Karena banyak istirahat di jalan, subuh kami baru memasuki Kendal, dan seperti tahun sebelumnya kami memutuskan untuk shalat subuh di masjid Agung Kendal yang besar itu. Tahun lalu ketika kami shalat subuh disini, ternyata tetangga saya pak Johan Arief (dosen Geologi ITB) dan keluarganya juga shalat subuh di masjid ini dalam perjalaan mudin beliau ke Purbolinggo. Kali ini kami tidak berjumpa karena mereka sudah mudik lebih dahulu.

Sebelum sampai ke rumah mertua saya, kami memutuskan untuk sarapan di Simpang lima, didepan masjid Agung sambil lesehan. Saya dan seorang anak saya memesan tahu gimbal, yang lain pesan bubur ayam, ada yang pesan bubur kacang ijo, dan yang kecil pesan bakso. catatan kami: bubur kacang ijonya enak, tahu gimbalnya oke, bubur ayamnya … memang beda dengan bubur ayam mang Oyo, di sini bubur ayamnya penuh kuah jadi gak bisa seperti bubur mang Oyo yang kalaupun mangkoknya dibalik bubur tidak tumpah🙂

Agenda kami di Semarang:selain silaturahim dengan ibu mertua saya dan keluarga dari isteri saya, kami ziarah ke makam eyang kakung (alm. Pratomo) dari anak-anak saya, alias mertua saya yang 3 tahun lalu telah berpulang. selebihnya tidak banyak, tahun ini saya tidak banyak keliling Semarang, paling seputar Simpang lima saja, mengantar keponakan ke Statisiun Kereta, makan soto ayam di Bangkong (Soto Bangkong). Menjelang pulang ke Bandung kami sekeluarga menyempatkan berfoto dengan eyang puterinya anak-anak saya…