Oleh TAUFIKURAHMAN

Desir angin yang berhembus di sela-sela dedaunan pepohonan yang rimbun. Aroma tanah dan rerumputan yang segar ditimpa hujan membasuh nuansa kerinduan terhadap alam pada sebidang tanah yang tidak terlalu luas, terimpit di antara gedung-gedung yang menjulang tinggi. Sejenak beristirahat di bawah pepohonan yang rindang atau sekadar melempar pandangan keluar menatap hijaunya pepohonan dari jendela kantor, menyegarkan mata yang stres akibat terus-menerus menatap layar monitor komputer atau tembok kantor yang betapa pun telah ditata tetap saja tidak mampu memberikan kesan kesejukan sebagaimana yang ditawarkan rimbunan tumbuhan.

GAMBARAN tersebut barangkali mewakili kerinduan masyarakat kota yang haus dengan warna hijau-teduh yang dipersembahkan klorofil-klorofil daun pepohonan, memberikan sedikit relaksasi dari sibuk dan bisingnya kehidupan kota. Masyarakat mendambakan kehadiran hutan kota yang asri sebagai tempat pelarian sejenak dari kesibukan aktivitas sehari-hari.Tumbuhan merupakan komponen ekosistem yang sangat vital dalam menyokong kehidupan di muka bumi. Tumbuhan menyuplai oksigen ke atmosfer yang sangat penting bagi semua makhluk hidup, dan hanya tumbuhan yang mampu mentransformasikan energi sinar matahari menjadi energi kimia dalam bentuk karbohidrat, yang merupakan sumber makanan bagi berbagai makhluk hidup, termasuk manusia.Selain itu, tumbuhan merupakan sumber inspirasi bagi sekian banyak karya besar yang lahir dari pemikiran manusia. Seorang Isaac Newton mendapat inspirasi yang besar mengenai gaya gravitasi bumi ketika ia berjalan dibawah pohon apel dan sebuah apel jatuh didekatnya. Plato lebih senang menggelar pengajaran filosofinya di bawah pohon, dan dari kelas itulah lahir seorang pemikir besar lain, Aristoteles. Sebuah sekolah atau perguruan tinggi yang baik memerlukan arboretum, taman, atau ruang terbuka hijau yang cukup luas untuk menumbuh suburkan inspirasi dan melahirkan karya-karya inovatif.

Barangkali kita boleh berhipotesis bahwa kurangnya pemikiran-pemikiran cerdas dari para birokrat dalam mengelola negara atau daerah, dan mandulnya para ilmuwan dan seniman kita dalam melahirkan karya-karya bertaraf internasional barangkali ada kaitannya dengan minimnya udara segar di sekitar kita yang seharusnya disuplai oleh tumbuh-tumbuhan. Bahkan, dibeberapa kota besar di luar telah disadari pentingnya elemen vegetasi ini yang secara psikologis dapat membantu mencegah, mengurangi, atau menyembuhkan luka-luka dalam masyarakat akibat konflik rasial, kriminalitas yang dilakukan anak-anak remaja dan gangguan psikologis akibat kehidupan kota (urban blight). Sering dengan perjalanan waktu, jumlah penduduk kota semakin meningkat, aktivitas sosial ekonomi dan budaya masyarakat kota juga tumbuh dengan pesat. Pertumbuhan jumlah dan aktivitas penduduk tersebut menuntut penyediaan sarana dan prasarana yang semakin banyak, semakin kompleks, dan semakin variatif. Gedung-gedung menjulang tinggi dibangun berimpitan mengambil alih komponen alami dari ekosistem berupa pepohonan yang semula menempatinya.Di kota-kota besar dengan pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi, laju perubahan lansekap berjalan dengan cepat dan cenderung mengikuti pola eksponensial. Lalu tiba-tiba saja kita tersadar, kita telah terkepung oleh dinding-dinding beton yang kokoh. Kita tidak bebas lagi memandang jauh karena terhalang oleh bangunan-bangunan tersebut, udara terasa semakin panas dan sumpek, dan karenanya kita butuh AC untuk mendinginkan suhu ruangan walaupun akibatnya suhu udara di luar ruangan semakin panas. Karena udara yang panas di luar, kendaraan pun harus ber-AC agar nyaman ditumpangi, dan udara di luar menjadi semakin panas, semakin menambah panas dan pengapnya udara kota. Kondisi udara kota yang tidak menyenangkan itu bukan hanya dirasakan oleh manusia, tapi juga oleh hewan-hewan liar yang biasanya bebas menacari makanan di ranting-ranting pohon yang teduh.Kita bukan hanya kehilangan gemerisik suara dedaunan beradu ditiup angin, tetapi juga cericit burung, juntaian ekor bajing yang meloncat dari pohon ke pohon, kepakan warna-warni sayap kupu-kupu, musik alami tonggeret dan nyanyian serangga lainnya. Kelap-kelip kunang-kunang yang menghiasi malam. Ke mana larinya semua keceriaan alami itu? Kita kemudian menjadi rindu dengan wilderness pepohonan dan fenomena surgawi: taman yang mengalir di bawahnya sungai, dengan udara yang bersih, sejuk, segar, dengan nuansa kedamaian di dalamnya. Kesadaran dan kerinduan ini membuat orang kemudian mulai menanam kembali apa yang sebelumnya mereka tebang, pada lahan-lahan tersisa yang ada di sekitar mereka walaupun mungkin hanya cukup untuk sebatang pohon. Kita ingin mengembalikan hutan di sekitar rumah tinggal kita, di tengah pusat bisnis dan industri, di antara bangunan perkantoran. Fenoma ini universal, terjadi di berbagai kota besar di dunia keinginan untuk memiliki kembali hutan dan ruang terbuka hijau yang nyaman yang memiliki fungsi-fungsi ekologis, fisiologis, sosiologis, dan juga bernilai ekonomis di tengah-tengah kota. Menurut The Society of American Foresters, hutan kota memiliki akar bagi fungsi physiological, sociological, and economic well-being of urban society. Istilah “hutan kota” memang kerap dipandang memiliki makna kontradiktif karena biasanya kota dibangun di atas lahan yang sebelumnya hutan.

