Pendahuluan

            Sebagai salah satu cabang dari ilmu Ekologi, lansekap diterjemahkan sebagai bentang alam, baik itu berupa hutan, perkebunan, perumahan, sungai dan danau, pegunungan, atau ramuan dari seluruh elemen tersebut yang terjangkau sejauh mata memandang. Bentang alam karenanya dapat merupakan mosaik ekosistem-ekosistem yang berbeda, didalamnya terjalin interaksi ekologis seperti siklus materi dan aliran energi.

            Arsitektur lansekap diartikan sebagai suatu disiplin disain profesional yang mengkaitkan manusia dengan lingkungan sekitarnya sehingga manusia dan lingkungannya dapat saling menguntungkan. The American Society of Landscape Architects mendefinisikannya sebagai :

“The art of design, planning, or management of the land, arrangment of natural and man-made elements on through application of cultural and scientific knowledge, with concern for resource conservation and stewardship, to the end that resultant environment useful and enjoyable purpose.” (Booth, 1983)

Perpaduan antara disiplin ekologi dan arsitektur, atau penggunaan konsep-konsep ekologi dalam mendesain suatu kawasan, baik kawasan pemukiman, wisata, ataupun kampus, merupakan suatu kebutuhan dalam upaya menciptakan lingkungan yang asri sesuai dengan peruntukannya.

Penataan Lansekap di Kampus

            Bagi kampus, suasana lingkungan yang diidamkan adalah kondisi yang sejuk dan nyaman, teduh di siang hari karena rimbunannya naungan pepohonan, kampus yang hijau oleh dedaunan, dan berwarna-warni oleh bebungaan. Kondisi lingkungan yang sejuk itu sangat mendukung kegiatan belajar, mengajar, meneliti, dan menuliskan karya-karya yang berguna bagi kepentingan  umat manusia.

            Kehadiran tumbuh-tumbuhan karenanya merupakan hal yang vital dalam menciptakan lansekap yang asri. Suasana yang segar yang tercipta oleh kehadiran tumbuh-tumbuha menyebabkan kampus digemari sebagai tempat berolah raga pada pagi dan sore hari. Dan di hari minggu para remaja dan mahasiswa duduk-duduk berkelompok untuk berdiskusi. Orang-orang dari luar kota datang berkunjung ke kampus ini sebagai salah satu alternatif tempat berwisata.

            Tumbuh-tumbuhan dapat dijadikan sebagai obyek pendidikan dan penelitian. Kampus diharapkan dapat berperan serta dalam melindungi dan melestarikan jenis-jenis tumbuhan langka, disamping dapat melestarikan biodiversitas tropika.

Vegetasi di Kampus ITB

            Di kampus ITB diperkirakan terdapat 280 jenis tumbuhan yang berasal dari 94 keluarga (famili), dalam bentuk pohon, perdu, dan herba, serta diantaranya terdapat tumbuh-tumbuhan jenis langka. Tingkat keanekaragaman tumbuhan di lingkungan kampus dan sekitarnya yang cukup tinggi, diperkirakan karena faktor lingkungan yang mendukung tumbuhnya berbagai jenis tumbuhan. Dengan keadaan lingkungan tersebut, memudahkan untuk mengembangkan tata lingkungan yang sehat dan alamiah serta memberikan rasa kenyamanan, kesegaran, dan keindahan (aestetika).

Meningkatnya arus lalu lintas di sekitar jalan Taman Sari, Ganesha, dan Ir. H. Juanda mengakibatkan semakin tinggi pula tingkat pencemaran dan kebisingan di lingkungan kampus ITB yang terletak tidak jauh dari pusat keramaian kota Bandung. Rimbunnya vegetasi dapat mengurangi pencemaran dan kebisingan tersebut, sehingga memberikan rasa nyaman dan kelancaran proses belajar mengajar. Selain itu, tumbuh-tumbuhan tersebut dapat berfungsi sebagai konservasi air dan tumbuhan langka yang terdapat di kampus ITB seperti, Dillenia philippenis (sempur), Phoenix sp, Erythroxylon navogranatense, dan Cola nitida. Pohon yang tinggi dan rimbun dapat berfungsi sebagai tempat bersarang dan berteduh burung-burung, sehingga kicauan burung masih dapat terdengar di lingkungan kampus ITB. Keanekaragaman tumbuhan yang cukup tinggi di kampus ITB ini sangat membantu bagi kepentingan kuliah, praktikum, serta penelitian bagi sivitas akademis di jurusan Biologi, Farmasi, Kimia dan jurusan lainnya,

            Dominasi utama dari pola pertumbuhan tumbuhan di kampus ITB adalah tumbuhan hias, karena keadaan ekosistemnya merupakan ekosistem buatan yang salah satunya bertujuan untuk memperlihatkan faktor aestetika. Tumbuhan hias yang kini ditemukan dominan antara lain Lagerstroemia flos-reginae (kembang bungur), Bougenvillea spectabilis (kembang kertas), Congea velutina (kembang kolecer), Pyrostegia venusta (Stepanut), Bauhinia purpurea (kembang kupu-kupu), Elaeocarpus grandflorus (anyang-anyang), dan Codiaeum variegatum (puring).

