Linknya: http://www.republik a.co.id/koran/ 24.html

Kamis, 27 November 2008 pukul 08:38:00

Memahami Euforia Atas Kemenangan Obama

Taufikurahman
Dosen ITB, Ketua Asosiasi Akademisi ASASI

Kemenangan telak Barack Obama atas rivalnya John McCain dalam pemilihan Presiden Amerika beberapa waktu lalu disambut dengan suka cita dan kemeriahan, bukan hanya di Amerika, tetapi juga di berbagai belahan dunia. Di Afrika bahkan Presiden Kenya menjadikan hari Kamis 6 November 2008 sebagai hari libur nasional untuk merayakan kemenangan Obama yang ayahnya berasal dari Kenya.

Di Jepang ada sebuah kota yang bernama Obama merayakan kemenangan Barack Obama sebagai kemenangan mereka. Masyarakat Indonesia sejak kampanyenya digelar beberapa bulan lalu sudah sangat berharap Obama menjadi orang nomor wahid di Amerika.

Kita ikut bangga karena Obama pernah tinggal dan bersekolah (SD) di Jakarta. Obama memiliki keterkaitan emosional bukan hanya dengan masyarakat di Amerika, terutama dari Partai Demokrat dan masyarakat kulit hitam di sana, tetapi juga dengan masyarakat di Afrika dan Asia. Karena itu, dapat dipahami di berbagai penjuru dunia menyambut kemenangan Obama dengan gembira dan penuh harapan. Umumnya masyarakat di negara-negara di dunia menaruh harapan besar pada Obama untuk  mengatasi krisis ekonomi global.

Simbol perlawanan terhadap rasialisme
Ketika menyaksikan dan mendengar pidato kemenangan Obama melalui layar TV, banyak orang ikut meneteskan air mata terharu, sebagaimana juga ratusan ribu  para pendukung Obama yang berkumpul di Chicago yang mendengar pidato beliau secara langsung. Terharu karena Obama menjadi simbol kemenangan warga kulit hitam melawan rasialisme di Amerika yang usianya sepanjang sejarah Amerika itu sendiri hingga saat ini.

Dalam pidato kemenangannya, Obama berkisah bagaimana dahulu seorang wanita negro tidak punya hak untuk memilih. Namun, sekarang seorang wanita negro menjadi first lady-nya Amerika.Kemenangan Obama menegaskan bahwa rakyat Amerika, terutama kalangan muda,  pada akhirnya dapat mengesampingkan isu rasialisme, dan melihat secara lebih objektif sosok yang mereka harapkan membawa perubahan terhadap kondisi di Amerika kendati itu seorang kulit hitam. Kemenangan Obama jelas membawa angin segar bagi orang-orang kulit hitam dan kulit berwarna lainnya (hispanik) di Amerika, sekaligus meningkatkan status pengakuan sosial dan harapan karier atau posisi mereka di tengah masyarakat kulit putih Amerika dengan semangat “yes we can” yang digemakan kubu Obama.

Isu perubahan
Kemenangan Obama dari kubu Demokrat tentu bukan hanya merupakan kemenangan warga kulit hitam atas rasialisme, tetapi ada hal lain yang perlu digarisbawahi. Selama kampanye, Obama berhasil menampilkan citra diri sebagai seorang yang benar-benar ingin membawa perubahan kondisi Amerika menjadi kondisi yang lebih baik dengan slogannya: the Change we need.

Tim kampanye Obama telah bekerja luar biasa membangun jaringan akar rumput dan secara maksimal memanfaatkan media internet untuk menjual ide, gagasan, program, baik lewat website, blogs, youtube, dan lainnya untuk memengaruhi terutama suara anak-anak muda atau pemilih mula. Berbagai isu dalam dan luar negeri dibahas dengan baik oleh kubu Obama selama masa kampanye.

Isu kebijakan luar negeri Amerika terutama masalah Irak dan Afghanistan telah direspons secara berimbang dan baik oleh kubu Obama. Janji Obama menarik pasukan Amerika setelah 16 bulan beliau menjabat menjadi presiden menjadi isu yang menarik  banyak kalangan, terutama bagi para keluarga tentara yang berada di Irak.  

Tidak dapat dimungkiri bahwa krisis ekonomi yang menghajar Amerika akhir-akhir ini telah memberikan kontribusi besar terhadap kemenangan Obama. Krisis tersebut bagaimana pun dianggap sebagai bentuk kesalahan Pemerintahan George W Bush yang berasal dari Partai Republik, partainya McCain.

Isu ekonomi tampaknya menjadi pertimbangan utama masyarakat Amerika untuk tidak memilih McCain dan mereka beralih ke figur Obama walaupun program ekonomi yang ditawarkannya barangkali tidak sangat menjanjikan atau tidak berbeda jauh dengan program yang ditawarkan McCain. Yang jelas, kubu Demokrat diuntungkan karena mereka bukan yang memegang kendali pemerintahan saat krisis ekonomi terjadi saat ini.