Guna memenuhi fungsi-fungsi tersebut, perwujudan sebuah hutan kota memerlukan perencanaan yang matang di antaranya meliputi jenis pepohonan apa yang akan ditanam, berapa jarak tanam antara satu tegakan dengan tegakan yang lain, bagaimana pemeliharaan dan peremajaan pepohonan kelak akan dilakukan, sarana dan prasarana apa yang diperlukan untuk mendukung pemeliharaannya, dari mana diperoleh dana untuk pemeliharaan hutan alami tersebut, lembaga atau instansi apa yang akan bertanggung jawab menanganinya, landasan hukum apa yang perlu dimiliki oleh hutan kota tersebut, bagaimana pengamanan dan pengawasaan pemanfaatannya agar tidak disalahgunakan untuk pelacuran, transaksi narkoba dan tindak kriminalitas lainnya, dsb.

Pelibatan masyarakat dalam upaya mewujudkan dan mengelola hutan kota yang asri merupakan suatu keniscayaan agar masyarakat turut bertanggung jawab, dapat berkontribusi dan berpartisipasi secara aktif dalam perencanaan, pembuatan dan pengelolaan hutan kota tersebut secara berkelanjutan. Lebih lanjut, pewujudan dan pengelolaan hutan kota yang profesional membuka peluang kerja dan tumbuhnya karier pengelola hutan kota yang saat ini telah terjadi di kota-kota besar di dunia. Bahkan, masyarakat juga membuat organisasi-organisasi volunteer pencinta dan penjaga hutan kota dengan berbagai aktivitas yang bersifat edukatif dan sosial budaya.

