Dinamika politik terus bergulir. Kendati telah mendapat dukungan dari PKS,PAN, PPP dan PKB, saat ini SBY/Demokrat tengah melakukan pendekatan dengan PDIP. Alasan Demokrat mereka ini melakukan silaturahim yang diajarkan oleh agama, dan peluang koalisi terbuka dengan partai apa saja. Silaturahim itu sah-sah saja, demikian juga koalisi dengan siapapun boleh-boleh saja. Tetapi, dalam situasi politik seperti ini siapapun akan membaca dengan jelas bahwa SBY/PD merasa tidak cukup atau masih merasa kurang nyaman dengan hanya mengandalkan dukungan parpol-parpol Islam atau berbasis massa Islam yang sementara ini sudah dia peroleh. Demokrat/SBY khawatir kalau itu akan menjatuhkan popularitas SBY, khawatir ditinggalkan oleh block votes. Karena itu dia berambisi untuk menggaet PDIP dalam koalisi agar kesan kental keislaman itu bisa diencerkan dengan masuknya PDIP. Manuver politik SBY/Demokrat sendirian ini pastinya memcederai fatsoen koalisi bersama parpol-parpol pendukungnya semula, karena mereka merasa tidak diajak kompromi.
Sejatinya sejauh ini memang parpol-parpol pendukung Demokrat tersebut terkesan memberi cek kosong kepada SBY untuk berkoalisi dengan partai apapun dan untuk mengambil cawapres siapapun. Semua orang waras tahu bahwa hal seperti itu namanya bukan koalisi yang sehat tetapi koalisi yang tidak seimbang, sangat terpimpin, dan tidak mengherankan bila menjadi cenderung otoriter, mentang-mentang suaranya paling besar. Sebuah koalisi yang sehat mestinya didasarkan pada prinsip kompromi antar parpol pendukung, terutama menyangkut pengambilan keputusan-keputusan yang strategis.
Selain itu dalam penentuan cawapresnya, SBY tampaknya ingin hal itu sepenuhnya menjadi otoritas beliau, dan parpol-parpol pendukungnya cukup mengajukan calon-calon mereka untuk kemudian diseleksi oleh SBY. Rumor yang saat ini beredar bahwa SBY telah memilih Budiono, Gubernur BI, untuk cawapresnya, sebagai strategi untuk menarik hati PDIP. Pilihan ini, tanpa terlebih dahulu berdiskusi dengan parpol lain, juga memicu permasalahan baru, mengingat keputusan itu tidak dikompromikan dulu dengan parpiol-parpol pendukung yang umumnya menginginkan cawapresnya dari salah satu parpol pendukung tersebut.
Sangat logis bila manuver SBY/PDIP yang terakhir ini akan dianggap oleh parpol-parpol lain pendukung koalisi Demojkrat sebagai mencederai etika dan kesepakatan koalisi, dan karena itu sangat dapat dipahami bila kemudian parpol-parpol tersebut akan berpikir ulang untuk menarik dukungan dari Demokrat. To make it worst, SBY/Demokrat tampaknya sengaja mengulur-ulur waktu pendeklarasian Cawapresnya hingga tanggal 15 mei malam yad, agar tidak cukup waktu bagi parpol-parpol yang telah menyatakan dukunganya untuk melakukan menuver menarik dukungan dan membuat koalisi sendiri, karena waktunya tinggal 1 hari lagi, bahkan kurang.
Saat ini masih ada waktu buat PKS, PPP, PAN,PKB untuk menarik dukungan kepada SBY/Demokrat dan bikin koalisi sendiri, sangat mungkin juga bila mengajak Gerindra. Biarkan PD/SBY berasyik masyuk dengan PDIP/Megawati. Tinggalkan saja Demokrat dan bikin koalisi sendiri. Kalah tidak menjadi masalah, dan siap menjadi oposisi yang berwibawa. Yang penting mereka harus menunjukkan harga diri sebagai partai-partai yang berdaulat dan bukan sekedar pelengkap pendeerita dalam koalisi tersebut. Strategi ini juga akan menepis sementara anggapan bahwa mereka mendekati Demokrat karena haus kekuasaan.

12 comments
Comments feed for this article
Mei 12, 2009 pada 11:48 am
sandibayuperwira
Ayo dukung Prabowo-HNW….
Mei 12, 2009 pada 2:24 pm
suhariy
Saya setuju kalo PKS dan partai Islam lainnya bikin koalisi sendiri. Bolehlah merangkul Gerindra juga yg pro rakyat. Tinggalkan demokrat-pdip yg dedengkot kapitalis dan antek amerika.
