Setelah dilantik menjadi khalifah menggantikan peran nabi Muhammad saw sebagai pimpinan umat, keesokan paginya Abu Bakar As-Shiddieq RA ditemukan masyarakat menggelar dagangan di pasar. Umat pun heboh, gimana ini kok pemimpin kita berdagang di pasar ? bagaimana dia akan mengatur negara ? Ketika hal tersebut ditanyakan kepada Abu Bakar RA, mengapa beliau yang sudah dilantik jadi Khalifah masih menggelar dagangan di pasar, jawabannya adalah karena ia harus mencari penghidupan untuk keluarganya.

Menjadi khalifah memang pekerjaan yang baru ada dalam sejarah umat Islam saat itu, dan aturan penggajian ataupun pemberian honor belum ada. Melihat itu beberapa pemuka masyarakat berunding lalu mengusulkan agar Khalifah diberikan gaji yang diambil dari Baitul Maal, sehingga Abu Bakar RA tidak perlu berdagang dan dapat berkonsentrasi sebagai seorang Khalifah. Untuk menetapkan jumlah uang atau kebutuhan dasar yang harus diberikan, mereka menyerahkan kepada Abu Bakar RA. berapa keperluan keluarganya. Abu Bakar RA menyetuji, dan bersama isterinya menghitung kebutuhan keluarga mereka setiap bulannya, dan itu bukanlah hal yang rumit bagi seorang Abu Bakar yang bersahaja, sehingga keluarlah angka yang diambil dari kebutuhan dasar keluarga mereka, dan itu adalah sebuah angka subsisten, yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok mereka. Angka itu disetujui, dan jadilah Abu Bakar sebagai Khalifah dengan gaji dibayarkan dari dana Baitul Maal atau kas negara.

Setelah berlangsung beberapa lama, sekali waktu Abu Bakar RA disuguhi makanan kue-kue oleh isterinya, dan hal ini ini bukan merupakan sebuah kebiasaan di keluarga beliau. Abu Bakar pun lalu bertanya kepada isterinya, darimana terigu yang digunakan untuk membuat makanan tersebut. Isteri beliau menjawab bahwa terigu itu merupakan kelebihan dari jatah yang diberikan setiap bulan dari Baitul Maal. Mendengar itu wajah Abu Bakar memerah, dan saat itu juga Abu Bakar RA menyatakan bahwa bulan depan gajinya harus dipotong sebanyak kelebihan terigu yang diperolehnya setiap bulan, karena ia merasa itu bukan haknya atau hak keluarganya. Haknya adalah hanya untuk kebutuhan dasar saja…

Rekan, itu sekelumit kisah bagaimana seorang sekaliber Abu Bakar AsShidiq RA ketika diberi amanah menjadi pimpinan, ia tidak menuntut gaji yang berlebih, ia hanya mau menerima gaji sekedar cukup untuk kebutuhan pokok keluarganya saja. Ia seorang yang tidak merasa dengan jabatannya lalu menjadi sarana atau kesempatan untuk memperkaya dirinya dan keluarganya. Ia tidak ingin berbeda dengan masyarakatnya, bahkan dengan mereka yang berada pada strata ekonomi terbawah sekalipun. Sungguh, kita sangat merindukan pemimpin dengan kualitas Abu Bakar RA tersebut .