Saat ini Presiden SBY tengah menimang-nimang beberapa nama yang disodorkan kepada beliau baik oleh berbagai parpol lain yang akan berkoalisi dengannya. Selain dari parpol lain, nama-nama tersebut bisa jadi juga diusulkan oleh internal partai demokrat sendri, atau bisa jadi juga oleh orang-perorangan yang masing-masing punya interest atau ambisi untuk menjadi cawapres SBY dalam pemilihan Presiden RI yad.
Salah satu nama yang saya percaya sudah ada ditangan SBY adalah Dr. Hidayat Nur Wahid atau HNW, ketua MPR RI saat ini. Nama HNW diusung oleh PKS, partai yang insyaAllah akan berkoalisi dengan Partai Demokrat yang akan mengusung SBY sebagai Capres RI yad. Nama HNW sudah lama masuk dalam bursa cawapres SBY. Sebelumnya berbagai polling sudah dilakukan berkenaan dengan siapa pasangan yang paling layak mendampingi SBY, diantaranya JK, HNW, Akbar Tanjung, Soetrisno Bachir, Sri Mulyani, dan satu nama lagi yang belakangan muncul: Hatta Rajasa. Dalam berbagai polling yang dilakukan oleh lembaga survey, pasangan SBY-HNW menduduki peringkat pertama, mengalahkan pasangan SBY-JK sekalipun, sebelum Golkar resmi mengundurkan diri dari koalisi dengan Demokrat.
Dengan berpisahnya Golkar dengan Demokrat dalam koalisi yad, atau cerainya pasangan SBY-JK, maka kemungkinan berpasangannya SBY dengan HNW semakin terbuka lebar, karena PKS menjadi merupakan partai koalisi Demokrat yang raihan suaranya paling besar, lebih besar dari partai lain yang juga akan berkoalisi seperti PKB. Apalagi PAN sendiri saat ini belum secara resmi menyatakan akan berkioalisi dengan PD, baru sebatas usulan dari Amien Rais. Mencermati langkah-langkah yang sudah dilakukan Soetrisno Bachir dengan pertemuannya bersama Prabowo, tampaknya ditubuh PAN sendiri belum ada kata sepakat apakah akan berkoalisi dengan Demokrat/SBY atau dengan PDIP, Gerindra dan atau Golkar.
….to be continued (insyaAllah).

11 comments
Comments feed for this article
Mei 5, 2009 pada 7:57 am
waskita
Saya sedang bingung dengan PKS / tokoh-tokoh PKS, apakah dalam tindakan-tindakan mengacu kepada pakem-pakem dari Ikhwanul Muslimin, atau justru sudah punya pakem sendiri ..
Mei 5, 2009 pada 10:48 am
Abu Fauzan
@waskita….
Suara lebih penting dari kebenaran.
Kekuasaan lebih penting dari kebenaran.
Ini manhaj IM dan turunannya.
Jangankan pakem2 dari IM
pakem2 dari Rosululloh SAW saja biasa diterobos.
Ga perlu takut menerobos.
Karena Pentolan2nya bisa kok cari2 argumen pembenaran.
Sudah terbiasa membiaskan “kebenaran yg nyata”,
kepada “alasan yg logis”
Saya bukan asal bicara
Bisa lihat Iklan-nya yg isinya model cewek tanpa jilbab dan orang yg rambutnya dibotak sebagian (ala punk), yg jelas hadist larangannya.
Alasannya klise
“darurat”, atau terpaksa, atau “ini hanya taktik”,
atau memilih yg terbaik dari yg buruk2, dsb.
Ya Akhi, Iblis lebih pintar dari kita.
dia telah sukses menggelincirkan jutaan manusia
waspadai muslihat dan tipu dayanya (talbis iblis)
jangan merasa pintar dan cerdik
dengan mengelabui dan menyamarkan kebenaran.
semuanya dalil yg dibikin2 sendiri.
atau dipaksakan cocok dan sejalan
jauh meninggalkan pakem2 Nabi SAW.
Dosa dikit ga apa2, yg penting “suara” dan “kuasa”
syirik dikit, bid’ah dikit, maksiat dikit gpp,
yg penting suara banyak, punya kuasa, dan kewenangan
Apakah pantas syari’at ini djadikan barang permainan?
Apakah pantas bersenda-gurau dengan syari’at ini?
Hendak bercanda dan bermain2 dengan Robbul Alamin?
Hendak melucu, dan dibuat lelucon?
hampir mustahil kita bisa beramal dengan ikhlas
bila setiap menolong orang, kita selalu bawa/unjuk bendera
beramal demi mencari simpati dan ridho manusia
bukan mencari ridho Alloh SWT semata.
Syirkul asghar (riya’)
mencari dari 2 pihak atau lebih keridhoan.
Dana buat publikasi kegiatan amal juga tinggi
Biar semua perbuatan baiknya bisa dilihat semua orang
amal ga seberapa, publikasi dimana-mana.
