Hari ini angkot Bandung mogok, dikoran PR kemaren bilangnya salah satu tuntutan mereka adalah minta tambahan usia angkot yang diperbolehkan beroperasi dari 10 tahun jadi 15 tahun. Ada lagi tuntutan yang lain pake angka persen-persen gitu cuma saya kurang ngeh bacanya sepintas. 

Bandung tanpa angkot memang jalan jadi agak lengang, tapi kasihan juga lihat orang-orang, terutama siswa SMP-SMA yang kemudian berjalan kaki sepanjang pinggir jalan. Masalahnya karena sementara ini tidak ada alternatif angkutan umum yang beroperasi masuk kemana-mana selain angkot. Tanpa alternatif lain, kota Bandung memang jadi lumpuh transportasi umumnya bila angkot mogok.  Karena itu saya pikir perlu ada alternatif angkutan massal lainnya. Walaupun ide ini bisa membuat awak angkot mogok lagi… seperti yang dikhawatirkan pak Arry mengomentari tulisan saya sebelumnya tentang transportasi di Bandung, tapi bagaimana ya, sebuah kota yang hanya mengandalkan satu jenis transportasi umum yang bernama angkot, rasanya jadi sangat rentan dengan kasus-kasus seperti ini.

Alternatif lain: Ojeg.  Di bandung ojeg sementara ini beroperasi melayani daerah perumahan, mereka biasanya mangkal dimulut jalan masuk ke daerah atau komplek perumahan, tidak melayani rute di jalan raya. Di Jakarta lain cerita, kita bisa menemui ojeg mangkal di stasiun jatinegara,  gambir dan daerah-daerah jalan raya lainnya, walaupun tetap mereka cari tempat mangkal di mulut gang. Anda turun dari kereta dan keluar bangunan utama gambir, anda siap-siap disongsong orang yang menyodorkan helm butut pada anda🙂. Ojeg di Jakarta memang jadi alternatif ketika jalan raya macet-cet ! Apakah nanti di Bandung akan terjadi kecenderungan seperti ojeg di Jakarta ? Bukan tidak mungkin kalau Bandung semakin macet dan atau angkot sering mogok seperti sekarang ini. Repotnya memang kalau “huzyan…. becyek…. naek ozzeg” (niru logat siapa itu bintang Sinetron…)… basssah deeeh…

Walhasil, hari ini saya harus antar jemput anak-anak ke dan dari sekolah mereka… lantaran angkot mogok itu.