Indahnya kuliah di Biologi,

letusan gunungpun bukan halangan

 

Oleh: Taufikurahman

 

 

Masuk ke ITB dan kuliah di TPB

 

Tahun 1980, ketika di kelas 3 SMA terus terang saya tidak mempersiapkan secara serius untuk ikut testing masuk Perguruan Tinggi Negeri (saat itu namanya Perintis I). Saya malah merasa ingin masuk IAIN seperti seorang kakak sepupu saya. Karena itulah untuk foto ijazah SMA saya pakai peci, biar diterima di IAIN. Tetapi kemudian ada penawaran untuk mendaftar Perintis II ke beberapa Perguruan Tinggi yang besar seperti ITB, UI, IPB dan UGM. Saya tertarik untuk ikutan mengisi formulir dan menuliskan pilihan untuk ke ITB. Ternyata saya diterima di ITB dengan pilihan yang tersedia FMIPA minus Farmasi. Dari  SMA saya (SMAN Bekasi, sekarang SMAN I Bekasi) yang diterima di ITB melalui jalur Perintis II selain saya ada tiga orang teman yang lain, sementara yang ke IPB sekitar tujuh orang, ke UI  satu orang.

 

Sebelum masuk masa perkuliahan saya menyempatkan diri ke Bandung untuk mencari kontrakan, dibantu oleh kakak angkatan yang berasal dari satu almamater. Saya akhirnya mengontrak kamar di daerah Lebak Gede berdekatan dengan kontrakan senior saya itu. Daerah kontrakan tersebut sekarang sudah  menjadi kawasan Sabuga ITB. Saya juga mencari buku-buku yang bisa saya baca atau pelajari sebelum masa perkuliahan. Ketika jalan-jalan ke toko buku di kampus saya tertarik untuk membeli buku “Ilmu Lingkungan”nya pak Aat. Buku itu selesai saya baca di rumah sebelum mulai perkuliahan tiba. Sebetulnya sejak di SMA saya sudah mulai tertarik membaca-baca artikel tentang lingkungan hidup di koran, dan setelah membaca buku pak Aat itu minat saya untuk mempelajari ilmu lingkungan melalui Biologi semakin bertambah besar.

 

Tantangan pertama setelah masuk ke ITB bagi alumni SMA dari daerah seperti saya adalah TPB dengan mata kuliah MA, FI, KI yang cukup sulit. Alhamdulillah saya dapat melampaui tahapan TPB ini walaupun dengan susah payah. Saya merasa bahwa masalahnya adalah pada strategi belajar. Selain pemahaman konsep, untuk ketiga pelajaran tersebut mahasiswa harus rajin berlatih soal-soal dan berdiskusi dengan teman-teman. Waktu TPB ini matakuliah yang saya senangi selain Pengetahuan lingkungan adalah kuliah Ilmu sosial dasar, ini karena bahan perkuliahan ISD adalah bahan yang sudah tak asing bagi saya saat mengikuti berbagai pelatihan organisasi dan kepemimpinan di OSIS dan Pramuka waktu SMA.

 

Di TPB saya masuk di kelas T03, satu kelas dengan beberapa beberapa rekan yang kemudian menjadi Staf pengajar di Departemen lain, yaitu dan Dr. Udjiana (isteri Dr. Adi Pancoro) dan Dr. L. Hari Wiryanto, keduanya dari Dept. Matematika;  Dr. Herman dan Dr. Freddy P. Zein dari Dept. Fisika; dan pasangan Dr. Abdul Kadir dan Dr. Fida Madayanti dari Dept. Kimia. Penjurusan dilakukan setelah masuk tahun kedua. Ketika saya sampaikan kepada Wali TPB saya yaitu bu Tien Wiati (dosen Biologi, pensiun 2001) bahwa saya akan memilih Biologi, beliau sedikit terkejut dan ingin menegaskan kembali “Benar kamu mau ke Biologi ?” dan jawab saya “Ya Bu” dengan mantap.

