sumber gambar:
http://www.yoko-oshin.info/brisbane_noct/LYMANTRIIDAE.htm&imgurl

Ledakan populasi ulat bulu
Akhir-akhir ini masyarakat di berbagai daerah di tanah air dihebohkan dengan serangan ulat bulu. Awalnya laporan diperolah dari daerah Probolinggo, jawa Timur, di daerah ini ulat bulu menyerang pohon-pohon mangga yang memang banyak ditanam warga. Ulat bulu bahkan mendatangi rumah-rumah warga, menempel di tembok-tembok rumah. Laporan tentang ledakan populasi ulat bulu-pun berdatangan dari Magelang, Semarang, Yogyakarta, Kendal, bahkan sampai ke Jakarta (Tanjung Duren), dan Bali.

Jenis ulat bulu yang menyerang di berbagai daerah di Indonesia walaupun berbeda-beda, kemungkinan besar masuk dalam famili ngengat Lymantriidae. Di dunia, tercatat ada sebanyak 350 genus dan lebih dari 2500 species yang termasuk kedalam kelompok ini. Salah satu ciri ulat kelompok famili ini adalah menyebabkan rasa sakit atau gatal pada kulit bila bersentuhan dengan rambut dari ulat ini. Ulat bulu yang menyerang pohon mangga di Probolinggo, menurut beberapa laporan, diantara Suputa (2011), adalah spesies Arctornis sp. dan Lymantria atemeles, keduanya dari famili Lymantriidae.

Hama biasanya menyerang pohon dengan pola tanam homogen
Serangan hama biasanya terjadi pada daerah dengan penanaman monokultur seperti praktek yang biasa terjadi di lahan pertanian dan perkebunan. Pada pola penanaman tumbuhan hetero atau mixed culture, serangan hama umumnya tidak terjadi. Pada pola monokultur, ketersediaan makanan bagi hewan hama biasanya jenisnya tertentu, melimpah, dan antar pohon satu dengan yang lain tidak ada barier fisik. Karena itu daerah yang ditanam dengan satu jenis tanaman seperti mangga semua menjadi sangat rentan terhadap serangan hama mangga (kasus Probolinggo), dan daerah yang ditanami pohon cemara akan rentan terhadap serangan hama pohon cemara.

Faktor cuaca
Selain itu banyak faktor lingkungan yang berpengaruh seperti cuaca. Sejak lebih dari setahun musim hujan dibanyak daerah di Indonesia tak berhenti, kelembapan udara tinggi, dan kendati masih hujan, suhu udara juga dibeberepa daerah mulai meningkat. Resultante dari kondisi lingkungan tersebut dapat meningkatkan laju reproduksi hewan2 hama.

Berkurangnya predator alami
Faktor lain yang mendukung terjadinya ledakan populasi hama adalah ketiadaan atau kurangnya predator atau musuh alami misalnya burung-burung. Masyarakat kita biasanya tidak tahan lihat burung bebas berterbangan, burung-burung itu ditembak, di katepel atau ditangkap lalu dimasukkan ke dalam sangkar. Predator alami lainnya biasanya adalah semut rangrang yang sekarang juga banyak diburu para penjual makanan burung yang sudah dikurung dalam sangkar tersebut. Akibat berkurangnya burung dan semut rangrang di alam yang biasanya memakan ulat bulu, booming atau ledakan populasi hama ulat bulu-pun tak terelakkan.

Faktor biotik lainnya adalah kemungkinan fungsi parasitoid tidak berjalan dengan maksimal. Parasitoid adalah organisme yang meletakkan atau menyuntikkan telurnya didalam telur organisme lain. Berkat kerja parasitoid ini, biasanya telur-telur kupu-kupu atau ngengat terkontrol sekitar 45-50 %. Beberapa parasitoid yang biasanya ditemukan pada telur serangga ini diantaranya adalah Beauveria bassiana, Brachymeria lasus dan Compsilura cincinnata.

Boleh jadi juga munculnya fenomena resistensi hama terhadap senyawa pestisida yang selama ini digunakan, walaupun biasanya ini terjadi di lahan pertanian atau perkebunan yang secara intensif disemprot pestisida, sedangkan di kota, apalagi di pohon cemara, biasanya pestisida tidak dipakai karena cemara bukan komoditas pertanian atau perkebunan yang memiliki nilai ekonomis tinggi.

Bagaimana mengatasinya
Untuk mengatasi serangan hama ulat bulu ini, dapat digunakan insektisida alami atau biologis dari senyawa tumbuhan, misalnya dari biji pohon nimba, sirih, atau lainnya. Insektisida biologis lainnya adalah dari bakteri Bacillus thuringiensis atau Bt. Jika kondisinya parah dapat diaplikasikan juga insektisida kimiawi. Pemangkasan pohon, yakni memotong percabangan atau rantingnnya, dapat dilakukan, paling tidak untuk mengurangi ketersedian sumberdaya makanan hama tersebut. Selain itu perlu dilakukan penyiangan atau pembersihan terhadap gulma dan serasah (daun atau ranting mati) atau sampah disekitar pohon juga penting untuk mengurangi tempat berkembangnya larva dari serangga ini.

Karena ngengat ini bersifat nokturnal atau aktif dimalam hari, dan mencari cahaya, masysrakat dapat membuat “light trap” atau perangkap cahaya, bagi ngengat yang merupakan organisme dewasa dari ngengat ini. Light trap sederhana dibuat cukup dengan lampu yang di bawahnya nya diberi air dengan campuran minyak, sabun atau deterjen.

Antisipasi kedepan
Kedepan, saran untuk kota-kota dalam program penghijauannya jangan melakukan pola penanaman monokultur, dan pemilihan jenis tanaman untuk pinggir jalan atau pekarangan rumah perlu selektif dengan mempertimbangkan berbagai pertimbangan ekologis, bukan hanya aspek estetis. Selain itu perlu dipelihara kebersihan lingkungan dengan menyiangi gulma disekitar pohon tersebut secara teratur. Lebih lanjut, masyarakat harus mulai belajar untuk menjaga burung-burung berterbangan dari pohon ke pohon dan tidak ditembak atau di katepel. Semut rangrang juga harus dibiarkan dipohon agar dapat berperan optimal menjadi predator alami dari populasi ulat bulu.


sumber gambar: http://thailand.ipm-info.org/components/soap.htm