Sekitar tahun 70an, di pekarangan rumah orangtua saya yang terletak di daerah Bekasi kota, ada pohon petai yang cukup besar. Saat itu saya masih kecil, saya ingat sering memainkan bunga petai yang jatuh karena bentuknya besar seperti bandul. Selain pohon petai yang terletak disebelah kanan pekarangan, ada juga pohon mangga golek di pekarangan depan, jambu air dan pohon mengkudu disebelah kiri pekarangan. Di pekarangan belakang ada kebun singkong yang lumayan luas. Beberapa tanaman hias juga ditanam orang tua saya di sebelah pekarangan depan, diantaranya ada palem kuning, alamanda dan bunga nusa indah.

Hampir setiap siang hari, dari pohon petai itu terdengar suara “tuk-tuk-tuk-tuk-tuk”, itu tandanya ada burung pelatuk yang bulunya berwarna kecoklatan dengan garis-garis putih sedang mematuk-matuk batang pohon. Saat itu saya tidak tahu persis mengapa burung itu suka mematuk-matuk batang pohon petai, sayapun lupa apakah dulu pernah menanyakan hal tersebut pada orang tua saya. Setelah agak besar barulah saya tahu bahwa burung pelatuk itu memakan serangga terutama ulat yang ada di pohon petai tersebut. Saya sangat takjub melihat burung yang cantik itu mematuk-matukkan paruhnya ke batang pohon petai .

Saat ini pohon petai itu sudah tidak ada di pekarangan rumah orang tua saya, begitu juga dengan pohon mengkudu dan palem kuning. Andaikan sekarang masih ada, pohon itupun mungkin sudah sangat tua usianya, mungkin masih akan bertahan hidup karena usia tumbuhan bisa sangat panjang, bisa lebih dari seratus tahun untuk beberapa jenis tumbuhan, seperti pohon Squoia raksasa di Amerika sana yang usianya kalau tidak salah telah mencapai lebih dari 3 abad. Pekarangan rumah orang tua sayapun sudah tidak seluas dulu lagi. Rumah kamipun sudah berubah posisi dan bentuk, dan di pekarangan kecil yang tersisa saat ini bapak saya masih menanam pohon mangga, jambu air dan belimbing wuluh, sebagian barangkali karena itu tanaman-tanaman nostalgia beliau, dengan letak berdesak-desakan.

Dengan hilangnya pohon petai, maka hilang pulalah suara ‘tuk-tuk-tuk-tuk-tuk’ itu. Saya tidak ingat kapan persisnya pohon petai di pekarangan rumah kami dulu ditebang, mungkin sekitar tahun 80an, saat itu saya sudah ke Bandung untuk kuliah. Sayapun tidak ingat kapan terakhir saya melilhat burung pelatuk di pekarangan rumah kami dulu. Sering saya merindukan suara itu, saya merasa bahwa burung pelatuk , sebagaimana juga pohon petai, mengkudu, mangga golek, palem kuning, bunga alamanda dan nusa indah, merupakan bagian dari kenangan masa kecil saya yang indah.

Ketika saat ini dibeberapa daerah sedang dihebohkan dengan outbreak atau ledakan populasi beberapa jenis ulat bulu, saya kembali teringat burung pelatuk itu. Andai saja saat ini masih banyak burung pelatuk, sebagaimana juga burung-burung pemakan ulat lainnya di sekitar kita, pastilah ulat-ulat bulu itu tidak akan berkembang pesat populasinya.

Sayangnya burung pelatuk sudah pergi entah kemana, mungkin tak akan pernah kembali lagi, dan burung-burung lainpun semakin berkurang jenis dan jumlahnya yang bisa kita jumpai di lingkungan perkotaan kita. Burung-burung yang seharusnya terbang bebas di udara dan mencari makan ulat-ulat atau buah dan biji-bijan di pohon-pohon kini sudah banyak dipelihara orang dalam sangkar, sehingga burung-burung itu tidak dapat lagi melakukan fungsi ekologisnya di alam, tidak lagi menjadi bagian dari penyeimbang ekosistem dalam rantai makanan di alam, salah satunya menjadi pengontrol populasi ulat bulu.

Sekarang saya hanya bisa bercerita kepada anak saya yang masih kecil tentang masa kecil bapaknya yang indah yang mengagumi burung pelatuk. Untungnya ada tokoh “woody woodpecker” di TV sehingga anak saya bisa membayangkan bagaimana rupa burung itu. Tetapi apakah kita harus membuat semua burung-burung dan binatang lainnya di kartunkan agar anak-anak kita mengenal binatang-binatang yang lucu, cantik dan bermanfaat itu, karena mereka sudah tidak bisa kita temukan lagi di lingkungan sekitar kita ?

# Bandung, 14 April 2011. Taufikurahman, SITH-ITB.