My Wishlist:
[1] Amien Rais-HNW
[2] Prabowo-HNW
Mei 12, 2009 pada 5:29 pm
Habib
Alhamdulilah..
SBY tidak direpotkan oleh PKS….
Mei 12, 2009 pada 9:56 pm
wantop
aku setuju,,keluar aja dari demokrat, gabung dengan gerindra
Prabowo – HNW is ok…
Mei 12, 2009 pada 11:48 pm
Dedhy Kasamuddin
Assalamu ‘alaikum mas, demi menjalin silaturahmi sesama Blogger marilah kita saling bertukar link, gimana mas?? Salam kenal yah dari Dedhy Kasamuddin
Mei 13, 2009 pada 12:34 am
Didin
sepakat tuh
Mei 13, 2009 pada 3:41 am
kenmahdi
Mudah-mudahan pilihannya yang bijak ya mas..
Ada Tips Membeli Komputer di http://kenmahdi.wordpress.com
Silahkan mampir mas…
Mei 17, 2009 pada 1:54 pm
waskita
Saya bingung dengan konsep koalisi. Pada waktu pemilu, setiap partai sibuk mendeskripsikan perbedaanya dengan partai lain. Namun setelah selesai pemilu , partai-partai tersebut justru sibuk mencari persamaan. Hasilnya para pemilih be-te, kok partai kesayangannya akhirnya berkoalisi dengan partai lain yang tidak disukainya. Kenapa tidak dari sebelum pemilu partai tersebut mengumumkan bahwa akan berkoalisi dengan partai X misalnya?
Seperti kasus PKS ini kan jadinya ada orang yang kecele, susah-susah pilih partai Islam (PKS), toh akhirnya berkoalisi juga dengan partai sekuler/nasionalis.
Mei 18, 2009 pada 1:08 pm
taufikurahman
@Waskita, masalahnya di negara kita belum ada koalisi yang sifatnya permanen spt di negara jiran. Yang jelas PKS sudah koalisi dg demokrat sejak hampir 5 th lalu pd kabinet SBY ini, dan waktu terakhir masa kampanye yal juga didengungkan slogan, diantaranya SBY Presidenku PKS partaiku.
Mei 22, 2009 pada 12:29 am
Agung
Assalaamu’alaykum
Pak Taufik, awalnya saya setuju juga dengan ide ini.
Ternyata eh ternyata, setelah diklarifikasi, lebih susah memfusikan partai2 ini atas dasar “kehijauannya”. Lebih mudah berkoalisi atas kebutuhan riil masyarakat ternyata =)
Tapi, untuk ide jangka panjang menarik juga pak.
Wallahu’alam
Mei 28, 2009 pada 6:46 am
waskita
Kelompk yang “kehijauan” ini beda-beda sih sebenarnya. Genrenya macam-macam. Dari segi aqidah ada yang Sunni, Qadariah, Jabariah, Syiah dan entah apa lagi. Ada yang ketat soal syariat, ada yang longgar. Ada yang setuju sistem khalifah, ada yang menolak mentah-mentah, ada juga yang nggak tahu tentang sistem khalifah.
Lebih mudah kalau ada pemimpin ‘hijau’ yang berwibawa dan dapat menyatukan semua pandangan. Kalau kita lihat sejarah, dari zaman nabi Adam sampai sekarang, pergerakan kebangkitan Islam selalu ada pemimpinnya yang berwibawa.
Juni 17, 2009 pada 9:52 am
Lan_niez
GIMANNNNAAA CERITANYE,,,, kaLo bangsa ini pemimpinye seorang penjahat HAM…. dan seorang penganut paham ISLAM PURITAN (praboo-HNW) ga kebayang jadinya apa….. inget.. kita punya PancasiLa (bukan berarti saya penganut Paham pancasiLa dan IdeoLogi Demokrasi) akan tetapi… HNW, kedepan Misinye sudah bisa Di baca,,,,, sekRAng mampu atau tidak Mereka menumbangkan PancasiLa Untuk menjadikan Indonesia negara iSLam, secra,,,, PIagam Jakarta Pun Tanda buKti konkrit kLo pancasiLa sebagai IDeoLogi / pondasi yg udagh Karatan di benak masyarakatnya….
SULIT MASSS… apaLagi pRabowo jadi presiden… ngimpinye aja gw OGgggaah…. anti MILITERISME dagh agh….