Saat-saat seperti ini, sesudah pengumuman kelulusan di SMA dan undangan masuk ke PT sudah diterima oleh calon -calon mahasiswa yang beruntung, saya jadi teringat kembali 31 tahun lalu, di tahun 1980 saat saya baru saja lulus SMA dan melalui Perintis II saya diterima di ITB. Perintis II itu jalur undangan masuk ke perguruan tanpa testing masuk, yang pakai testing dulu Perintis I. Saat itu melalui Perintis II ITB dan UI hanya menerima untuk jalur FMIPA, sedang IPB bisa untuk semua jurusan. Tentu saja saya senang sekali bisa diterima di ITB dan tidak perlu repot-repot menyiapkan diri untuk beli formulir Perintis I dan testing.

Dari SMA kami, satu-satunya SMA negeri di Bekasi saat itu, selain saya ada 3 orang teman saya yang juga diterima di ITB, satu orang di UI dan 6 orang di IPB. Selain kami dan keluarga yang senang, tentu guru-guru di sekolahpun senang murid-muridnya diterima di PT negeri yang bergengsi di negeri ini tanpa testing, itu semacam pengakuan terhadap kredibilitas dan prestasi sekolah kami.

Kendati demikian saya juga mendapat informasi kalau beberapa guru di SMA saya mengomentari tentang saya diterima di ITB sebagai kurang pas, menurut mereka saya lebih pas memilih jurusan sosial. Barangkali itu karena beberapa guru melihat potensi saya sewaktu aktif di OSIS. Saya sendiri sebetulnya malah menyiapkan diri untuk mendaftar ke IAIN, itu barangkali karena pengaruh kakak sepupu saya yang sudah kuliah disana, karena itu saya menyiapkan pasfoto untuk ijazah saya berkopiah. Namun dengan surat penerimaan dari ITB ditangan, saya tidak lagi berpikir untuk ikutan testing masuk ke PT lain. Seingat saya ada beberapa teman yang sudah diterima di IPB tetapi sebetulnya ingin diterima di ITB hanya bukan di FMIPA lalu ikutan testing, ada yang diterima (kasus teman dari SMA lain), tapi banyak yang tidak berhasil.

Begitulah jalan nasib saya 31 tahun yang lalu, yang tentu saja saya syukuri, mendapat undangan masuk ITB tanpa testing, sementara sekian ribu teman-teman seangkatan saya diseluruh Indonesia harus ketar-ketir menyiapkan diri menghadapi testing masuk ke perguruan tinggi negeri favorit mereka. Barangkali boleh dikatakan bahwa saat itu saya kurang memiliki keinginan yang kuat untuk masuk jurusan tertentu, seperti kedokteran, itu karena saya mendapat informasi kalau sekolah kedokteran itu mahal, sedangkan orang tua saya hanya seorang guru SD, jadi sayapun mengurungkan niat untuk kuliah di kedokteran, dan menerima sebuah pilihan hidup dan karier masa depan dengan berkuliah di ITB.

Kepada mereka yang telah mendapatkan undangan masuk ke ITB tahun 2011 saya mengucapkan SELAMAT ! dan syukurilah anugerah tersebut dengan kelak serius belajar di ITB. Kepada yang belum diterima, jangan berputus asa, mudah-mudahan melalui jalur SNMPTN anda dapat diterima. Kalaupun melalui jalur SNMPTN belum diterima tahun ini, jangan patah arang, masih ada tahun dpan dan berikutnya, sementara itu anda bisa mengasah kemampuan agar lolos testing. Saya tahu cukup banyak yang masuk ke ITB atau PT lain setahun atau dua tahun setelah dia lulus dari SMA-nya.