah taman anggrek di Amerika. Rupanya banyak juga pencinta anggrek di Amerika, dan anggreknya juga beraneka jenis kelihatannya. Tentu saja, anggrek disana ditanam didalam rumah kaca (green house) untuk menjaga agar kondisi lingkungannya hangat dan lembab seperti di Tropika, tempat asal dari berbagai jenis anggrek yang menarik. Dengan teknik kultur jaringan, enggrek tropika kita yang khas, endemik, dan tentu saja indah, bisa diperbanyak tak terbatas di negeri orang … 

 

Kebetulan juga dua batang anggrek Vanda di rumah saya sedang mulai berbunga, satu putih, satu lagi ungu.  Sebetulnya seorang teman pernah memberi anggrek Cattleya, yang lebih unik, cantik, dan tentu lebih mahal dari vanda, tapi sayang terkena jamur dan tak terselamatkan. Saya jadi ingat teman saya, senior di SITH, yang sebelumnya sangat gemar bertanam anggrek sehingga didepan pekarangan rumahnya yang tidak luas ada rak-rak dipenuhi anggrek. Sekali waktu beliau bercerita sedih, anggrek-anggreknya yang indah itu habis… gara-gara jamur. Saya tidak tahu apakah beliau sudah kembali memelihara anggrek lagi atau tidak, karena sekarang beliau sudah pensiun sehingga kami jarang ketemu lagi.

 

Banyak anggrek tropis Indonesia yang endemis mungkin sekarang sudah menghiasi taman-taman angrek di Amerika, Eropa, jepang….

Sekali anggrek berbunga, kita bisa bisa menikmati bunga anggrek dalam waktu yang cukup lama, beberapa minggu hingga lebih dari satu bulan, tentu tergantung dari jenis anggreknya. Sayang pamor anggrek saat ini kalah dibanding dengan tanaman daun seperti gelombang cinta dan teman-temannya yang harganya bisa mencapai ratusan juta rupiah, harga yang tidak rasional lagi untuk sebatang tanaman.