 

Angkatan 80 Biologi ada sekitar 40-an orang, sebagian besar wanita, diantaranya: Rizkita Rahmi Esyanti, Tjandra Anggraini, Ayda Trisnawati Yusuf, Devi N. Choesin, Trimurti Hesti Wardini (kelimanya saat ini jadi staf di Biologi), selain itu ada Elda Deviane Rachman dan Sri Lestari Bahagia (Fitotek, sekarang Teknokultura), Riri Ryanti Rachmi (lulus cum laude, sekarang kerja wiraswasta), Dwi lestari (pernah di LIPI, sekarang guru di SMU swasta di Bekasi), Tjaturingsih Rosdiana, Lydia (LIPI), Agustiza Haar Cory  (DPMA), Lili Laili Fitri (Universitas Terbuka), Arief Budi Yulianti (dosen UNISBA), Sariwulan Diana (dosen UPI), Widi Purwianingsih (dosen UPI), Petty (guru SMU swasta di Bandung). Laki-lakinya selain saya ada Imam Santoso, Didik Cahyono, Victor, JPN. Sumarno (AI3), Apel Budhy Santoso, Sony Suhandono (dosen BI ITB), Basyarudin Asnawi (Bastraco) dan Agus Hermawan.

 

Masuk ke Departemen kami di OS di himpunan, ketua tim Os-nya saat itu adalah bang Noorsalam R. Nganro, dan yang terlibat diantara seniornya adalah Intan Ahmad, Agus Dana (ketiganya dosen BI ITB), OeOe, Zairin Tomy (dosen UNSYIAH, sedang S3 di BI ITB) , Unu, Ferry, Ina Narayani (Dosen UNUD, Bali). Bang Intan Ahmad menjadi penanggung jawab bagian olahraga, dan dengan beliau olah raganya standar karateka kaliber nasional, diantaranya push-up sambil tepuk tangan. Saya pernah dimarahi bang Tomi gara-gara protes soal pelaksanaan waktu Os, lalu dihukum menyanyi, dan saya bilang ‘teman-teman, saya akan menyanyikan lagu begadang !’ (ucapan ini sangat diingat Devi yang kerap kali hingga sekarang tertawa mengenang itu).

 

Dalam sebuah acara lapangan kami ditanya oleh senior (Agus Dana ?) apa artinya ‘pacaran’. Yang diminta mendefinikan pertama adalah Tjandra, dan dia bilang bahwa ‘pacaran adalah laki-laki senang dengan wanita’, kami tertawa, atau paling tidak tersenyum mendengar definisi yang lugu tentang pacaran versi Tjandra tersebut (kalau saya ingatkan itu Tjandra bilang bahwa dia berlum pernah pacaran sebelumnya). Ternyata kemudian saya ditunjuk untuk memberi definisi yang lain. Setelah berfikir sejenak saya teringat tulisan MAW Brouwer di Kompas tentang pacaran ini, lalu seperti yang ditulis Brouwer itu saya  bilang bahwa pacaran adalah ‘usaha kulit’. Yang lain agaknya terheran-heran dengan definisi tersebut dan saya ditanya senior apa maksudnya, lalu saya bilang bahwa biasanya orang pacaran itu suka bergandengan tangan, berciuman… dst, dan itu adalah usaha kulit. Mendengar itu mereka tertawa, tapi saya juga dimarahi karena definisi tersebut dinilai berbau ‘mesum’. Selanjutnya Elda yang ditunjuk, dan dia bilang pacaran adalah ‘proses saling mengenal antara laki-laki wanita sebelum memasuki jenjang perkawinan’. Tampaknya definisi tersebut memuaskan mayoritas yang ada saat itu, terutama para senior. Sejak saat itu saya kerap dijuluki sebagai “pengusaha kulit”.

 

 

Perkuliahan dan praktikum di Departemen

 

Kuliah di Biologi ITB pada awalnya ada perasaan kurang ‘pede’ dibandingkan dengan rekan-rekan dari Departemen lain, barangkali perasaan seperti ini dialami oleh rekan-rekan di Biologi lainnya. Hal ini bukan hanya terhadap rekan dari fakulltas teknik, bahkan juga terhadap rekan sesama fmipa, ini lantaran masuk biologi waktu setelah setelah melewati masa TPB umumnya adalah mereka yang nilai TPB-nya kurang baik. Umumnya yang IP-nya bagus akan masuk farmasi, fisika, kimia atau matematika. Tetapi, syukurlah perasaan tersebut lama kelamaan hilang, terutama setelah tahun 1982 akhir  saya masuk asrama Barrac-ITB, bergaul dengan rekan-rekan dari  berbagai Jurusan. Saya bahkan sempat menjadi Ketua Dewan Senior Asrama Mahasiswa ITB. Semakin lama saya merasa bahwa Biologi memang pilihan yang paling tepat bagi saya, sesuai dengan minat dan kemampuan saya, dan belajar Biologi itu  indah dan menyenangkan.

