by Taura Taufikurahman on Saturday, May 21, 2011 at 10:42pm

“Ustadz, tolonglah selamatkan saya” pinta akhawat itu memelas diujung telpon. Sang Ustadz termangu sejenak lalu menjawab sambil keningnya berkerut “ya insyaAllah nanti akan saya coba carikan”. Diujung telpon itu seorang akhwat menelpon sang Ustadz, meminta dicarikan calon suami seorang ikhwan segera, karena jika tidak maka dalam beberapa hari ini dia akan dipinang oleh seorang pilihan orang tuanya.

Sang ustadz kemudian mengingat-ingat siapa diantara mad’u-nya yang masih bujangan dan kira-kira siap untuk menikah segera. Setelah berpikir dan memilih-milih, akhirnya sang Ustdz-pun menelpon seorang ikhwan untuk datang menemuinya sekarang juga. Ketika sang ikhwan itu datang, sang ustdz tanpa panjang lebar langsung meminta kesiapan mad’u-nya itu untuk menikah dalam beberapa hari ini dengan seorang akhwat yang telah dipilih. Tanpa berpikir panjang, dan sama sekali belum mengenal nama dan wajah akhwat yang akan dijodohkan dengan nya, ikhwan ini menyatakan “siap ustadz”.

Maka di sore itu sang ustadz dengan mad’unya datang ke rumah orang tua akhawat itu untuk meminang sang akhwat, padahal rencananya malam harinya akan datang lelaki lain yang juga akan melamar sang akhwat tersebut. Orang tua akhwat ini setelah menimbang-nimbang dengan seksama, akhirnya menerima lamaran ikhwan ini dengan syarat tentu saja nanti harus ada mahar pada saat pernikahan, yang waktunya ditentukan hanya beberapa hari lagi.

Sepulang dari khitbah (lamaran) tersebut, ikhwan inipun sibuk meminjam ke sanak saudara dan tetangga untuk membeli mas kawinnya. Maka pada hari yang telah ditentukan, dilangsungkanlah pernikahan itu secara sederhana, maka jadilah kemudian mereka pasangan suami-isteri yang bahagia. Pasangan ini selanjutnya dikaruniai banyak anak yang shaleh dan shalehah dan limpahan rizki yang cukup dari Allah SWT.

—- cerita dari seorang Ustdz, mengenang sang akhwat (ustadzah) yang telah berpulang keharibaan Khaliq-nya, diiringi do’a: “Allahumaghfirlaha warhamha wa’afiha wa’fu anha”.