Sore kemaren, saat sedang mendengarkan mahasiswa presentasi di ruang kuliah, saya ditelpon oleh sebuah radio swasta yang memang biasa meminta pendapat saya untuk masalah-masalah lingkungan di kota Bandung. Baru beberapa detik, sambungan terputus, saya hanya baru mendengar permintaan mereka untuk mewawancarai saya soal rencana pembangunan PLTSa di Gedebage, Bandung. Sayang hape saya sedang low-bat, dan hape yang lain tertinggal di mobil yang diparkir lumayan jauh dari ruang kuliah.

Istilah PLTSa yang misleading

Istilah “PLTSa” yang merupakan singkatan dari “Pembangkit Listrik tenaga Sampah” sebenarnya sebuah istilah yang misleading karena menyembunyikan permasalahan utama dari proyek tersebut. Bila membaca PLTSa maka orang awam segera akan beranggapan bahwsa itu adalah proyek untuk penyediaan energi listrik, dan melupakan atau mengesampingkan fakta bahwa itu sebenarnya adalah proyek yang tujuan utamanya untuk mengatasi masalah sampah, ini karena istilah pembangkit listriknya ditaruh didepan dari kata “sampah”nya.

Istilah umumnya yang dipakai di negara-negara maju untuk proyek ini adalah WTE, singkatan dari “Waste To Energy”.  Dari istilah ini tergambar jelas bahwa proyek ini adalah proyek untuk menanggulangi limbah dengan cara mengkonversi limbah tersebut menjadi energi. Sementara itu di Bandung digunakan istilah PLTSa yang memberikan konotasi bahwa ini adalah proyek “Pembangkit listrik”. Ini mungkin salah satu masalah umum karakter para penentu kebijakan atau pengambil keputusan di negara kita dibandingkan dengan negara-negara maju. Di negara maju mereka lebih terbuka dan tidak menutup-nutupi masalah kepada masyarakat dengan cara mengemas istilah untuk suatu proyek  untuk menyembunyikan hakekat sebenarnya dari pekerjaan tersebut.

PLTSa atau WTE sebetulnya adalah sebuah insinerator i.e. pembakaran. Kegiatan inti dari proyek ini adalah pembakaran sampah.