Malam ini sudah masuk 21 Ramadhan, sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan sudah kita masuki. Subhanallah, walhamdulillah wa laailaaha illallahu wa allahu akbar !

Ayo hidupkan malam-malam Ramadahan dengan qiyamullail, tadarus Al Qur’an, dzikir dan i’tikaf di Masjid.

“wamaa adrookamaa lailatul qadr ?” demikian pertanyaan Allah dalam AlQur’an, dan jawabannya pada ayat berikutnya “Lailatul qodri khoirun min alfi sahr”, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Seribu bulan itu artinya lebih dari 83 tahun ! Bayangkan, jika pada malam itu kita beribadah pada Allah Swt: qiyamullail atau tahajud, tadarus dan tadabur Qur’an, berdzikir, berdo’a dan melakukan amalan sunnah/sholeh lainnya, nilai pahalanya sama dengan kita beribadah kepada Allah swt selama 83 tahun lebih. Rasulullah saw menganjurkan kita untuk berdo’a pada malam lailatul qodr tersebut dengan do’a meminta ampun kepada Allah Swt: “Allaumma innaKa ‘afuwwun Karriem, tuhibbul ‘afwa fa’fu anna yaa Kariiem”.

Untuk mendapatkan lailatl qadr, Rasulullah menganjurkankita untuk kita “mengintai”nya pada 10 hari terakhir di bulan Ramadhan, khususnya pada malam-malam ganjil: malam ke 21, 23, 25,27 dan 29. Sebagian pandangan pada ulama mengisyaratkan agar kita terutama memberikan perhatian extra pada malam ke 27.

Melalui malam lailatul qadar yang terbaik memang tentunya di dalam masjid sambil beri’tikaf, tetapi itu tidak berarti bahwa kita hanya bisa mendapatkannya di dalam masjid. Bagi anda yang dalam perjalanan pulang kampung misalnya, asalkan selama dalam perjalanan tersebut anda senantiasa berdzikir, tilawah Qur’an, dan amalan shaleh lainnya, insyaAlah anda juga akan mendapatkannya. Bagi para pejuang di medan perang dahulu, para sahabat Rasul yang sering kali berada di medan peperangan, lailatul qadar sangat boleh jadi sering mereka dapatkan di kemah-kemah atau di lapangan terbuka medan peperangan !

Bergegas dan bersiap dirilah menyambut kedatangan malam lailatulĀ  qadar.