Diantara banyak lagu-lagu yang diajarkan ibu ketika saya kecil dulu adalah lagu “satu-satu aku sayang ibu”. Lagu itu sangat sederhana baik nada maupun syairnya sehingga sangat mudah dihafal anak-anak. Secara makna lagu itu juga benar adanya, bahwa yang harus kita sayangi terlebih dahulu adalah ibu, lalu ayah dan pada urutan berikutnya barulah saudara kita. Ini mengingatkan kita juga pada hadis Rasulullah  yang mengajarkan kita untuk lebih memperhatikan, mengasihi dan berbakti pada ibu dengan disebutnya “ibumu” tiga kali ketika seseorang bertanya kepada siapa seseorang harus mengabdikan dirinya (setelah kepada Allah Swt), setelah itu  baru disebut: “ayahmu”. 

 

Ibulah yang dengan susah payah telah mengandung kita selama 9 bulan, lalu kita dilahirkan dengan perjuangan antara hidup-mati, sehingga Rasul mengatakan bila seorang ibu meninggal saat melahirkan anaknya, dia termasuk sebagai syahid. Setelah itu ibu menyusui kita selama lebih kurang dua tahun, untuk memberikan asupan yang terbaik bagi pertumbuhan kita melalui ASI-nya, sebelum kita disapih. Adalah ibu yang mengurus kita dengan kasih sayang, dari  memandikan dan membersihkan kita, memberi makan, menjaga kesehatan, mengajarkan agama dan etika, mengajarkan membaca AlQur’an, mengajarkan cara shalat, membaca dan menulis, berbicara, berjalan, berperilaku yang sopan, menyanyikan lagu-lagu yang menyenangkan hati. Andaipun ibu kita tidak memberikan itu semua karena satu dan lain hal, ibu kita tetap wanita mulia yang telah banyak berjasa pada kita.

 

Beberapa diantara kita mungkin masih beruntung, masih bisa mencium tangan, mencium pipi dan memeluk ibunya. Itu sebuah keberuntungan yang harus kita manfaatkan untuk mencari pahala sebanyak-banyaknya dengan berbakti kepada ibu kita dimasa tuanya, untuk mencari surga ditelapak kakinya, sebagaimana sabda Rasul “Aljannatu tahta aqddaamil ummahaati”. Namun banyak juga diantara kita yang mungkin ibunya telah berpulang ke rahmatullah, sehingga mereka tidak lagi bisa memeluk hangat ibunya. Kendati begitu, kita masih dapat memanjatkan do’a baginya, karena melalui do’a anak yang shaleh, masih terbuka jalan bagi ibu kita untuk menambah kebaikan baginya di alam kubur sana. Kalau ia masih meninggalkan hutang, baik ibadah maupun mu’amalah, kewajiban kitalah sebagai ahli warisnya untuk segera menyelesaikannya, agar ia tenang di alam sana.

 

Mengingat ibu kita disaat seusai shalat, atau saat malam hening ketika bermunajat kepada Allah swt, baik ibu kita masih hidup ataupun sudah kembali keharibaan-Nya, merupakan salah satu bakti dan amal shaleh kita kepada ibu tercinta. “Rabbighfirli waliwalidayya warhamhuma kamaa Robbayaani shagiira”. Ya Allah, ampunilah hambamu ini, juga ampuni kedua orang tuaku yang telah mengasihiku sewaktu aku masih kecil.