Tomcat atau Rove beetle tidak menggigit atau menyengat, tetapi “darah” atau lebih tepat disebut cairan hemolymph-nya mengandung senyawa racun kuat yang disebut pederin (C24 H43 O9 N) yang dapat menyebabkan iritasi kulit dan mata. Jika tomcat di tepuk spt yg kita lakukan thd nyamuk, darahnya akan diserap oleh kulit kita dan ini yang menyebabkan iritasi serius pd kulit. Jadi jika binatang ini bersentuhan dengan kulit anda, jangan ditepuk tapi cukup ditiup dan atau disemprot atau siram cairan sabun. Cairan sabun akan dengan cepat mengusir senyawa toksin nya sebelum merembas masuk ke kulit. Jadi apabila anda berada di daerah yang banyak dihuni tomcat, disarankan bawa cairan sabun dalam botol.

Apabila anda terkena tomcat, setelah kulit yang terkena itu segera disiram dengan air sabun, anda dianjurkan untuk mengompres bagian yang terkena dengan es lalu oleskan lidah buaya atau salep hydrocortisone 1% atau salep betametasone atau Salep Acyclovir 5% untuk menghilangkan bekas luka terbakar pada kulit yang terkena. Untuk mencegah alergi lebih lanjut anda dapat mengkonsumsi antistamin seperti CTM dan antibiotik neomycin sulfat. Untuk hal ini baiknya konsultasikan pada dokter.

Sebutan lokal untuk hewan ini macam-macam, ada yang menyebutnya “jungkit” karena ekornya bisa menjungkit, ada yang menyebutnya semut semai, semut kayap atau semut charlie karena sekilas bentuknya memang seperti semut. Tomcat sebenarnya bukan termasuk kelompok semut, tapi termasuk kelompok kumbang atau beetle, dan diluar dikenal dengan nama “beetle rove”. Nama latin hewan ini adalah Paederus dermatitis, atau P. riparia, P. littoralis, dsb termasuk kedalam ordo Coleoptera (kumbang-kumbangan) dan family Staphylinidae (“rove beetles”). Ada lebih kurang 600 species dari genus Paederus ini. Disebut “Tomcat” barangkali karena bentuk hewan ini mirip pesawat F-14 Tomcat yang ramping.

Serangga tomcat yang mampu memproduksi hemolymph toxin adalah yang betina, sementara yang jantan tidak mampu memproduksi sendiri dan hanya memperoleh dari induknya saat masih telur atau larva, dan akan jauh berkurang atau hilang seiring dengan pertumbuhan. Fakta yang menarik ternyata tidak semua betina tomcat dapat memproduksi toksin ini, ada yang tidak mampu memproduksinya, jadi ada semacam polimorfisme secara genetik dalam hal kemampuan memproduksi senyawa racun tersebut. Selain itu diduga bahwa toksin yang dimiliki oleh serangga ini sebenarnya tidak diproduksi sendiri, tetapi dihasilkan oleh bakteri sejenis Pseudomonas yang bersimbiosis didalam tubuhnya.

Informasi lebih lanjut tentang ini silakan refer ke situs berikut

http://en.wikipedia.org/wiki/Paederus
http://id.wikipedia.org/wiki/Serangga_Tomcat
http://www.health.nsw.gov.au/factsheets/environmental/rove_beetles.html
*sumber gbr: http://www.ces.csiro.au/aicn/name_c/a_4652.htm