Sudah dua hari ini gas dirumah saya habis, dan kami belum berusaha maksimal untuk mencari gas lagi karena gas LPG saat ini jadi barang langka dan mahal di Bandung. Untuk keperluan memasak, isteri saya sementara ini memanfaatkan dua buah rice cooker, sebetulnya yang satunya rice cooker lama yang sudah nyaris dibuang, syukurnya masih bisa dipakai dengan baik untuk mengatasi ketiadaan gas di rumah.  Lumayan juga rice cooker bisa untuk memasak sayuran, merebus telor dsb. Memang kalau untuk menggoreng ya susah… ya kalau mau yang digoreng-goreng bisa beli diluar.  Lagian, sebetulnya dengan tidak menggoreng-goreng mestinya bisa lebih hemat karena harga minyak goreng juga mahal dan goreng-gorengan sebetulnya juga kurang baik bagi kesehatan. Itu dalam skala rumah tangga, lain halnya tentu buat yang punya usaha  rumah makan dan  penjual gorengan, mutlak harus ada gas.  

 

Menjelang kenaikan harga BBM bersubsidi ini, yang katanya akan dilakukan awal Juni, tampaknya gas pun jadi susah diperoleh di pasar, lucunya pernyataan dari orang Pertamina kemarin di koran mengatakan bahwa dia baru tahu kalau di Bandung itu LPG kurang dari wartawan yang kebetulan bertanya pada dia ! Lho kok… apakah mereka tidak memonitor distribusi dan pemasaran tabung gas LPG ?  Di koran PR hari ini, sekilas tadi baca judulnya, gas juga mulai dirasakan kurang di Garut, orang-orang harus antre untuk mendapatkan LPG. Wah, lengkaplah sudah, untuk dapat minyak tanah antre, gas antre, sebentar lagi bensin kayaknya juga antreee.

 

Saya duga, kelangkaan minyak tanah, gas dan bensin di beberapa tempat kemungkinan besar akibat ulah dari para spekulan yang menahan distribusi dan penjualan komoditas tersebut  hingga harga betul-betul dinaikkan pemerintah. Selain itu suplai dari Pertamina tampaknya juga berkurang, apakah Pertamina juga menunggu ketetapan kenaikan harga BBM dari Pemerintah untuk mengeluarkan komoditas tersebut dalam jumlah yang mencukupi untuk kebutuhan masyarakat ? Wallahu’alam, yang bisa jawab tentunya orang Pertamina itu sendiri.  

 

Pada level keluarga, kelihatannya kita harus siap-siap dengan alternatif bahan bakar yang lain: listrik dengan rice cooker atau electric plate, otomatis ini berarti konsumsi listrik di rumah akan bertambah, mungkin juga kita mesti cari tungku untuk memasak dengan arang dan kayu bakar seperti jaman dahulu, yang mungkin juga masih sehari-hari dilakukan di kampung-kampung hingga saat ini, dan pembakar sate atau barbeque tentu saja dengan arang, batok kelapa dan minyak atau lilinnya (untuk membantu menyalakan arang/batok kelapanya). Seorang teman saya dari Politeknik Manufactur menawarkan untuk membuatkan kompor dengan bahan bakar spirtus, sekedar untuk kondisi darurat. Dia bilang sudah pernah buat dan mencobanya, lumayanlah katanya. Saya bilang saya berminat !

 

Berikutnya perlu ada penyesuaian pola makan, siapkan lebih banyak buah-buahan di rumah dan makanan alternatif lainnya yang tidak perlu dimasak misalnya pisang, apel. pepaya hmm… apa lagi yang tidak perlu dimasak dan kandunagn karbohidratnya lumayan tinggi  ? Bagaimanapun kita harus mencari strategi alternatif baik untuk bahan bakarnya maupun bahan yang akan dimakannya (agar bisa mengurangi penggunaan bahan bakar untuk mengkonsumsinya).