by Taura Taufikurahman on Thursday, May 12, 2011 at 12:49pm

Bagi sebagian ustadz, menjadi khatib shalat jum’at bisa memberikan stres sendiri, ada yang kalau jadwalnya tiba, mendadak mengalami perut mules, sering harus sering buang air kecil, sampai gelisah hingga saatnya tiba. Belum lagi kalau lokasi masjidnya relatif jauh, ditambah dengan kemacetan lalu lintas, untuk mengejar waktu, apakah naik mobil sendiri atau bawa motor sering keringat dingin keluar, khawatir telat.

Seorang teman pernah bercerita, sekali waktu dia harus menjadi khatib shalat jum’at di masjid yang letaknya cukup jauh. Dengan motor honda bebek yang sudah tua teman ini ngebut untuk sampai di masjid tepat waktu, dengan berkelak-kelok diantara mobil-mobil, akhirnya sampai juga di masjid yang dituju “just on time” .

Sesampainya di masjid, sang ustadz disambut dengan senyum lega DKM yang juga mulai terlihat panik, karena saat adzan sudah masuk. “mangga ustz, sudah masuk waktunya” kata sang DKM sambil mempersilakan khatib masuk melalui mihrab dan naik mimbar. Maka, naik mimbarlah sang khatib, dengan mengucapkan salam kepada hadirin yang sudah memadati masjid. Ketika salam itu, sang khatib kita ini heran, kenapa para jama’ah tidak menjawab salamnya dengan benar malah banyak yang telihat tersenyum2 kearah khatib kita ini…

Pak DKM yang duduk didepan membisiki Ustadz kalau helm-nya masih bertengger di kepala beliau. Ups !

Barangkali ada baiknya di mihrab setiap masjid disediakan cermin agar khatib dapat melihat penampilannya terlebih dahulu sebelum naik mimbar….