Senin besok tanggal merah lagi,  libur peringatan maulid nabi besar Muhammad saw.  Saya hanya merasa bahwa di negara kita begitu banyak hari libur dengan basis peringatan agama. Pertanyaannya, apakah untuk memperingati maulid nabi, isra mi’raj nabi memang harus libur ?

Hari raya dalam Islam sebenarnya cuma dua yakni Idul fitri dan Idul Adha, selebihnya tentu bukan hari raya, tapi hari memperingati peristiwa yang diangap penting dalam sejarah Islam: kelahiran nabi, isra mi’raj nabi, hijrahnya nabi.  Selama hidup baginda Rasulullah saw, setahu saya, ketiga hal tersebut tidak pernah secara spesifik diperingati oleh nabi dan para sahabat.

Alkisah, peringatan maulid nabi dimulai oleh Salahuddin Al Ayubi,  salah seorang panglima besar Islam yang telah membebaskan Paletina dari tangan Romawi. Maksud peringatan maulid oleh Salahudin adalah untuk memberikan semangat pada pasukannya yang akan bertempur.

Kembali ke pertanyaan diawal, apakah untuk memperingati hal tersebut, kita perlu meliburkan diri dari kerja kita ?

Pertanyaan yang sama juga berlaku untuk peringatan atau perayaan persitiwa agama yang lain. Dalam agama Kristen misalnya, bukankah yang paling dianggap penting bagi mereka adalah hari natal atau kelahiran Isa Almasih (Jesus), sehingga itu dijadikan sebagai hari raya.  tetapi mengapa kemudian hari diangkatnya dan wafat Jesus kita harus libur juga ?  Demikian juga halnya dengan agama Hindu, Budha.

My point is, kita tetap dapat memperingati dengan baik berbagai peristiwa dalam sejarah agama kita tanpa harus meliburkan diri dari kerja.