You are currently browsing the daily archive for Mei 27th, 2008.

Mendapatkan peluang melanjutkan studi S2 di ITB dengan diberi beasiswa dan ditawari sebagai dosen tentu merupakan sebuah karunia Allah Swt yang besar bagi saya, karena itu kesempatan tersebut tidak saya sia-siakan. Sempat 3 bulan istirahat dari aktivitas akademik setelah lulus S1 di bulan Juni 1985, kemudian saya mulai kuliah lagi sebagai mahasiswa S2 di bulan September 1985.

Selain biaya sekolah gratis, saya mendapat uang saku bulanan lebih kurang 150 ribu rupiah :) itu jumlah yang lumayan sebagai bujangan saat itu, tetapi kalau dengan keluarga jelas kurang. Syukurnya setahun kemudian saya termasuk yang beruntung lagi karena mendapat kesempatan untuk mengikuti kegiatan persiapan studi di luar negeri dengan dana dari projek Center Grant PAU (Pusat Antar Universitas) ITB, dan ada tambahan beasiswa selama lebih kurang sembilan bulan ikut kursus bahasa Inggris untuk persiapan studi S3.

Tanggal 10 Agustus 1986, saya memberanikan diri menikah ! Saat itu usia saya belum genap 25 tahun. Isteri saya Nurani Esti Lestari adalah alumni jurusan Gizi dan Sumberdaya Keluarga IPB. Saat itu isteri saya bekerja di Akademi Gizi di Semarang, dan beliau sendiri memang kelahiran Semarang. Jadi setelah menikah saya kemudian harus bolak-balik Bandung-Semarang, lebih kurang selama setengah tahun, sampai akhirnya saya memboyong isteri untuk tinggal di Bandung, sehingga otomatis beliau harus meninggalkan pekerjaannya.

Diakhir masa studi S2 saya, selain disibukkan dengan penelitian dan penyusunan tesis, sayapun harus mengurus persiapan keberangkatan ke luar negeri. Saya sudah dijadwalkan untuk berangkat ke Inggris akhir Agustus 1987. Alhamdulillah tesis beres, sidang kecil dan sidang besar S2 selesai. Akhirnya pada tanggal yang telah ditentukan sayapun berangkat ke Inggris untuk melanjutkan studi S3 di University College of Swansea (University of Wales), kendati saya harus meninggalkan isteri yang saat itu sedang hamil anak pertama kami dengan usia kandungan 7 bulan…. berat meninggalkannya dalam keadaan seperti, tetapi itu pilihan yang kami tempuh dan menjadi takdir Allah Swt.

  

Tahun 1980 saya masuk ITB melalui jalur Perintis II, tanpa testing, semacam PMDK yang masih dilakukan IPB (rasanya) hingga saat ini. Saat itu yang masuk ITB melalui jalur tersebut hanya boleh masuk FMIPA minus Farmasi, that’s ok for me, sebab saya ingin masuk Biologi. Setelah TPB ditahun pertama dan kemudian penjurusan, saya mantap memilih Biologi sebagai pilihan studi saya, ini karena sejak SMA saya tertarik dengan issue lingkungan yang saat itu mulai ramai dibicarakan di media.

Tahun pertama dan kedua di Bandung saya kost di daerah Lebak Gede yang sekarang sebagiannya sudah diubah menjadi Sabuga ITB. Tahun ketiga saya mendaftar masuk asrama mahasiswa ITB, dan diterima bersama sekitar 20 rekan lainnya masuk asrama Barrac (G). Asrama ini terkenal seniornya galak-galak, dan penghuninya paling banyak dibanding dengan asrama ITB lainnya (A,B,C,D,E,F,H). Tekanan menjadi yunior di asrama awalnya memang terasa berat, tetapi karena kami masuk rame-rame, kami bikin kekuatan sendiri dan jadi solid menghadapi senior, sehingga tekanan tidak begitu terasa lagi.  Dua tahun kemudian bahkan saya terpilih menjadi Ketua Dewan Senior Asrama Mahasiswa (DSAM) ITB. kegiatan DSAM yang paling signifikan adalah menyelenggarakan Pekan Olahraga Antar Asrama Mahasiswa (PORAM).  

Di Biologi saya juga aktif  menjadi salah seorang pengurus Himpunan Mahasiswa Nymphaea. Selain itu saya juga senang mengikuti kegiatan di Masjid Salman ITB, dari kuliah dhuha, ceramah ramadhan, dan mengikuti kegiatan Latihan Mujahid Da’wah (LMD). Setelah ikut LMD saya juga terlibat dalam kepanitiaan LMD berikutnya. Berada di masjid Salman terasa sangat nyaman, sejuk dan damai. Ceramah-ceramah yang diberikan oleh para penceramah sangat berkesan, apalagi kalau sudah mendengar ceramah Buya Hamka, luar biasa, air mata menetes diam-diam. Pada beberapa kegiatan Ramadhan di Salman, saya juga sempat membantu kepanitiaan dengan ikut memberi pengajaran baca AlQur’an, kebetulan sejak SMA saya pernah ikut beberapa kursus membaca AlQur’an untuk menjadi qori’ dan pernah ikut beberapa musabaqoh hingga tingkat kelurahan :)

Sebetulnya menyenangkan menjadi mahasiswa, tetapi saya ingin cepat lulus agar  bisa cepat bekerja dan meringankan beban orang tua. Alhamdulillah saya menyelesaikan S1 dalam waktu empat setengah tahun pas, I coudn’t do better or faster than that. Selepas lulus beberapa waktu sempat bingung mau kerja dimana, sampai akhirnya saya dapat tawaran untuk melanjutkan studi ke S2 dengan beasiswa dari Pemerintah, dengan catatatan saya menjadi dosen di almamater saya. Saya pikir ini kesempatan emas, saya ingin studi lanjut dan ditawari jadi dosen lagi, alhamdulillah.  

 

 

 

 

 

 

 

c

 

Mei 2008
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031