 

Saking senang dan cintanya kuliah di Biologi, letusan gunungpun bukan merupakan halangan. Begini ceritanya, pada suatu pagi di awal tahun 1982 saya sudah bersiap-siap untuk berangkat kuliah, pagi itu seingat saya jam 9.00 akan ada kuliah di R. 2201 gedung lama. Pagi terasa mendung karena sudah jam 6.00 matahari belum tampak, jam 7.00 ternyata juga belum muncul, kami jadi curiga ada apa ini ? karena tidak seperti biasanya, apakah ini tanda-tanda akan kiamat saat matahari tidak terbit di timur tetapi akan terbit di barat ? Teka-teki itu kemudian terjawab, perlahan-lahan dari langit turun debu-debu halus berwarna abu-abu. Saya dengan beberapa rekan di tempat kontrakan mencari berita lewat radio, dan kami mendapat informasi bahwa semalam gunung Galunggung di Tasikmalaya meletus, dan debunya tersebar hingga ke Bandung dan kota-kota di Jawa barat lainnya. Nekatnya saya memaksakan diri ke kampus untuk kuliah (rajin banget ya), yang jelas  ini menunjukkan betapa senangnya saya kuliah di Biologi, hingga hujan debu sekalipun bukan halangan.. Kampus pagi itu sudah ditutupi debu sehingga pemandangan semua abu-abu, tidak banyak orang yang datang ke kampus pagi itu kecuali satu-dua orang yang nekat seperti saya, dan seperti diduga begitu sampai gedung Biologi saya tidak menjumpai seorangpun disana

 

Sosok dosen yang sangat disegani para mahasiswa pada saat itu adalah Prof. Edi Noerhadi yang memberi kuliah wajib Fisiologi Tumbuhan. Ketika saya mengikuti kuliah tersebut, peserta dikelas terdiri dari berbagai angkatan, selain angkatan 80, banyak pula angkatan 79, 78 dan 77 yang masih mengulang mengikuti kuliah  tersebut. Entah bagaimana caranya tetapi saya ditunjuk menjadi ketua kelas oleh pak Edi. Setiap kali kuliah mesti sunyi senyap, tidak ada yang berani buka mulut, kecuali kalau ditanya dosen, kami takut kalau beliau marah. Tugas ketua kelas diantaranya adalah menghapus papan tulis, nah sekali waktu saking rajin dan kreatifnya, saya menghapus bagian yang harusnya belum dihapus, tentu saja pak Edi memarahi saya.

 

Sosok lain yang juga sangat disegani mahasiswa adalah sosok bu Sri Sudarwati, bu Lien Sutasurya, dan pak Aat (Soeriaatmadja). Saya kagum dengan cara mengajar bu Sri yang, dimata kami para mahasiswa saat itu, begitu berwibawa, rapih, tertib, disiplin, tegas, tanpa cacat. Ibu Lien juga sosok yang tidak berbeda dengan bu Sri. Saya ingat saat beliau dengan tenangnya menarik meja di kelas dan menimbulkan bunyi yang cukup nyaring. Pak Aat adalah dosen yang selalu bersemangat dalam memberi kuliah, bahkan di lapanganpun beliau oke.

 

Bagi angkatan 80, 79, 78 kuliah lapangan yang tak kan terlupakan adalah saat kuliah lapangan ke Cidaun Cianjur dalam kuliah zoologi umum dengan dosen Pak Hidayat Syarief (alm.).  Untuk menuju ke lokasi kami harus berjalan jauh beberapa kilometer karena jalannya belum bisa dilalui kendaraan umum. Cuaca yang panas, harus membawa beban ransel dan peralatan praktikum membuat kuliah lapangan terasa seperti sebuah os, bahkan rasanya lebih berat lagi.

