Pemilihan pohon tepi jalan (wayside trees) harus memperhatikan beberapa kriteria, diantaranya:

1. Sistem percabangan tidak ekstensif, agar tidak mengganggu kabel listrik, telpon, dan tidak menimbulkan gangguan pada kendaraan dibawahnya. Cabang yang ekstensif sebenarnya bagus untuk memberi naungan yang rimbun dan luas, tetapi potensi untuk menimbulkan kecelakaan bila cabangnya jatuh karena angin atau hujan yang lebat harus jadi pertimbangan utama.

Karena itu tumbuhan yang percabangannya ekstensif seperti Kihujan atau trembesi (Samanea saman), flamboyan (Delonix regia), beringin (Ficus benjamina) tidak disarankan untuk ditanam dipinggir jalan. Pohon-pohon besar seperti itu cocoknya ditanam di tepi atau tengah lapangan yang luas, misalnya alun-alun. 

Tumbuhan yang memenuhi kriteria naungan yang tidak ekstensif  namun cukup memberikan keteduhan diantaranya adalah tanjung (Mimusops elengi), bungur (lagerstroemia flos-reginae), mahoni (Swietenia mahogani), kere payung atau kiara (Filicium decipiens).

Tumbuhan yang naungannya minimal, dengan bentuk fastigiate, columnar atau piramidal, atau langsing juga dapat ditanam untuk memberi kesan anggun. Tumbuhan yang masuk dalam kategori ini diantaranya: damar (Agathis damara), glodogan (Polyalthia longifolia), cemara (Casuarina equisetifolia), dan pinus (Pinus mercusii).

Cemara dan pinus termasuk dalam kelompok tumbuhan berdaun jarum (coniferous) dan evergreen yang tidak sepanjang tahun akan tetap berdaun kendari di musim dingin yang bersalju sekalipun. Itu menjadi alasan mengapa misalnya orang Kristen daerah Eropa atau Amerika menggunakan pohon cemara yang dihias pada saat natal, karena pohon lainnya yang desidua (deciduos) atau tidak berdaun pada saat natal dirayakan di bulan Desember. 

Kelompok pohon palem walaupun tidak bercabang (monopodial), tetapi pelepah daunnya yang panjang bila sudah tua mengering (belarak) akan jatuh dan bisa membahayakan pengguna jalan dibawahnya. Jika palem memang dipilih untuk ditanam karena memberi kesan anggun, perawatan pohon dengan memangkas pelepah yang mengering harus rutin dilakukan.  

2. Sistem perakaran cukup menembus kedalam, tidak dangkal, tetapi juga tidak menjalar dengan ekstensif yang bisa mengganggu struktur seperti trotoir, jalan dan bangunan di dekatnya. Pohon beringin, flamboyan dan kihujan termasuk yang sistem pekarannya, sebagaimana juga naungannya, cukup ekstensif dan bisa merusak struktur disekitarnya.

Pohon palem memiliki sistem perakaran yang dangkal, karena itu rawan roboh oleh angin kencang bila pohonnya sudah tinggi menjulang. Perhatian perlu diberikan untuk palem botol yang banyak ditanam di kawesan perumahan, mengingat beban batang yang berat di tengah dapat menambah potensi pohon tersebut roboh bila sudah tinggi dan sistem perakaran penopangnya dibawah sudah keropos.

Pinus juga memiliki sistem perakaran yang dangkal. Tegaknya pinus diperkebunan banyak ditopang oleh tegakan-tegakan pinus disebelahnya. Karena itu menanam pinus sebaiknya dengan jarak yang rekatif rapat antar satu tegakan dengan lainnya untuk tegakan pinus tersebut daling menopang. Jadi, menanam pinus berderat dengan satu laipsan tegakan ditepi jalan sangat tidak dianjurkan, karena daya tahan tiap tegakan rendah.

Hal ini berbeda misalnya dengan damar (Agathis damara) yang selain memiliki batang yang kuat juga sistem perakaran yang kokoh menghunjam ke dalam tanah. Karena itu relatif aman untuk memiliki tegakan damar berderet ditepi jalan.