Beberapa gedung di ITB ditumbuhi Stepanut yang merupakan tumbuhan menjalar, diantaranya di aula barat dan timur. Bunga tumbuhan ini berwarna oranye dengan bentuk yang unik, biasanya mekar di bulan Agustus hingga Oktober, berbarengan dengan kedatangan mahasiswa baru ke kampus dan tahun ajaran baru, sehingga seolah menyambut mengucapkan “Selamat datang dan selamat berjuang” kepada para calon intelektual tersebut. Kembang kolecer juga tumbuh merambat, rimbun di gerbang kampus dengan bunga berwarna ungu berbentuk dengan tiga helai mahkota yang kalau gugur akan berputar sehingga disebut “kolecer”, ditanam berdampingan dengan Stepanut. Kembang kertas juga ditanam dengan gerumbulan yang cukup massif di gerbang kampus memberi nuansa warna yang menarik.

Masuk kampus dari gerbang utama (selatan) kampus, dikiri-kanan pohon besar mahoni atau damar  ? Ada damar didaerah depan gedung Fisika kearah barat. Pohon damar yang tegak memberi kesan anggun dilorong masuk.

              

Keberadaan tumbuh-tumbuhan di lingkungan kampus ITB sangat menunjang bagi pendidikan terutama tumbuhan yang memiliki kekhususan seperti tumbuhan langka, tumbuhan beracun, dan tumbuhan obat-obatan Tumbuhan beracun antara lain, Dieffenbachia furneri, Euphorbia tirucali, dan Nerium indicum. Tumbuhan obat-obatan cukup banyak ditemukan antara lain Piper betle, Sonchus arvensis (jombang), Phyllanthus niruri (meniran batang hijau), Solanum verbasifolium (teter), dan masih banyak tumbuhan lainnya.

            Pemeliharaan serta perawatan tumbuhan dilingkungan kampus secara baik akan menghasilkan manfaat serta kegunaan tumbuh-tumbuhan tersebut secara optimal. Selain itu, perlu juga dilakukan penataan untuk mendapatkan suatu lansekap tumbuh-tumbuhan kampus yang cukup baik sehingga menunjang fungsi-fungsi keberadaan tumbuhan tersebut dan juga untuk faktor aestetika. Beberapa faktor perawatan yang perlu diperhatikan antara lain mencakup teknik pemangkasan, penyiraman, pemupukan, perlindungan dari hama, penggantian tumbuhan bunga sesuai musim, teknik pemindahan, dan teknik pembibitan atau perbanyakan.

            Penataan tumbuhan dilakukan dengan melihat dan memperhatikan tata ruang kampus yang telah ada dan yang akan datang, yaitu dengan memperhatikan beberapa faktor fungsinya sebagai green island, green belt, taman, tumbuhan peneduh, atau tumbuhan tepi jalan, sehingga dapat memanfaatkan setiap sudut lahan kampus. Tumbuhan dapat ditata dalam taman-taman yang kecil, kebun botani atau arboretum yang cukup luas. Dalam penanaman dan penataan tumbuhan perlu juga diperhatikan faktor-faktor kebutuhannya akan cahaya, air, pH, dan faktor lingkungan lainnya serta sistem pertumbuhan dari pola percabangan dan akar tumbuhan sehingga kerusakan bangunan dan tumbuhan tersebut dapat dihindari.

            Satu hal yang sangat penting untuk diperhatikan adalah faktor yang dapat menyebabkan terjadinya kerusakan tumbuh-tumbuhan akibat ulah tangan manusia, misalnya dengan mencabuti dan merusak tumbuhan terutama yang masih muda, menginjak rumput, penebangan pohon untuk pembangunan, serta sampah tidak pada tempatnya. Jika terjadi kerusakan lingkungan secara terus menerus maka ekosistem yang setimbang akan sulit tercapai. Oleh karena itu pengambilan spesimen tumbuhan untuk kepentingan kependidikan, dan penebangan pohon untuk pembangunan gedung perlu memperhatikan dan menghindari faktor-faktor yang dapat mengganggu keseimbangan ekosistem tersebut.

Penutup

            Gedung-gedung bertingkat cukup tinggi sudah bermunculan di kampus ini, sehingga dalam proses pembangunannya beberapa tumbuhan ditebang atau dipindahkan. Pembinaan kampus ITB telah mengambil kebijaksanaan berkenaan dengan penebangan dan pemindahan pohon-pohon tersebut dalam kaitannya dengan pembangunan fisik. Pembangunan secara fisik tidak lama lagi ditargetkan akan selesai, dan kita harus menata lagi kampus ini agar tampil lebih menarik, lebih ekologis, dan lebih aestetis.

            Kami memilih taman-taman bunga, dalam bentuk green island atau green belt sesuai dengan fungsi-fungsi yang telah ditetapkan.Untuk itu diharapkan masukan dari berbagai pihak, dan koordinasi antar unit di ITB. Disamping menyiapkan perencanaan untuk masa depan, tentunya saat ini adalah merawat dan menjaga tumbuhan dan pohon-pohon yang ada agar terpelihara dan tumbuh dengan baik.·