 

Sosok dosen Biologi lain yang berkesan bagi saya adalah bu Hasiana (alm.). Bu Hasiana memiliki kepandaian berbahasa Inggris dan bahasa Indonesia yang diatas rata-rata. Saya sangat senang mendengarnya berbicara dengan tutur kata, intonasi yang sangat pas dengan mimik yang terlihat lucu, dan bu Hasian menurut saya sangat pandai bercerita. Tulisan dan lukisannya dipapan tulis menurut saya sangat bagus, paling bagus dibanding tulisan atau lukisan dosen-dosen lainnya. Bu Hasiana mengajar kuliah Ekologi Hewan dan membuat diktat yang sangat membantu kami memahami materi kuliah. Saya sangat senang membaca diktat tulisan bu Hasiana yang diterjemahkannya dari Odum. Bu Hasiana sangat senang mengajak diskusi di kelas, dan itu menjadi bagian yang sangat menarik bagi saya karena dengan demikian bisa berkomunikasi dan berdebat dengan dosen. Bu Hasiana sempat mengomentari artikel yang saya tulis di koran PR tentang pengertian ekologi berkenaan dengan siapa yang pertama kali melontarkan istilah ‘ekologi’.

 

Sekali waktu setelah UTS bu Hasiana mengeluarkan nilai hasil ujian, tetapi nama saya tidak ada dalam daftar. Saya menghadap bu Hasiana di ruang kerja beliau di gedung tambahan dekat rumah kaca, beliau bilang berkas ujian saya tidak ditemukan, dalam hati saya ‘Oo my God padahal saya sangat yakin telah menjawab dengan sangat baik ujian beliau’. Bu Hasiana bilang bahwa berkas ujian saya adalah yang pertama beliau periksa sebelum berkas ujian mahasiswa yang lain. Saya membantu beliau membuka-buka tumpukan berkas-berkasnya, ternyata memang meja dosen itu sejak dulu penuh dengan tumpukan berkas-berkas. Aha ! ternyata berkas ujian saya  ditemukan diantara tumpukan kertas di meja beliau, dan nilainya  sangat baik. Setelah saya baca beberapa bagian, ada yang saya protes pada bu Hasiana, mengapa nilai suatu nomor tidak diberi maksimal, padahal menurut saya rasanya benar , bu Hasiana bilang bahwa sebenarnya berkas saya yang beliau periksa awal dan dijadikan standar dalam memeriksa yang lain sudah mengandung bonus-bonus nilai. Saya dapat nilai A untuk kuliah Ekologi Hewan (4 sks) dan itu sangat memuaskan, karena itu termasuk kuliah yang cukup melelahkan dengan praktikumnya yang banyak, apalagi kalau ingat praktikum mengukur jarak edar Achatina fulica sehari-semalam, dan kuliah lapangan ke Situ Lembang, praktikum CMR yang harus mengejar-ngejar capung men-tip-ex kepalanya, melepas dan menangkap kembali.

 

Kuliah ekologi tumbuhan dengan pak Surasana (alm.) juga sangat menarik bagi saya. Saya merasa interes saya ada disini, di bidang ekologi. Pada kuliah ini saya bisa berdiskusi banyak, karena banyak peluang, kemungkinan, hasil penelitian bisa variatif tergantung kondisi lingkungan, dan interpretasi, analisis sangat dibutuhkan, kendati ada aturan umumnya. Selain itu ada beraneka issue lingkungan yang memerlukan pendekatan ekologis dalam menganalisa dan mencari solusinya. Issue lingkungan sedang banyak dibicarakan orang, terutama soal pencemaran dan perusakan lingkungan. Saya pikir bidang ilmu ini akan terus berkembang dan keahlian dalam bidang ini akan banyak dibutuhkan dikemudian hari. Akhirnya saya memang memilih ekologi, khususnya ekologi tumbuhan untuk penelitian tugas akhir. Pada tahun berikutnya saya menjadi asisten praktikum ekologi tumbuhan, yang sempat saya asisteni diantaranya angkatan 81 (Iriawati cs) dengan kuliah lapangan ke gunung Guntur, Garut dan angkatan 82 (Anggraini Barlian cs) dengan kuliah lapangan ke Kawah kamojang, Garut.

 

Figur yang juga berkesan bagi saya adalah mendiang bu Oey Biauw Lan. Beliau adalah Wali saya setelah masuk ke Departemen. Dengan beliau saya sering diskusi berbagai hal, dari soal kuliah yang akan saya ambil hingga soal keluarga dan hal-hal lainnya. Bu Lan pernah menyampaikan keluhan mahasiswa Ektum yang saya asisteni lantaran saya menggunakan kriteria penilaian laporan praktikum dengan format yang layaknya untuk skripsi, padahal format itu saya dapatkan dari kuliah S2 metodologi penelitian yang beliau ajarkan. Bu Lan selalu menyemangati saya untuk melanjutkan kuliah terus S2 dan S3, apalagi setelah saya menjadi Staf pengajar, beliau bilang “Kamu harus mengambil S3, jangan seperti ibu”.  Ketika S2 saya mengambil kuliah limnologi lagi sebagai pilihan,  bu Lan bilang buat apa kamu ambil kuliah ibu lagi, saya bilang kan mestinya beda bu antara kuliah S1 dan S2, dan saya ingin pendalaman. Ternyata di kuliah S2 bu Lan lebih banyak memberikan tugas pada kami untuk membaca paper dalam bahasa Inggris, mempresentasikan dan mendiskusikan nya di depan kelas.

