Waktu itu saya masih kelas 1 SMA di satu-satunya SMA yang ada di Bekasi saat itu. SMA kami belum punya masjid, jadi kalau jum’atan, sebuah kelas disulap menjadi masjid.

Kakak kelas yang menjadi seksi rohani OSIS mengajak saya untuk membantu beliau. Diantara yang diminta adalah saya dijadwal kebagian menjadi mu’adzin. Persisnya saya lupa apakah itu jum’atan pertama dimana saya bertugas sebagai muadzin atau sudah yang keberapa kali. Saat itu yang menjadi khatib adalah guru Agama kami tercinta. Ceritanya, setelah khatib naik mimbar, saya pun berdiri untuk azan… so far so good-lah.

Nah, setelah azan itu dan khatib mulai berkhutbah, saya rupanya terserang kantuk beurat… lalu tertidur. Tentu saya tidak ingat sudah berapa lama saya tertidur ketika tiba-tiba lamat-lamat saya mendengar sepertinya khutbah telah selesai, maka sebagai muadzin yang sigap sayapun yang tadinya tertidur segera bangkit dan langsung qomat “Allahu akbar-Allahuakbar, asyhadu anlaa ilaha illallah….” … tapi belum selesai saya qomat, khatib memberi isyarat dengan tangannya, dan saya lihat orang-orang memandang saya seperti makhluk aneh. Ya Salam… saya baru menyadari rupanya itu baru khutbah pertama… teman2, para guru tentu melihat saya dengan heran, ada yang mendelik, ada yang senyum-senyum (karena kalau ketawa batal shalatnya…). Aduh malunya saya saat itu, qomat belum selesai sayapun harus duduk dengan lemas. Setelah itu tentu saya tidak bisa tertidur lagi, dan harus melotot sampai khutbah selesai lalu bangkit lagi untuk qomat.

Usai jum’atan, para jama’ah ramai membicarakan kekeliruan saya, dan tentu saja muka dan telinga saya merah, tetapi kakak kelas yang menjadi seksi rohani mendekati saya malah senyum dan nepuk pundak saya sambil bilang: “Lain kali kalau bertugas jadi muadzin jangan tertidur ya” katanya “ya kak, mohon maaf kak” kataku dengan tenggorokan seperti tercekat…