Tidak ada momen yang paling baik bagi seorang muslim untuk mendekatkan diri kepada Allah swt selain di bulan Ramadhan. Dengan berpuasa di bulan ini, kita menegasikan hal-hal duniawi untuk meraih kenikmatan ukhrawi, kenikmatan dalam berhubungan secara spiritual dengan Allah Swt. Berpuasa menjadi syarat sekaligus wasilah dalam proses mendekatkan diri kita kepada Allah Swt. Berpuasa itu sendiri menjadi pemicu awal dari muncul dan berkembangnya begitu banyak amalan kebaikan dalam keseharian kita. Berpuasa menjadi sebuah syarat mutlak ketika seorang hamba ingin mendekatkan diri kepada Rabb-nya.

Dengan menahan diri dari hawa nafsu dalam pemenuhan kebutuhan biologis (makan, minum, hubungan seksual) di siang hari kita akan memiliki kemampuan mengontrol diri dengan baik. Pengontrolan diri ini sangat penting dalam rangka kita mengendalikan hawa nafsu sendiri. Begitu banyak manusia terjerembab di lembah kehinaan lantaran tidak mampu menahan hawa nafsunya sendiri, sehingga dia melakukan kemaksiatan. Dengan berpuasa kita membebaskan diri kita sendiri dari kendali hawa nafsu. Bahkan dengan berpuasa, kita mendudukkan diri kita untuk mengendalikan hawa nafsu tersebut.

Ketika kita berpuasa, tubuh dan diri kita, secara fisik dan spiritual menjadi bersih dari pengaruh atau tarikan duniawi. Saat itulah menjadi momen yang tepat bagi kita untuk menggapai tali yang mendekatkan diri kita kepada Allah swt. Dalam keseharian manusia, hal-hal yang duniawi itulah yang sesungguhnya seringkali menjadi penghalang atau penghambat terjadinya komunikasi yang baik antara manusia dengan Khaliq-nya. Maka ketika hal-hal yang duniawi itu kita jauhi, jiwa kita menjadi lebih jernih untuk berkomunikasi dengan Allah Swt.

Jika diibaratkan dengan gelombang radio atau TV, kondisi cuaca yang berawan, hujan, udara yang tercemar oleh berbagai zat pencemar, menjadi penghalangnya dari jernih nya siaran radio atau TV tersebut tertangkap di radio atau TV kita, sehingga suara dan atau gambar jadi banyak noise-nya. Pada kondisi udara yang cerah, tidak berawan, bebas polusi, gelombang radio atau TV akan jernih tertangkap di receiver kita. Begitulah kondisi di bulan Ramadhan ini, jika diibaratkan seperti kondisi udara yang jernih, tenang, bebas awan, jauh dari gangguan petir atau halilintar (syetan), sehingga pada bulan ini “receiver” yang ada di hati kita lebih mudah menangkap sinyal hidayah atau petunjuk dari Allah Swt.

Berada dalam kondisi yang kondusif seperti itu, akan sangat disayangkan kalau kita tidak berbuat apa-apa, atau hanya berbuat apa adanya dan tidak maksimal, untuk meningkatkan hubungan kita dengan Allah Swt.
karena itulah menjadi sangat penting bagi kita untuk berbuat amal shaleh: shaum di siang hari, diikuti dengan tilawah Qur’an dia siang dan malam hari, qiyamullail, zakat-shadaqah-infaq, berbuat baik terhadap sesama seperti memberi makan orang yang berpuasa (pada saat berbuka), dan amalan shaleh lainnya.

Karena di bulan Ramadhan kedekatan hubungan kita dengan Allah swt mencapai puncaknya, maka seharusnyalah bila momen tersebut digunakan oleh setiap muslim untuk banyak-banyak berdo’a kepada Allah Swt agar do’anya itu diijabah Allah. Karena itulah tampaknya, diantara ayat-ayat yang mensyariatkan berpuasa di bulan Ramadhan, Allah Swt menyelipkan satu ayat tentang do’a: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendo’a apabila ia berdo’a kepada-Ku (Q.S. 2: 186).

About these ads