 

Tugas akhir

 

Saya mengambil tugas akhir ekologi tumbuhan dengan pembimbing pak Aat. Saat itu pak Aat sedang aktif di kantor KLH sehingga kehadiran beliau di Departemen hanya pada hari-hari tertentu. Banyak teman-teman mengomentari sukarnya bertemu dengan pak Aat, dan kalaupun sudah ketemu harus tahan mental dengan pertanyaan-pertanyaan beliau. Saya sendiri merasa tidak ada masalah berhadapan dengan beliau, barangkali karena saya termasuk pengagum beliau. Penelitian yang saya lakukan adalah mengamati pengaruh limbah industri tekstil terhadap pertumbuhan tanaman padi. Untuk tempat penelitian saya harus membuat rumah plastik dikebun biologi, karena ruangan di rumah kaca sudah penuh. Pada awal penelitian Pak Aat memberi saya surat untuk disampaikan ke pak Surasana dan ternyata saya diberi uang cukup untuk membeli bahan-bahan untuk rumah plastik dan ember-ember untuk tanaman. Untuk kelancaran konsultasi pak Aat meminta saya untuk membuat buku konsultasi. Sekali waktu saya tulis pertanyaan: ‘berapa ulangan untuk tiap perlu saya buat dalam penelitian’, dan jawaban tertulis beliau di buku tersebut lebih kurang bahwa pertanyaan itu saya sendirilah yang harus menjawabnya sendiri.  Konsultasi melalui buku itu tidak banyak saya lakukan, karena ternyata saya bisa cukup sering bertemu dengan pak Aat langsung baik di kantor ataupun di rumah beliau, dan penelitian saya berjalan cukup lancar. Alhamdulillah saya bisa menyelesaikan tugas akhir dibawah bimbingan pak Aat dengan baik dan dapat lulus tepat waktu.

 

Pada saat akan sidang sarjana, saya di briefing pak Aat untuk bersikap tenang dan menjawab pertanyaan dengan baik, dan beliau menekankan beberapa kali bahwa sayalah yang paling tahu apa yang telah saya lakukan dalam penelitian saya. Pada sidang sarjana, di akhir acara setelah saya dinyatakan lulus, pimpinan sidang, bu Tjan Kiauw Nio (sebagai Ketua Departemen) menyampaikan penawaran apakah saya berminat untuk menjadi Staf pengajar Biologi, beliau mengingatkan bahwa saya pernah mengeritik kurikulum Biologi, dan menawarkan apakah saya berminat untuk membantu memperbaikinya dengan menjadi Staf Biologi. Itu sebuah penawaran yang sangat menarik, saya mendapat kebahagiaan ganda, lulus sebagai sarjana dan selanjutnya ditawari untuk menjadi Staf. Tetapi saat itu saya tidak bisa langsung menjawab penawaran bu Tjan, dan tampaknya bagi Biologi tidak semudah itu menerima seoarang sarjana baru sebagai calon Staf pengajar, perlu ada persetujuan dari Staf senior yang lain, saya baru tahu kemudian bahwa masalah seperti ini harus terlebih dahulu dibicarakan di tingkat Majelis. 

 

Pada saat perayaan wisuda di Departemen pak Aat menyempatkan diri datang, dan saya satu-satunya anak bimbingan beliau yang diwisuda saat itu. Saya mendapat kesempatan untuk berbicara mewakili wisudawan, dan saya sempat mengatakan bahwa cita-cita setelah wisuda ini adalah menjadi Bupati Bekasi. Sayangnya saya tidak tahu apa yang perlu dilakukan untuk menjadi Bupati. Saya diwisuda bersama teman seangkatan Rita, Tjandra dan Riri. Dengan Rita dan Tjandra ternyata kemudian saya mengalami perjalanan hidup yang bersamaan. Kelak kami bertiga ikutan S2 sama-sama, kemudian sama-sama ke Swansea, Inggris untuk melanjutkan S3, dan sama-sama menjadi staf di almamater kami, itu suatu hal yang tak terbayangkan sebelumnya.    

