Pada jaman Rasulullah saw dahulu, ketika wahyu AlQur’an turun para sahabat menuliskannya di daun-daun kurma kering atau kulit unta. Bayangkan, betapa tidak mudahnya menulis pada jaman itu, dan juga sama tidak mudahnya untuk mengumpulkan tulisan-tulisan tersebut. Jadi, dengan mushaf (buku) yang berisi ayat-ayat AlQuran dalam bentuk tumpukan kulit dan daun-daun kering, kita dapat bayangkan betapa susah menyimpan dan membawa mushaf tersebut. Syukurnya orang-orang Arab jaman dahulu sangat terkenal dengan kemampuan mereka mengingat, misalnya menjadi tradisi mereka untuk menyebut jalur nasab seseorang sampai lebih dari tujuh generasi keatas. Dengan kemampuan mengingat yang kuat itu banyak para sahabat yang hafal 30 juz Al Qur’an.

Bandingkan dengan saat ini. Mushaf AlQuran yang memuat 30 juz saat ini bisa disimpan secara digital (soft copy) dalam sekeping CD atau sebuah flashdisk mini, sangat mudah dibawa kemana-mana, dapat dibaca, diputar dengan alat kecil seperti MP3, hp, laptop. Mushaf hard copy-nya juga sangat variatif dengan berbagai ukuran. Umat Islam, bahkan umat manusia secara menyeluruh, dimanapun mereka berada, apalagi dengan era internet saat ini, dapat mengakses ayat-ayat AlQuran, berikut terjemahan dan penjelasannya dengan sangat mudah, ke berbagai bahasa di dunia. Jika ada pertanyaan, cukup klick pada “mbah Google” kita akan ditunjukkan dengan ribuan situs terkait dengan AlQuran ini.

Kalau membandingkan itu kita mestinya malu dengan generasi jaman dahulu yang begitu memperhatikan dan menjaga AlQuran agar senantiasa dalam hati dan pikiran mereka. Dengan segala kesusahan dan ketiadaan sentuhan teknologi pada saat itu, ternyata begitu banyak para penghafal (hufadz) AlQur’an bermunculan. Sebaliknya saat ini dengan begitu banyak kemudahan yang telah diberikan Allah SWT melalui kemajuan teknologi yang diciptakan manusia, ternyata kepedulian manusia pada umumnya terhadap AlQur’an masih sangat minimal.