Suatu pagi, anak saya sedang menonton film kartun Rudy Tabooti yang tampaknya baru mulai, saya sendiri sebenarnya ingin menyimak berita di saluran lain, tetapi begitu lihat sekilas film Rudy Tabooti itu saya jadi tertarik untuk ikutan menontonnya. Dalam cerita kartun tersebut digambarkan masyarakat di suatu kota sedang berdemo karena mereka khawatir bahwa rencana pembangunan mall di kota itu yang sudah disetujui oleh Walikota akan menjadi bencana, karena kehadairan mall tersebut akan menelan korban berupa warung-warung kecil, pasar tradisional dan toko-toko kecil punya masyarakat. Mall tersebut digambarkan akan menjadi monster yang akan menelan korban.  Alur ceritanya saya kurang ingat persis, tetapi rasanya mall itu kemudian oleh Rudy “dimasukkan” dalam dunia kapur sehingga di dunia kapur itu Rudi bisa leluasa menaklukkan monster yang bernama mall itu, sebelum akhirnya rencana mall tersebut dikembalikan lagi ke dunia nyata. Atas aksi Rudy tersebut rencana pembuatan mall berhasil digagalkan. Masyarakat senang.

 

Film kartun Rudy Tabooti base-nya di Hollywod Amerika. Alur cerita dalam kartun tersebut tentu menggambarkan permasalahan yang terjadi dalam masyarakat di Amerika itu sendiri.  Bahwa muncul cerita seperti diatas, mestinya menggambarkan bahwa kehadiran mall itu sendiri di Amerika mendapat tantangan dari masyarakat karena berdampak negatif terhadap usaha atau bisnis perniagaan kecil yang sudah ada sebelumnya di kota tersebut. Tampaknya kemudian ini menjadi sebuah aturan yang terjadi di kota-kota besar di dunia, bahwa mall tidak boleh berada di dalam kota. Ketika saya ke Minnepolis, Minnesota tahun 2001, saya tidak mendapati bangunan mall didalam kota. Mall di Minneapolis yang diklaim sebagai yang terbesar di USA , paling tidak saat itu, terletak relatif jauh diluar kota. Didalam kota kita hanya akan mendapati toko-toko atau supermarket yang kecil saja. Di negara asalnya, Perancis, Carrfour juga terletak diluar kota, bukan didalam kota.

 

Sayangnya pemerintahan-pemerintahan daerah di negara kita, termasuk Bandung, dengan mudahnya mengeluarkan izin pendirian mall-mall di dalam kota, bukan hanya satu-dua, tetapi buaanyak !. Coba simak kasus di  Bandung, ada BIP Ir.H.Juanda, BSM di jl. Gatot Subroto, IBCC di jl. A. Yani, BeeMall di jl. Naripan, Istana Plaza di Kiara Condong, BEC di jl. Purnawarman, BTC di jl. Pasteur, Giant juga di jl. Pasteur, Carrfour di Molis, Paris van Java dengan Carrfour didalamnya di jl. Sukajadi. Di Kiara Condong, bahkan dalam lokasi yang sangat berdekatan ada BTM  yang menggusur pasar tradisional, dan di jl;. Terusan jakarta sebelahnya sedang dibangun mall yang lain (Lucky square). Di jalan terusan Kiara Condorong juga sudah beridiri carrfour yang lain… dan masih banyak lagi lainnya tersebar di DALAM kota Bandung yang jadi semakin sempit dan pengap ini. Bandung “heurin ku tangtung” dan “tangtung” atau bangunan tinggi berupa mall-mall ini telah menjadi monster yang menghancurkan bisnis rakyat kecil dengan warung-warung atau toko kelontong mereka. Misalnya, banyak para pedagang tradisonal yang semula menempati lokasi di pasar Cicadas dan sekarang tergusur oleh BTM tersebut umumnya mengalami penurunan omset yang drastis, banyak yang bangkrut, beberapa sakit jiwa, bahkan ada yang shock dan meninggal dunia. Bukan hanya matinya warung-warung atau toko-toko kecil yang ada sebelumnya, kehadiran mall-mall di dalam kota Bandung itu menimbulkan kemacetan lalu lintas yang luar biasa, terutama pada saat weekend. Penataan kota Bandung jelas sudah amburadul !

Sayangnya perjuangan TReNDI untuk mengambil alih kepemimpinan kota Bandung waktu Pilkada kemarin dalam rangka untuk menyelamatkan kota Bandung dari (salah satunya) monster-monster mall tersebut masih belum berhasil.  Tampaknya penyelamatan Bandung menunggu munculnya seorang  Rudy Tabooti…