Memprihatinkan ! satu kata singkat itu menggambarkan kondisi pasar-pasar tradisional umumnya di kota Bandung. Secara fisik kondisi pasar-pasar tradisional di kota Bandung: kumuh, kotor, becek, sumpek, tumplek ke jalan  hingga memacetkan lalulintas. Kendati demikian setiap pagi pasar-pasar tradisional ini dibanjiri pembeli, umumnya ibu-ibu, yang tinggal disekitarnya.

Selama bertahun-tahun boleh dibilang tidak ada renovasi pasar tradisonal yang berarti di kota Bandung. Kalaupun ada, program renovasi, revitalisasi yang ditawarkan oleh Pemerintah kota Bandung selama ini tampaknya tidak tepat sasaran. Konsep yang ditawarkan pemkot selama ini dengan revitalisasi pasar adalah dengan mengundang investor yang membangun gedung tinggi: mall dan pedagang tradisional yang telah berdagang selama puluhan tahun cuma disediakan ruangan di basement yang juga sumpek, pengap, tidak menarik, beberapa sangat dekat dengan tempat parkir mobil sehingga mudah terpolusi asap kendaraan bermotor. Yang lebih parah lagi adalah mereka kemudian diharuskan membayar sejumlah uang yang diluar kemampuan mereka. Pemilik mall itu mematok bervariasi, dari Rp 11 juta per meter persegi hingga Rp 25 juta per meter persegi ! Dan dengan naiknya harga-harga saat ini , kemungkinan harganyapun akan semakin meningkat ! Wah itu khan harga yang kelewat mahal untuk para pedagang tradisional yang usahanya tergolong usaha kecil-kecilan saja.

Kasus yang  terjadi di pasar Cicadas barangkali menggambarkan salah satu saja yang sudah terjadi dan mungkin akan terjadi lagi pada pasar tradisional lainnya di kota Bandung bila pola kebijakan Pemkotnya tidak berubah. Di Cicadas, para pedagang ini telah terusir dari tempatnya semula berdagang selama puluhan tahun, diatas bekas lahan pasar tersebut sekarang telah berdiri sebuah mall yang megah. Para pedagang yang tersingkir ini umumnya tidak mampu membeli atau menyewa kios yang berada di basement gedung yang harganya mencapai Rp 11 juta per meter persegi ! Akhirnya mereka menyewa lahan bekas supermarket (super bazaar) yang lokasinya berdekatan dengan mall baru tesebut, dan mereka kelola sendiri pasar tradisonal mereka ! Itupun dengan perasaan was-was dan khawatir kalau nanti mereka harus tergusur lagi, lalu harus berdagang dimana ?

Kasus pasar Cicadas adalah salah satu kasus saja dari sekian banyak kasus yang terjadi dalam program revitalisasi pasar di kota Bandung selama ini. Pasar Kosambi adalah contoh lainnya yang tidak berhasil. Kondisi basement pasar kosambi yang disediakan bagi para pedagang di pasar tradisional ini sebenarnya kurang layak dari sudut kebersihan, kesehatan lingkungan, kerapihan dll. Akhirnya banyak pedagang yang menggelar dagangannya diluar pasar, jadi kaki lima.

Kalau saya jadi Walikota Bandung, saya akan memberikan perhatian dan keberpihakan yang jelas kepada para pedagang di pasar-pasar tradisional, dengan memberikan kepada mereka fasilitas pasar yang layak dengan harga yang terjangkau, dengan subsidi yang signifikan dari Pemerintah. Saya tidak akan mengubah pasar-pasar tradisional yang ada saat ini menjadi gedung-gedung mall yang tinggi menjulang, tetapi akan menata pasar-pasar tradisional tersebut dengan lebih baik dengan melibatkan para  pedagang di pasar tradisonal tersebut sebagai stake holder utama. Revitalisasi pasar tradisional tidak boleh diartikan mengubahnya menjadi mall, cukup bangunan satu atau dua lantai yang tertata rapih, cukup sinar matahari dan udara segar masuk kedalam pasar, dengan fasilitas seperti ruangan penyimpanan dingin (cold storage room), galeri dan pertunjukan seni, pokoknya orang harus nyaman berjualan dan berbelanja didalamnya, dan dikelola dengan sistem manajemen yang profesional. Pasar tersebut harus menjadi daya tarik kota Bandung yang menjajakan bukan hanya beras, daging, sayuran, dan buah-buahan, tetapi juga menjadi tempat wisata kuliner khas Bandung dan orang bisa mencari produk-produk kreatif berupa kerajinan tangan dll yang dihasilkan oleh warga Bandung sambil berekreasi dan menikmati karya-karya seni dan kriya warga Bandung yang luar biasa. How about that ?