Inikah yg dicontohkan beliau SAW?
Dengan entengnya kader2 partai bilang :
“menghapus syirik itu mudah bila kita berkuasa”
Seolah2 setelah berkuasa semua bisa lempeng.
Dengan berkuasa maka bisa mengatur manusia.
Padahal penguasa yg coba2 dakwah tauhid dan menghapus syirik,
dijamin pendek masa jabatannya, apalagi bicara syari’at Islam.
Taliban adalah contoh yg nyata,
bagaimana rakyat yg maksiat tidak bisa dipaksa jadi lurus.
bisa langsung dikudeta sama rakyatnya yg hobi syirik , bid’ah, dan maksiat.
Rakyat afghan bergembira
dan merasa merdeka setelah lepas dari belenggu syari’at.
Taliban gagal total memaksa mereka dengan senjata sekalipun
Ini cermin yg nyata
Bercerminlah….
Barokallohu fikum
Mei 5, 2009 pada 3:22 pm
taufikurahman
@Waskita, setahu saya yang keputusan2 di PKS, seperti juga di partai2 lain pada umumnya, didasarkan pada musyawarah atau syuro. Dalam kasus terakhir misalnya, keputusan untuk berkoalisi dengan Demokrat setahu saya akhirnya diputuskan dalam musyawarah mereka di Majelis Syuro. Bahwa sebelum itu ada pandangan-pandangan pribadi ketika ditanya wartawan, saya kira merupakan hal yang wajar wajar saja.
@Abu Fauzan, saya sarankan sebaiknya anda bikin partai yang kerja dan kinerjanya ideal sebagaimana yang anda inginkan, jangan cuma mengeritik saja. Tapi memang, penonton biasanya lbh pandai daripada pemain. Cuma bear in mind saja, umumnya partai-partai baru yang muncul hasilnya jeblog sih. Atau kalau anda tidak suka dengan sistem demokrasi dan partai-partainya, dan ingin mendirikan Kekhilafahan segera saat ini juga, just do it. sedikit pesan saja, kalau mau membuat khalifah tidak cukup dengan sekedar tereak-terak “tegakkan khilafah”, “tegakkan syari’at” doang.
Mei 10, 2009 pada 2:16 am
ridwan
Perjuangan ini masih panjang dan tak akan pernah bisa dilewatkan antara kebtilan vis a vis kebenran, tapi ykinlah bahwa kebernaran itu akan selalu menang. Harap dipahami PKS bukan jama’ah malaikat
Mei 11, 2009 pada 2:33 pm
ibnu adila
To Taufikurahman;
Ya akhi, jangan menjual-jual agama untuk kepentingan kekuasaan, apalagi bikin partai-partai yang semuanya itu tidak dikenal dalam Islam. Siyasah syar’iah itu bukan dengan bikin partai dan ikut dalam pemilu dengan berdalih bahwa ini adalah darurat atau dengan alasan nanti orang yang jelek yang akan jadi pemimpin atau orang kafir. Sesungguhnya itu hanya persangkaan belaka. Dakwah yang paling urgent sekarang ini adalah bagaimana memperbaiki akidah umat yang rusak sebagaimana dengan dakwah dari semua nabi-nabi yang pernah diutus Allah di muka bumi. Dimulai dengan tashfiyah wa tarbiyah kepada ummat, bukan dengan bikin partai dan hendak masuk ke dalam sebuah sistem yang dibangun bukan berdasar dengan apa yang Allah ridhai.
Adapun Khilafah Islamiyah itu hanya sebagai wasilah semata untuk menegakkan agama Allah, bukan tujuan puncak dan akhir.
Allah mengutus nabi-nabi tiada lain adalah untuk mendakwahkan manusia kepada tauhid bukan untuk membuat negara, karena ada nabi yang tidak punya negara, bahkan tidak punya pengikut.
Kesuksesan dakwah bukan dengan bisa menjadi penguasa.
Mei 12, 2009 pada 2:06 am
taufikurahman
@Ibnu Adila. pada pemahaman saya, Islam itu agama yang syamil mutakamil, komplet-komprehensif. Benar bahwa aqidah tauhid adalah hal yang esensial dalam Islam, tetapi da’wah Islam harus melingkupi, dan menjamah berbagai hal, terutama yang yang mempengaruhi hajat hidup orang banyak. Politik, sebagaimana juga ekonomi, sosial, budaya adalah salah satu domain yang penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Melupakan peran penting politk itu jelas sebuah kenaifan alias kesalahan fatal umat Islam, jika itu terjadi.
Mei 12, 2009 pada 5:25 pm
Habib
SBY tidak bodoh untuk memilih HWN untuk jadi cawapres
PKS yang bodoh tidak mampu mencalonkan diri jadi Capres
Mei 13, 2009 pada 8:39 am
Ibnu Adila
To Taufikurahman.
