rimg4565.jpg  

Eceng gondok (Eichornia crassipes (Mart.) Solm.) pertama kali diuraikan secara taksonomis oleh seorang naturalis Brazil, Karl FP Martius. Tumbuhan ini termasuk ke dalam kelas Monocotylodenae dan keluarga Pontederiaceae. Tumbuhan ini di Indonesia merupakan tumbuhan eksotik yakni didatangkan dari luar, jadi bukan tumbuhan asli (native) Indonesia. Menurut riwayat tanaman ini dibawa ke Indonesia dijaman Raffless sebagai gubernur jenderal, ditanam di kolam di kebun raya Bogor karena warna bunganya yang menarik. Kemudian tersebar ke sungai dekat Kebun Raya Bogor hingga selanjutnya berkembang biak dengan cepat di berbagai badan perairan. Yang sangat menonjol dari tanaman ini adalah perkembangbiakannya yang luar biasa cepatnya. Ia dapat berkembang biak secara vegetatif dengan stolon dan juga secara generatif dengan biji. Gangstad (1978) dalam bukunya Weed Control in River Basin Management mencatat bahwa tanaman air ini dapat berlipat dua dalam jangka waktu sepuluh hari, karena itu maka bila seratus tanaman dibiarkan di suatu perairan, dalam jangka waktu delapan bulan ia akan menutupi wilayah perairan seluas  1 km2 . 

Kemampuan perkembangbiakannya yang tinggi dan penyesuaian dirinya yang baik pada berbagai iklim membuat tanaman ini telah tersebar luas di dunia terutama di negara-negara tropis dan sub-tropis. Penanggulangan tanaman ini sangat sukar sehingga terus menerus menimbulkan problema-problema yang berhubungan dengan navigasi, kontrol banjir, agrikultur, irigasi dan drainase, nilai dari tanah, konservasi satwa liar, perikanan, suplai sumber air, kesehatan lingkungan dan lainnya sehingga pantaslah apabila tanaman ini digelari sebagai “Gulma (tanaman pengganggu) terburuk didunia” dan “Gulma dengan biaya pengelolaan jutaan dollar”.

            Masalah eceng gondok dirasakan oleh berbagai negara di dunia. Di Amerika sejak tahun 1960 telah berdiri  Water Hyacinth Society yang merupakan asosiasi para ilmuwan, praktisi dan pengusaha untuk mengontrol atau menanggulangi masalah penyebaran eceng gondok. Asosiasi ini kemudian berganti nama menjadi Aquatic Plant management Society (APMS) yang meliputi pengkajian aspek-spek biologis, ekologis dan pengontrolan pertumbuahan tumbuh-tumbuhan air pada umumnya dan tidak hanya terbatas pada eceng godok 

            Penelitian mengenai aspek-aspek ekologi eceng gondok di Indonesia sampai saat ini masih belum banyak dilakukan orang, padahal sebagai tanaman yang mengepung di permukaan air eceng gondok memiliki nilai penting yang tinggi. Penyebarannya yang cukup luas, penyesuaiannya yang baik terhadap lingkungan, gangguan dan kerugian yang sangat  berarti yang dapat ditimbulkannya, cara pengendaliannya yang sulit dan cara pemanfaatannya yang belum diketahui dengan baik sebenarnya merupakan alasan-alasan yang menarik untuk meneliti tanaman ini secara menyeluruh.

            Beberapa penelitian mengenai pertumbuhan dan pengendalian fisik eceng gondok telah dilakukan di daerah Bogor dan Rawa Pening. Hasilnya menunjukkan bahwa penambahan jumlah daun, pertambahan berat basah dan berat kering tanaman per hari masing-masing berkisar sekitar 7,5-12,5 ; 13,8 dan 17,4 persen (Santiago, 1973). Dilaporkan juga bahwa satu tumbuhan eceng gondok dengan berat basah lebih kecil dari 20 garam yang ditumbuhkan di kolam Kebun Raya Bogor akan menghasilkan massa antara 0,8-2,5 kg sesudah 52 hari , pada tempat seluas 1 meter persegi (Widyanto, 1975). Selanjutnya Risdiono dan Sidoro (1975) dalam penelitiannya di Rawa Pening menyimpulkan bahwa eceng gondok mengalami pertumbuhan antara 10,56-33,33 persen setiap minggu atau bertambah sebanyak 110 persen dalam jangka waktu empat minggu.

            Sebegitu jauh penelitian-penelitian ini dilakukan di perairan lentik (tenang) seperti telaga, kolam, danau atau rawa. Di perairan yang tenang eceng gondok akan mudah mengalami pertumbuhan massal. Bagi tanaman ini air yang mengalir atau bergelombang karena angin akan menghambat pertumbuhannya. Selain itu penelitian di air yang mengalir tidak semudah dilakukan di perairan yang diam atau tenang.

            Pada bulan September 1984, Team Kualitas Lingkungan Tata Air Puslitbang Pengairan melakukan pengamatan mengenai penyebaran eceng gondok di perairan wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya. Hasilnya menunjukkan bahwa dari 14 buah sungai dan 2 waduk yang ditelusuri, eceng gondok telah menutupi permukaan air seluas 92.515 meter persegi. Pengamatan ini dilanjutkan oleh penulis pada bulan Januari 1985, beberapa hari sebelum terjadinya banjir yang cukup besar di daerah Jakarta. Perairan yang diamati meliputi Kali Ciliwung, Kali Karang, Kali Angke, Kali Grogol, Kali Krukut, Kali Cideng, Sunter, Cipinang, Saluran banjir kanal, tarum barat, Mookevar, Saluran Angke, Cakung “drain:, waduk Setia budi dan waduk Pluit.

