Kemarin, separuh hari, dari siang sampai sore saya memoderatori seminar mahasiswa S1, gantian dengan kolega yang memoderatorinya dari pagi sampai siang. Memperhatikan presentasi mahasiswa , saya mencatat banyak hal. Pertama , banyak mahasiswa yang ketika mempresentasikan hasilnya hanya membaca power pointnya di layar tayangan LCD proyektor, tidak atau jarang menghadap ke audiens. Ketika presenter tidak menghadap audiens, presenter telah mengalihkan fokus audiens yang seharusnya kepada presenter, tapi kemudian haya tertuju ke layar proyektor. Benar bahwa untuk presentasi ilmiah kita harus menyiapkan bahan presentasi yang baik dan menarik, tetapi jangan lupa bahwa fokus dalam kegiatan presentasi itu adalah si presenter itu sendiri, bukan tayangan power pointnya. Presenternya adalah makhluk hidup, sedangkan tayangan power pointnya hanyalah benda tak bernyawa. Jangan lupa juga bahwa anda memiliki audiens yang adalah makhluk hidup, jadi jangan hanya melihat ke tayangan LCD, lihatlah audiens sering-sering.

Kedua, presentasi ilmiah tentu perlu disampaikan dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar, jangan menggunakan bahasa pasar atau pergaulan sehari-hari dengan teman. Jangan lupa bahwa seminar adalah kegiatan formal atau akademik, karena itu perhatikan penggunaan bahasa, jangan terkesan terlalu santai, walaupun juga jangan terkesan kaku “teuing”.

Apabila peresentasi menggunakan bantuan pelantang suara (bukan pengeras suara lho), perhatikan teknik miking, dan anda perlu mentest dulu, seberapa jauh baiknya mike itu dari bibir, kemudian dengarkan baik-baik suara anada yang terdengar, apakah cukup lantang, kurang atau terlalu lantang. Kemampuan menghasilkan kualitas suara memang sangat bervariasi, ada yang suaeranya berkualitas untuk menjadi MC atau pembaca berita di TV atau radio, tapi sadari ada juga tidak semua punya kualitas suara seperti itu, bahkan mungkin terdengar “cempreng”, dalam kasus seperti itu, mikenya jangan terlalu dekat dengan bibir.