Kejadian waktu main bola saat “rehlah” dengan teman-teman dari Islamic Society itu ternyata beberapa tahun kemudian terulang saat saya juga jadi kiper. Waktu itu acara “mukhayam” atau camping anak-anak muslim se Inggris di sebuah kota, lupa namanya, tapi sekitar daerah midland. Dalam acara mukhayam itu berkumpul anak-anak remaja muslim dari berbagai kota di Inggris, kebanyakan keturunan Pakistan, India, Arab Saat itu saya ikutan karena ditugaskan teman-teman di Swansea Mosque menemani anak-anak remaja muslim dari Swansea itu ikutan mukhayam.

Salah satu acaranya adalah main bola lagi. Karena saya bukan pemain back, gelandang apalagi stricker yang baik, saya jadi kiper lagi. Saat itu anak-anak Swansea lawan anak-anak dari Birmingham kalau tidak salah. Walaupun remaja, banyak diantara mereka yang badannya jauh lebih besar dan tinggi dari saya, padahal saya rasanya sudah cukup tinggi untuk ukuran orang Indonesia. Pertandingan berlangsung seru, tapi tidak ada gol tercipta, kedua kpier sangat handal dalam memblocking bola🙂, hingga penentuan pemenang harus dilakukan dengan penalti. Oh ya, karena ukuran lapangan tidak sebesar sepakbola biasa, jadi sebetulnya lebih cocok disebut futsal, hanya saja pemainnya tetap sebelas. Ukuran lapanganya memang lebih luas dari futsal, dan gawangnya juga rasanya sedikit lebih lebar dan tinggi. Sebagaimana kiper lawan, saya juga berhasil memblock beberapa tendangan, sampai akhirnya ditentukan siapapun yang berhasil menggolkan dia pemenang.

Pada sebuah tendangan, sebetulnya yang akan mengeksekusi anaknya tidak tinggi-besar seperti yang sebelumnya yang tendangan menggeledeknya berhasil saya block. Saya dengar temanya kasih nasehat kepada yang akan nendang ini “give him flat !” oke bola datar dalam hati saya, dan benar bola datar cukup kencang datang, dan saya siap dengan tendangan menyambut bola tersebut, tetapi kejadian seperti waktu main bola sebelumnya berulang, tendangan saya meleset dan bola masuk gawang saya, goool! lawan berteriak kegirangan. Kami kalah adu penalti😦 Saya cuma bisa menyesali dan teringat lagi teriakan teman saya dulu “as a keeper you can catch the ball with your hand !” Tapi bola datar memang rada susah ditangkep dengan tangan euy, atau saya yang malas ya…