Kota Bandung memiliki beberapa hutan kota dan ruang terbuka hijau seperti taman Citarum-Cilaki, taman Maluku, taman lalu lintas, kebun binatang, taman Pramuka, taman Ganesha, taman balai kota, taman Cibeunying, kawasan Babakan Siliwangi, dan lainnya dengan luas bervariasi. Kehadiran ruang terbuka hijau dalam bentuk hutan kota tersebut sangat berarti bagi masyarakat Kota Bandung. Berjalan-jalanlah di sabtu sore atau Ahad pagi di tempat-tempat tersebut, kita bergabung dengan anak-anak, remaja, dan bahkan masyarakat senior menikmati hawa segar dari pepohonan tersebut dengan canda-tawa keriangan. Sayangnya, beberapa ruang terbuka hijau yang kita miliki kurang atau tidak terawat dengan baik. Beberapa pohon yang sudah tua dan bagian batangnya bahkan sudah termakan rayap masih ditemukan, padahal harusnya sudah ditebang dan diremajakan, karena pohon-pohon tua tersebut dapat tumbang sewaktu-waktu dan mengancam keselamatan pejalan kaki dibawahnya. Memilih jenis pohon apa yang cocok ditanam di hutan kota juga perlu kecermatan. Beberapa jenis pohon seperti flamboyan dan beringin punya sistem perakaran yang dapat merusak struktur bangunan dan jalan, dan karenanya tidak cocok ditanam di dekat bangunan atau di pinggir jalan. Pohon yang dipilih juga sebaiknya pohon-pohon asli (native) dan bukan pohon-pohon eksotik atau introduksi dari luar. Tanah Air kita kaya dengan beranekaragam jenis dan plasma nutfah (keragaman genetis) tumbuhan yang perlu diketahui oleh masyarakat, khususnya anak-anak sekolah dari taman kanak-kanak hingga sekolah lanjutan dan mahasiswa, dengan berbagai fungsi etnobotani yang dimilikinya. Sebuah hutan kota juga selayaknya memiliki fungsi konservasi biodiversitas dan pendidikan bagi masyarakatnya. Lebih lanjut lagi tumbuh-tumbuhan dan hewan yang terdapat di dalamnya memiliki nilai biodiversity prospecting yang potensial dimanfaatkan dalam dunia kedokteran modern, prospek sebagai bahan pangan alternatif, bahan sandang dan berbagai keperluan lainnya. Sebuah hutan kota juga merupakan laboratorium alami yang diperlukan untuk pendidikan dan penelitian, khususnya dalam bidang ilmu alam seperti biologi, kehutanan, pertanian, dan perkebunan, bahkan farmasi. Dengan kriteria seperti di atas maka hutan kota dan kawasan terbuka hijau di Kota Bandung. Sebagaimana juga di kota-kota lainnya, Kota Bandung perlu pengelolaan penataan dan peremajaan kembali dengan memperhatikan kaidah-kaidah ekologis, aestetis, dan sosial-budaya setempat. Penataan ini memerlukan perencanaan yang matang dengan memperhatikan berbagai aspek di tengah masyarakat, di sana dimungkinkan adanya diskusi, negosiasi berkaitan dengan berbagai kepentingan atas fungsi lahan tersebut. Optimalisasi atas fungsi hutan kota dan kaitannya dengan rencana-rencana pembangunan memerlukan pendekatan yang komprehensif.

Kasus rencana pembangunan kawasan Babakan Siliwangi oleh pemerintah Kota Bandung, sebagai suatu contoh, memerlukan informasi yang akurat mengenai kondisi lingkungan saat ini di lokasi tersebut, khususnya menyangkut fungsi-fungsi hidrologis dan fungsi ekologis dari vegetasinya. Lepas dari pro dan kontra mengenai bangunan apa yang rencananya akan dibuat, setiap pembangunan apa pun juga harus diupayakan semaksimal mungkin untuk mempertahankan dan bahkan meningkatkan kualitas arboretum, hutan kota atau ruang terbuka hijau yang saat ini sudah ada. Penebangan pohon yang terpaksa dilakukan karena tuntutan desain harus diupayakan terjadi seminimal mungkin dan dengan penggantian pohon yang memiliki kualitas sama atau bahkan lebih baik dari yang sebelumnya di sekitar lokasi tersebut.

Hal lain yang perlu dijaga adalah kemudahan aksesibiltas publik ke lokasi babakan siliwangi tersebut sesuai dengan fungsinya sebagai hutan kota atau ruang terbuka hijau. Momentum tersebut dapat digunakan oleh pemkot untuk menata vegetasi di kawasan tersebut yang saat ini terkesan kurang mendapatkan perhatian dan pemeliharaan.

Bagi civitas academica ITB dan warga di sekitarnya, bahkan bagi warga Bandung pada umumnya, kehadiran taman atau hutan kota yang asri di kawasan Babakan Siliwangi dengan penataan yang memperhatikan aspek-aspek ekologis, aesthetis, dan sosial budaya tentu merupakan sebuah dambaan kita bersama.***

Penulis adalah staf pengajar Dept. Biologi ITB.Pikiran Rakyat, Kamis, 20 Februari 2003