Islam tidak hanya mengatur dan memerintah manusia untuk beribadah dalam hal ibadah mahdah saja, tapi juga dalam bermuamalah. Sungguh Islam adalah agama yang sempurna dimana semua hal diatur mulai dari urusan di dalam kamar mandi sampai dalam mengatur suatu negara. Semua itu telah lengkap diatur dalam Islam, hanya saja banyak ummat Islam sekarang ini yang tidak paham akan hal itu, sehingga mereka mencari sistem hidup diluar Islam, dikiranya Islam tidak mengatur tentang politik sehingga mereka memakai sistem demokrasi berikut pemilu untuk memilih penguasa.
Politik Islami atau lebih dikenal dengan Siyasah Syar’iah yang terdapat dalam kitab-kitab fikih karya ulama-ulama fikih atau fuqaha yang merupakan hasil telaah dari nash-nash Qur’an dan sunnah telah mengatur bagaimana metode yang hak dalam mengangkat seorang penguasa dan hubungan antara masyarakat dan penguasa berikut perangkat-perangkatnya.
Sungguh saya sedang tidak menafikan peran politik, karena hal tersebut ada di dalam Islam sendiri, hanya saja metode yang dipakai itu lho yang tidak syar’i. Bisa jadi ada kemaslahatan dunia yang akan diperoleh dengan berkecimpung dalam demokrasi, tapi tentu saja tidak akan diperoleh kemaslahatan akhirat karena tidak sesuai dengan metode yang disyariatkan oleh Islam. Nah, Islam memberikan metode yang tidak saja memiliki kemaslahatan akhirat tapi juga kemaslahatan dunia dalam mengatur tatanan masyarakat.
Mei 13, 2009 pada 9:13 am
taufikurahman
@Ibnu Adila, dalam hal memilih pemimpin setahu saya tidak aturan baku yang kaku dalam siroh Rasul dan sahabat. Pada posting sebelumnya saya sudah bahas ini bahwa cara atau metoda diangkatnya Abu Bakar menjadi Khalifah itu berbeda dengan cara Umar ketika dipilih oleh Abu Bakar, juga beda dengan cara ketika Utsman dan berikutnya Ali terpilih. Islam itu agama yang fleksible dalam hal cara atau manhaj, lebih lebih bersifat ijtihadi. Pada jaman dan tempat berbeda, ijtihad boleh jadi berbeda tergantung kepada permasalahan/kemaslahatannya.
btw, kalau umat Islam masih ribut soal cara memilih pemimpin,kapan mau majunya umat ini ? Ketika bangsa ini yang mayoritasnya umat Islam sibuk dengan pemilu, sebagian yang lain sibuk berteriak-teriak bahwa ikutan pemilu itu gak Islami… capek deh…
Mei 17, 2009 pada 1:58 pm
waskita
Selama sejarah 4 khalifah pertama, setahu saya ada persamaannya: mereka semua tidak sibuk kampanye minta dipilih. Dalam menentukan khalifah, tim yang memilih mereka adalah orang-orang bertaqwa di zaman itu. Aqidah bagus, syariat bagus, akhlaknya pun bagus.
Mei 22, 2009 pada 12:41 am
Agung Mahesa
Pak Taufik, punten numpang ikutan diskusi,
Mas Waskita, sejarah umat islam pasca wafatnya Rosululloh SAW menurut para ulama dapat dibagi 4. Dan periode 4 khalifah itu masuk periode pertama yaitu Khilafah ‘ala minhajin Nubuwwah, sebagaimana dalam hadits ini:
“Masa kenabian itu ada di tengah-tengah kamu sekalian, adanya atas kehendak Allah. Allah mengangkatnya apabila Ia menghendakinya untuk mengangkatnya. Kemudian masa Khilafah ‘ala minhajin Nubuwwah, adanya atas kehendak Allah. Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian masa kerajaan yang menggigit (Mulkan Adhon), adanya atas kehendak Allah. Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian masa kerajaan yang menyombong (Mulkan Jabariyyah), adanya atas kehendak Allah. Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian masa Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwwah, kemudian beliau diam.” (HR. Ahmad dan Al-Baihaqi)
Banyak ulama Islam mengkategorikan masa2 sekarang sebagai periode Mulkan Jabariyyah. Ini ditandai dengan kuatnya peran media. Politik pencitraan menjadi hal biasa. Untuk memunculkan seseorang yang memang baik akhlak dan ikhlas niatnya untuk Indonesia, pun masih perlu pencitraan via media. Jadi masalah kampanye engga kampanye itu bukan masalah ‘ushul menurut saya. Itu hanya cara/kaifiyat untuk mencapai kemashlahatan yang lebih besar.
O ya satu lagi, 4 khalifah itu juga ga pake demokrasi. Mereka dipilih oleh sekelompok orang yang seperti mas waskita bilang “Aqidah bagus, syariat bagus, akhlaknya pun bagus”. Jadi ini memang yang ideal, bukan one man one vote. Jadi agak kurang pas kalau membandingkan periode 4 khalifah dengan hiruk pikuk demokrasi di Indonesia saat ini