Tantangan besar menanti
Obama memang baru akan dilantik 20 Januari 2009, tetapi sangat jelas tantangan besar menanti dia, yaitu krisis ekonomi Amerika dan dunia dan dua agenda perang Irak dan Afghanistan yang menyita banyak korban dan keuangan dari pihak Amerika sendiri. Kita berharap Obama akan menepati janjinya untuk menarik mundur pasukan Amerika dari Irak, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Kevin Rudd dengan menarik pasukan Australia tidak lama setelah dia menjabat sebagai perdana menteri sesuai janjinya ketika kampanye.

Kita juga berharap bukan hanya di Irak pasukan Amerika akan ditarik, tetapi juga di Afghanistan. Bagaimana pun operasi militer di kedua negara tersebut telah memberi citra negatif Amerika, menelan banyak korban baik warga negara di kedua negara tersebut maupun tentara Amerika.

Operasi militer tersebut juga tentunya telah menghabiskan banyak anggaran belanja pemerintah Amerika. Saat ini anggaran tersebut mestinya lebih banyak difokuskan untuk menangani ratusan ribu orang yang terkena PHK karena banyak perusahaan gulung tikar, termasuk beberapa pabrik General Motor, sekian banyak orang yang tidak bisa membayar kredit perumahan mereka karena secara ekonomi juga mereka sebelumnya sudah bermasalah (kasus sub-prime mortgage).

Obama harus segera menyiapkan tim ekonomi yang andal untuk mengatasi krisis ekonomi, dan penasihat militer yang bijak untuk mengatasi masalah Irak, Afghanistan, konflik Palestina-Israel, hubungan dengan Iran dan Korea Utara. Obama juga akan menghadapi ancaman bagi keselamatan dirinya dan ini menjadi test-case bagi perubahan melawan rasialisme.

Tidak dapat dimungkiri masih banyak orang Amerika yang bersikap rasis dan tidak suka dengan kemenangan Obama. Sejarah Amerika mencatat ditembaknya orang-orang yang mencoba membawa perubahan melawan rasialisme di Amerika, sebut saja Malcolm X dan Martin Luther King yang keduanya juga orang berkulit hitam.

Terbunuhnya Presiden John F Kennedy juga merupakan pelajaran penting akan mahalnya harga sebuah pluralitas bagi masyarakat Amerika. Obama harus menyiapkan diri menghadapi risiko perjuangan melawan rasialisme yang telah berurat akar di masyarakat Amerika. 

Harapan vs skeptisisme dunia Islam
Obama memiliki ayah seorang Muslim dari Kenya, Husein Obama, dan kemudian seorang ayah tiri Muslim dari Indonesia, Lolo Soetoro. Adanya hubungan kekeluargaan Obama dengan orang-orang Muslim di Kenya dan Indonesia memberikan makna dan harapan tersendiri bagi dunia Islam secara menyeluruh, bahwa Presiden Amerika kali ini yang memiliki hubungan kekeluargaan dekat dengan orang Muslim, diharapkan  lebih mengerti Islam, dan mestinya akan lebih menghargai umat Islam.

Kendati demikian, belajar dari pengalaman masa lalu akan sepak terjang Amerika di dunia Islam, selain harapan akan datangnya perubahan yang akan dibawa oleh Obama, dunia Islam juga tampaknya menunggu dengan skeptis, benarkah Obama akan membawa perubahan? Bukankah setiap kebijakan strategis harus dengan persetujuan senat? Selain itu,  bukankah selama ini Presiden Amerika dikelilingi oleh pihak-pihak yang memiliki lobi kuat terutama dari kelompok orang-orang Yahudi, yang notabene selalu memusuhi umat Islam?

Dunia Islam tidak boleh sekadar menunggu kebijakan apa yang akan diambil Obama ketika telah menjabat sebagai presiden nanti. Sebaliknya, negara-negara Muslim perlu secara aktif melakukan lobi terhadap Obama. Selain itu, kendati sejauh ini sangat sulit untuk dicapai, negara-negara Muslim harus membangun kebersamaan dan persatuan agar tidak mudah diintervensi oleh pihak asing, yang berupaya menancapkan hegemoninya di negara-negara Muslim dan memungkinkan mereka dengan leluasa mengeksploitasi sumber daya alam dari negara-negara Muslim tersebut.

Ikut bergembira dan menaruh harapan besar atas kemenangan seorang Barack Obama sebagai presiden berkulit hitam pertama di Amerika rasanya sah-sah saja, bahkan merupakan ekspresi keberpihakan kita terhadap nilai-nilai universal. Sejatiya, umat manusia sejak dahulu disatukan oleh nilai-nilai universal keadilan, kesetaraan, kasih sayang dan kecenderungan kepada kebenaran. Kejujuran masyarakat dunia  dalam mengekspresikannya menjadi sangat penting untuk membangun kemanusiaan yang lebih baik dan lebih bermakna di masa depan yang penuh tantangan.

Ikhtisar:
–    Tim kampanye Obama bekerja luar biasa membangun jaringan akar rumput dan secara maksimal memanfaatkan media internet.
–    Dunia Islam masih skeptis dengan Barack Obama.