Selasa siang, H-1 menjelang lebaran, kami sekeluarga meninggalkan Bandung menuju Bekasi, targetnya berbuka puasa di rumah orang tua saya di Bekasi . Alhamdulillah perjalanan lancar, soalnya arah Jakarta, yang macet cet jelas arah dari Jakarta keluar tol Cikampek. Ya, tahun ini kami memutuskan shalat Ied di Bekasi. Rabu pagi kami shalat Ied di masjid El-Muwahidien, seperti tahun-tahun sebelumnya ketika saya masih di Bekasi. Di Masjid ini bapak saya, H.A.Zaini Arief, menjadi DKM-nya sejak saya masih kecil dan sejak masjid-nya masih yang lama (sekarang msjid lamanya sudah berganti nama jadi Al Arief). Gambar diatas kami berpose di depan masjid bersama bapak dan ibu saya, oh ya satu anak yang paling besar tidak nampak, karena dia yang mengambil gambar ini.

Dari masjid El Muwahidien, seperti biasa, bapak saya mengajak kami ziarah ke makam bapaknya bapak saya alias kakek saya (alm H. Usman), dan bapaknya kakek (H. KIli) atau buyut saya yang makamnya bersebelahan. Setelah sampai di rumah, kami biasanya menerima kunjungan tetangga, umumnya murid-murid ibu saya, karena ibu saya (Hj. Maryam zaini) punya majelis ta’lim dan madrasah. Selain itu tentu kunjungan saudara-saudara dari pihak bapak. That’s made all day in my first day of lebaran.

Hari kedua lebaran kami mulai dengan ziarah ke makam nenek saya (ibunya bapak saya): Hj. Mujenah binti Kaidan, di pemakaman itu juga terbaring adiknya nenek saya (Hj. Arfiah) dan suaminya. Yang menarik, adik kakak ini menikah dengan adik kakak juga, hanya nenek saya dapat adiknya, sedang adiknya nenek saya dapat kakaknya🙂 bingung ya… dan setelah itu kami bergerakmengunjungi saudaranya bapak dan ibu, perjalanan ke Cibitung dan Karawang. Hari kedua Jalan tol masih dipenuhi kendaraan pemudik, repotnya ketika saya keluar arah Tambun (Grand Wisata) dengan harapan lebih lancar, ternyata malah lebih macet di pertigaan, akhirnya balik lagi jalan tol untukkeluar di Cibitung.

Di Cibitung kami mengunjungi seorang kakak dan seorang adiknya bapak saya, keduanya wanita. Itu yang tersisa, yakni uwak dan bibi saya. Tiga orang saudara bapak saya sudah meninggal dunia. Kakak laki-laki bapak saya (wak Shidiq alm) malah saya tidak sempat melihatnya, beliau gugur terkena granat waktu shalat dalam perjuangan melawan Belanda, saat beliau belum berkeluarga, jadi tidak meninggalkan keturunan. Menurut cerita orang makam uwak saya itu di pemakaman pahlawan Purwakarta, waktu saya kecil bapak saya beberapa kali mengajak saya berziarah ke pemakaman pahlawan tanpa nama di Purwakarta. Dua orang adik bapak saya (bibi saya) juga sudah mendahului karena sakit, dan masing-masing meninggalkan cukup banyak anak dan cucu.

Ba’da dzuhur kami beranjak ke Karawang menuju rumah kakaknya ibu saya. Ibu saya sebenarnya delapan bersaudara, dan semuanya di Karawang, tetapi sekarang yang tersisa tinggal tiga, termasuk ibu saya, seorang kakaknya (H. Ait Sunarya) dan seorang adiknya (mang Udin). Ketika saudara ibu saya masih lengkap, keliling Karawang bisa seharian, tapi sekarang hanya tinggal satu rumah yang kami kunjungi, sementara adiknya ibu biasanya menunggu kami dirumah kakaknya (wak Ait).

Agenda rutin di karawang juga ziarah, ke makam kakek dan nenek saya dari pihak ibu (H. Suhandireja). Keluarga kakek saya punya nama unik pake nama “SInga”, kalau tidak salah keluarga besar Singaderpa (harus lihat lagi buku silsilahnya). Saya sendiri tidak sempat melihat kedua kakek saya, baik dari pihak bapak atau dari pihak ibu, tetapi alhamdulillah saya sempat bertemu dengan kedua nenek saya, dari pihak bapak dan dari pihak ibu. dengan nenek dari pihak ibu hingga saya di SMP, sedang nenek dari pihak bapak hingga saya punya anak 4, alhamdulillah. Sore hari ba’da ashar, setelah mampir sejenak di rumah salah seorang uwak saya yang sekitar 3 bulan lalu meninggal (wak H. Sutarya atau biasa disebut wak Cece) yang rumahnya berdekatan dengan komplek pemakaman, saya berpisah dengan rombongan bapak-ibu dan adik-adik saya yang kembali ke Bekasi. Saya dengan isteri dan lima anak melanjutkan perjalanan ke Semarang… untuk berlebaran dengan Eyang puterinya anak-anak saya (Eyang kakungnya: Pratomo, sudah lk 3 tahun lalu wafat). Di semarang biasanya berkumpul saudara-saudara isteri saya.