Subhanallah, Bandung diguyur hujan terus beberapa hari ini dan cukup lebat. Bahkan minggu lalu disertai angin kuat yang menumbangkan beberapa pohon, diantaranya yang berakibat fatal di Dago (depan Borromeus), pohon damar yang besar roboh ke jalan dan menimpa sebuah mobil yang didalamnya ada seorang ibu dosen Kimia UNPAD. Akibatnya luka sangat parah. Saya dengar terakhir sudah mulai membaik kondisinya. Sayangnya ada keprihatian lain, saya dengar berita bahwa ternyata ada tangan iseng yang mencuri laptop si ibu di monbilnya yang ringsek itu. Ya Allah…. sudah seperti apa manusia disekitar kita ya, ada yang terkena musibah, barang-barangnya dijarah, sungguh tidak berperikemanusiaan.

 

Di jalan Dago, pohon damar ditepi jalan memang sudah tinggi, dan kalau menurut kriteria PERHUTANI, mestinya sudah sangat layak untuk dipanen. Pohon seperti damar, pinus, cemara yang ditanam dipinggir jalan baiknya memang tidak dibiarkan tumbuh tinggi membesar tanpa peremajaan. Masalahnya pohon-pohon tersebut daya cengkeram sistem perakarannya kurang kuat untuk mengimbangi potensi tinggi dan besar batangnya. Di perkebunan, pohon-pohon seperti ini biasanya ditanam dengan jarak tanam yang cukup berdekatan, selain karena memang sistem percabangannya tidak ekstensif, juga dengan berdekatan, pohon yang satu dengan yang lain akan saling menopang sehingga dapat mengurangi resiko roboh.  Di pinggir jalan tentu tidak mungkin menanam damar dengan berlapir-lapis, jadi cuma satu lapisan saja dengan jarak tanam sekitar 5 meteran. Karena itu daya topang pohon satu dengan yang lain tidak terjadi, sehingga ketika terjadi angin kencang, pohon-pohon tinggi menjulang yang soliter itu tidak mampu bertahan dan roboh, menimpa apa dan siapa saja yang kebetulan berada dibawahnya.

 

Kejadian pohon pinggir jalan tumbang bukan kali ini saja, pernah pohon Tanjung yang tinggi besar di jalan Tamansari Bandung (juga dekat kampus ITB) tumbang, dan menghantam mobil yang lewat dijalan hingga pengemudinya tewas ditempat. Pada waktu yang lain seorang pejalan kaki harus meregang nyawa tertimpa pohon tinggi besar di jalan Setiabudhi, Bandung, padahal saat itu kondisinya “tidak ada angin, tidak ada hujan”. Setelah kejadian tersebut, beberapa saat sempat terjadi diskusi di mass media perihal kurang sigapnya Dinas Pertamanan dan Pemakaman Kota Bandung dalam mengantisipasi kemungkinan robohnya pohon-pohon tepi jalan. Sayang diskusinya tidak sampai pada tindak lanjut apa yang seharusnya dilakukan, adan apakah saat ini sudah dilakukan ? Yang jalan saya rasanya belum pernah lihat ada petugas Dinas tersebut yang memeriksa dan mengukur kondisi pohon dengan sistem monitoring yang ketat. Tidak ada dananya barangkali ? Lho kemana dong larinya uang pajak yang sudah disetorkan pendududuk selama ini … termasuk tentunya yang sudah disetor oleh si ibu nahas dosen FMIPA Unpad tersebut.   

 

Di kampus ITB, pohon-pohon damar yang tinggi dan besar juga berjajar didepan Mesin dan Fisika. Warga kampus perlu hati-hati, terutama dimusim pancaroba seperti ini, tidak jarang angin kencang menyapu atau berputar dengan keras. Saya ingat beberapa waktu lalu, mungkin tahun lalu, saya melaporkan ada pohon damar didepan gedung Mesin yang sudah condong berdirinya, dan setelah saya selidiki ternyata bagian bawah sudah ada yang patah. Hal tersebut segera saya laporkan lewat milis dosen ITB, dan syukurlah, tidak lama kemudian ada tanggapan dari pihak Rektorat, pohon tersebut ditebang. Sebetulnya kekhawatiran saya juga pada pohon-pohon angsana di jalan Ganseha yang sudah tinggi besar yang menjadi sarang burung kowak, minimal perlu dilakukan prunning atau pemangkasan cabang, kemudian ditanam pohon lain untuk peremajaan. Dengan demikian potensi roboh bisa dikurangi dan burung-burung kowak tidak lagi mengotori jalan Ganseha. Sayangnya untuk usulan yang satu ini kayaknya tidak bisa dengan serta merta dieksekusi pihak Rektorat karen mereka perlu koordinasi dengan Dinas Pertamanan dan Pemakaaman di Pemkot. Menurut informasi dari pihak yang Rektorat yang menangani ini surat telah dialayangkan ke Dinas tapi hingga saat ini tidak atau belum ada respons dari Dinas. Apakah harus menunggu terjadi musibah dulu baru ada respons ? Wallahu’alam !

 

Saya kira di masyarakat perlu dikembangkan kesadaran untuk mengamati kondisi fisik pohon-pohon pinggir jalanan, dan melaporakannya kepada RT-RW atau Pemda setempat bila ada kekhawatiran pohon-pohon tersebut bisa tumbang bila ada angin kencang. Sebetulnya sih ini memang kerjaan Dinas Pertamanan dan Pemakaman di Bandung, tapi melihat jumlah pohon yang harus dikontrol di kota Bandung, pasti mereka memerlukan bantuan masyarakat. Ayo peduli kondisi pohon tepi jalan, di kampus, tempat kerja atau di perumahan kita untuk keselamatan kita bersama !