 

Setelah liburan beberapa saat di Bekasi, beberapa teman: Adi Pancoro, Sony Suhandono, Daru Yuli, Yohanes dan berapa teman dari angkatan 82 (Wijayono cs) mengajak saya untuk ikutan ekspedisi ke Pulau Rambut di kepulauan Seribu. Ini ekspedisi yang dirancang seilmiah mungkin menurut versi mahasiswa, sayangnya memang tidak ada dosen yang dilibatkan. Di Pulau Rambut kami mengamati vegetasi mangrove, populasi burung, kalong, dan hewan lainnya. Kami membawa juru foto yang handal yakni Yohanes (angkatan 79) yang hasil jepretannya sangat baik. Hasil pengamatan dari ekspedisi tersebut sempat kami presentasikan di Departemen dengan mengundang dosen-dosen, dan tampaknya mereka sangat tertarik dengan hasil kami. Hasil ekspedisi ini bahkan sempat dipresentasikan di sebuah universitas di Inggris. Tahun berikutnya saya kembali ke P. Rambut dengan bu Hasiana dan rekan-rekan S2 yang mengambil Biologi Lingkungan.

 

Tahun 1985 saya menghadap bu Tjan Kiauw Nio sebagai Ketua Departemen, mengajukan lamaran untuk menjadi Staf pengajar. Kepada bu Kiauw saya sampaikan bahwa saya sangat berminat untuk menjadi Staf pengajar Biologi  ITB. Beberapa lama kemudian ketika saya akan disidang di majelis saat untuk penerimaan, saya dipanggil pak Mumu yang menyampaikan pada saya beberapa catatan bagaimana selayaknya saya bersikap dihadapan para Senior. Bu Estiti sempat menanyakan bahwa sebagai Staf saya harus meneliti, tetapi bagaimana bila tidak ada dana untuk penelitian ? Jawaban saya adalah bahwa untuk bidang Ekologi tumbuhan kita tidak perlu banyak dana untuk melakukan penelitian, cukup pergi ke hutan atau lapangan membawa peralatan sederhana, jadi tidak ada alasan untuk tidak meneliti. Diantara staf Biologi saat ini, yang berasal dari angkatan 80 adalah yang terbanyak (tujuh orang).

 

Tahun itu juga saya bersama Tjandra, Rizkita, Agus Dana, pak Suripto, bang Ellyzar (angkt 78, sekarang dosen UI), beberapa dosen UNPAD (pak Ade Pandi, bu Yetty Gani, Rully Budiono), dosen UGM (Memet Sagih) mengikuti program S2 di Departemen. Saya masuk bidang Biologi Lingkungan, sementara Rizkita, Tjandra, Agus Dana dan pak Suripto bidang Fisiologi. Tjandra dan Agus Dana hanya bertahan satu tahun di S2 Biologi karena setelah itu mereka ke luar negeri untuk mengambil S3. Saya dan Rita bertahan hingga akhir, walaupun ternyata Rita terganjal tidak sempat sidang ketika sudah harus berangkat ke Inggris, sedangkan saya walaupun berangkat ke Swansea, Inggris lebih dulu 2 bulan dibanding dia, pembimbing saya pak Mumu dan pak Aat dapat diajak kompromi sehingga saya bisa sidang akhir.  Kami melanjutkan sekolah S3 keluar negeri dengan bantuan dana World Bank XVII melalui PAU ilmu hayati yang saat itu dipimpin pak Soelaksono. Melalui scheme tersebut banyak staf Biologi yang melanjutkan studi S3 ke luar negeri, diantaranya Achmad Sjarmidi, Tati S. Subahar, Maelita R, Moeis, Noorsalam R. Nganro, Intan Ahmad, Agus Dana, Tjandra Anggraeni, Rizikita, Adi Pancoro, Ahmad Ridwan, Devi N. Choesin, dan saya sendiri. Alhamdulillah semuanya berhasil menyelesaikan studi S3 dengan baik.  