            Menarik untuk dibicarakan adalah mengenai kelimpahan eceng gondok di Waduk Pluit. Pada saat pengamatan dilakukan eceng gondok menutupi permukaan waduk ini seluas lebih kurang 40 persen. Eceng gondok di sini tumbuh sangat subur, yang tumbuh di tepi-tepi tingginya bisa mencapai hampir satu meter, daunnya lebar-lebar dan berwarna hijau tua. Di waduk ini berat basah eceng gondok rata-rata 23 kg per meter persegi dan pertumbuhannya tampaknya didukung oleh kandungan nutrisi waduk yang tinggi dan perairannya yang tenang. Salinitas satu permil tampaknya tidak merupakan faktor penghambat bagi pertumbuhannya seperti yang dikemukakan oleh Djalil (1974), menurutnya dalam salinitas satu permil ini eceng gondok masih dapat tumbuh walaupun akan mengalami penghambatan pertumbuhan sebanyak lebih kurang 25 persen bila dibandingkan dengan pertumbuhan di air tawar, setelah 4 minggu kira-kira 25 persen dari daun akan mengalami nekrosis.

            Kelimpahan eceng gondok yang tinggi di waduk pluit ini disebut-sebut salah satu penyebab dari menurunnya kapasitas air yang bisa ditampung oleh waduk tersebut sehingga pada waktu terjadi hujan deras, waduk yang berfungsi sebagai penampung air dari banyak sungai di Jakarta, terutama sungai Ciliwung, akan meluap dan menimbulkan banjir yang cukup serius seperti pada bulan Januari yang lalu.

            Di sepanjang Cakung “drain” kelimpahan eceng gondok juga sangat tinggi, pada lebih kurang 5 kilo meter pertama dari pintu air eceng gondok mengambil bagian hampir separuh dari lebar sungai dan pda 2 kilo meter selanjutnya hampir 100 persen dari permukaan air tertutup oleh “pulau terapung” ini. Di sini tampak terjadi pendangkalan pada hampir sepanjang tepi sungai. Pada daerah yang penuh tertutup eceng, arus air hampir terhenti sama sekali. Berat basah eceng gondok rata-rata di perairan ini sekitar 21,33 kilo gram per meter persegi, dengan tinggi berkisar antara 25 sampai 50 cm.

            Di saluran Mookevart (arah Cengkareng) persentase penutupan eceng gondok juga tinggi, yaitu sekitar 75 persen. Saluran ini tampak kotor, karena selain eceng gondok juga sampah-sampah berserakan di atas permukaan air, membuat aliran air terhenti sama sekali. Adanya eceng gondok dan sampah ini mempercepat pendangkalan sungai, selain itu sanitasi lingkungan daerah sekitar saluran sangat tidak memadai, sampah dan eceng gondok merupakan sarang yang nyaman bagi berbagai wabah vektor penyakit.

            Kelimpahan eceng gondok di sungai Ciliwung terutama sekitar jembatan Proklamasi dan muara Pluit juga sudah sampai pada kondisi yang merisaukan, begitu juga di kali Angke sekitar jembatan Pesing dan kali Sunter sekitar Jos Sudarso.

            Beberapa faktor lingkungan ternyata sangat mempengaruhi kelimpahan dan penyebaran eceng gondok di perairan tersebut, diantaranya adalah kecepatan arus, kedalaman air, hambatan mekanis pada sungai dan sifat kimia fisik air.

            Pada sungai yang aliran airnya tenang eceng gondok dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, tetapi pada sungai yang deras eceng gondok cenderung untuk hanyut terbawa air. Karena itu maka pembuangan sam[pah ke sungai-sungai yang dapat menghambat aliran air sangat mendukung tumbuhnya eceng gondok dengan baik. Pada perairan yang dangkal, terutama yang berlumpur, eceng gondok tumbuh lebih baik daripada di perairan yang dalam, hal ini erat kaitannya dengan kandungan nutrisi dalam Lumpur yang lebih banyak dan lebih mudah diserap oleh tanaman dari pada di perairan dalam. Tiang-tiang penyangga jembatan, batu dan benda lainya yang memungkinkan eceng gondok terkait menyebabkan tanaman ini dapat tumbuh dan berkembang di lokasi tersebut. Selanjutnya air yang lebih keruh, yang konduktivitasnya tinggi juga memungkinkan tanaman tumbuh dengan baik.

            Sebaliknya eceng gondok juga memberikan pengaruh terhadap perairan lingkungan sekitarnya, diantaranya adalah dapat menghambat lancarnya arus air, mempercepat proses pendangkalan karena ia memiliki kemampuan untuk menahan partikel-partikel yang terdapat dalam air, menyuburkan perairan dengan sampah-sampah organiknya sehinga memungkinkan tumbuhnya tanaman lain dan merupakan sarang dari berbagai vektor penyakit, seperti nyamuk. Lingkungan menjadi kurang bersih, khususnya air menjadi kotor.

            Dengan banyaknya dampak negatif yang dapat ditimbulkan oleh eceng gondok maka penanganan atau pengelolaan tanaman ini harus dilaksanakan dengan lebih serius. Biaya pengawasan dan penanggulangan masalah eceng gondok ini memang tidak sedikit, karena itu maka partisipasi masyarakat untuk menjaga kondisi lingkungan perairan agar tetap bersih dengan misalnya tidak membuang sampah ke dalam sungai, secara bergotong-royong mengangkat eceng gondok dari permukaan air, sangat diperlukan untuk mengurangi penyebaran tanaman tersebut, sekaligus dapat membantu pemerintah mengurangi beban dana yang harus dikeluarkan bagi pengelolaan “pulau terapung” yang nakal itu.