 

Tentang kurikulum dan peran Biologi

 

Sekali waktu, sekitar awal tahun 1984 departemen mengadakan seminar tentang pendidikan Biologi berkaitan dengan Dies natalis BI ITB bertempat di gedung oktagon, dan dalam pertemuan di  diundang juga para alumni. Pada kesempatan itu saya sebagai mahasiswa sempat menyampaikan pandangan bahwa terkesan beberapa perkuliahan di departemen banyak berputar-putar mengulang topik yang sama, tingkat overlapping materi dari perkuliahan yang satu ke perkuliahan yang lain cukup tinggi. Setelah acara tersebut, dalam suatu kesempatan  pak Soel menyatakan bahwa kritik saya tentang perkuliahan di Biologi ada benarnya. Kendati demikian saya merasa ada sedikit perasaan bersalah karena rasanya kritik yang saya lontarkan cukup tajam sehingga bisa jadi melukai perasaan Staf pengajar, khususnya para Dosen Senior.

 

Pada kesempatan yang lain, sekitar awal 1985, Nymphaea mengadakan acara Dies Natalis di Student Centre barat dengan mengadakan seminar mengenai peran Biologi. Berbicara pada seminar tersebut adalah Prof.Dr. Dodi Tisna Amidjaja, Prof.Dr. Edi Noerhadi, dan Dr. Moedomo (alumni, bekerja di Bulog ?). Saya diminta rekan-rekan menjadi moderator. Seingat saya itu adalah interaksi saya yang pertama, dan ternyata kemudian yang terakhir dengan pak Dodi. Saya teringat ketika diakhir acara beliau memberi komentar memuji kesimpulan diskusi yang saya buat. Saat itu pak Dodi sebagai Ketua LIPI, dan selanjutnya menjadi Duta besar di Perancis. 

 

Kiprah dan keteladanan para Dosen Senior

 

Pak Dodi adalah sosok Biologiwan ITB yang membanggakan. Keluasan ilmu beliau, kearifan, keramahan, ketenangan, kepemimpinan yang beliau tunjukan menjadikan beliau sebagai sosok yang disegani, karena itu beliau dipercaya untuk menduduki posisi-posisi penting seperti menjadi Dekan Departemen Kimia-Biologi tahun 1963-1965, Rektor ITB, Ketua LIPI, dan Duta Besar RI untuk perancis hingga akhir hayat beliau. Memang setelah menjadi pejabat kiprah beliau di Departemen Biologi tidak bisa intensif lagi, tetapi itu adalah resiko, dan saya kira Biologi rela melepas putra-putri terbaiknya untuk berkiprah diajang yang lebih tinggi lagi sehingga bisa lebih bermanfaat terhadap bangsa dan negara.

 

Selain pak Dodi, Biologi juga punya pak R.E. Soeriaatmadja yang telah mengenalkan ilmu lingkungan di negeri ini dan telah mengabdi lebih dari tujuh belas tahun di kementerian lingkungan hidup baik sebagai Staf ahli ataupun sebagai aisisten menteri. Untungnya juga Biologi punya bu Sri Sudarwati yang siap menjadi penjaga gawang, the guardian of value di Departemen Biologi ITB dalam kurun waktu yang cukup panjang. Kiprah beliau dalam pertumbuhan dan perkembangan Biolog ITB sangat signifikan. Dengan keluasan ilmu, kearifan dan ketenangan beliau, bu Sri menjadi figur yang disegani, dihormati. Selain menjadi ketua jurusan/departemen Biologi dalam beberapa periode, bu Sri Sudarwati pernah menjadi Dekan FMIPA juga dalam beberapa periode dariu tahun  1981 s/d 1988. Selain bu Sri Sudarwati, Biologi juga sangat beruntung punya figur sekaliber Pak Soelaksono yang disegani dalam bidang keilmuannya di tanah air, khususnya dalam bidang Entomologi. Pak Soel pernah menjabat sebagai Ketua PAU (Pusat Antar Universitas) Ilmu Hayati ITB. Sebetulnya masih banyak lagi kiprah dan keteladanan yang diberikan oleh dosen-dosen senior kami yang lain, tetapi tanpa mengurangi rasa hormat kami terhadap yang lain, nama-nama diatas mudah-mudahan mewakili masyarakat Biologi yang pada umumnya adalah orang-orang yang memiliki dedikasi tinggi terhadap pendidikan, memiliki rasa tanggungjawab yang besar dalam menunaikan amanah yang diembankan kepada mereka, berdisiplin dan selalu berkarya. Mudah-mudahan kami bisa mengikuti jejak terpuji mereka. ·