You are currently browsing the daily archive for Mei 19th, 2008.
If Indonesia is a wealth and prosperous country, having many holidays probably will do no harm to the people and the development of the country. But realizing that Indonesia is a country that can be categorized as developing country (not to say a poor country), I think we have to consider the fact that in our country there are too many public holidays !
These public holidays mostly related to religious events. In Moslem calender, beside having iedul fitri and Iedul adha, we also have “maulid” and “isra mi’raj” of the prophet (pbuh). Commemorating the prophet birthday and event of Isra mi’raj is fine, the thing is that is it necessary in commemorating those events that it has to be public holidays ? I don’t think that’s important to make them as public holidays. The same case in christianity, it’s okay that we have public holiday at christmass day, but other events such as the death of Isa (pbuh) and good friday… does it need to be commemorated in public holidays ?
Beside those religious related events, some ordinary days can also become holidays if they are being “kejepit” between two holidays, we call it “harpitnas’ (hari kejepit nasional). Those adds more public holidays in the country. I am afraid that too many holidays will do no good to the progress of development in Indonesia. What do you think ?
Ternyata hingga saat ini tidak ada yang namanya standarisasi anggaran pendapatan dan belanja sekolah. Setiap sekolah karenanya bisa sesuka hati menetapkan RAPBS mereka. Selain itu tampaknya juga tidak ada kewajiban pihak sekolah untuk secara transparan memberi tahu kepada publik, paling tidak kepada para wali murid, kemana saja dana yang telah mereka terima digunakan. Karena itu, kata teman saya yang pemerhati pendididikan di kota Bandung, pihak sekolah bisa mencantumkan dalam RAPBS-nya seperti dana trasportasi/uang bensin pak kepala sekolah, dana hadiah sunatan anak kepala sekolah, biaya rapat kepala sekolah dll. Itu semua dan dana tekek bengek yang tidak jelas kontribusinya bagi operasional sekolah selama ini tampaknya banyak dibebankan kepada siswa.
Dana APBS yang tidak transparan barangkali menjadi penyebab dari biang keladi munculnya rasa kurang puas bahkan bisa dikategorikan sebagai kecurigaan dari masyarakat terhadap penggunaan dana masyarakat oleh sekolah-sekolah. Rasa kurang puas dan kecurigaan tersebut tentu saja tidak baik kalau dibiarkan terus. Para orang tua dan komite sekolah mungkin tidak banyak berani bicara dan mengkkrtitik pihak sekolah, takut kalau hal tersebut akan berakibat anak mereka yang akan ditekan oleh pihak sekolah. Itu adalah rasa kekhawatiran yang real dialami oleh para orang tua siswa dan juga anggota komite sekolah, sehingga mekanisme pengontrolan dan pengendalian sistem keuangan sekolah tidak bekerja dengan baik. Komite sekolah dan orang tua murid akhirnya mungkin cuma menggerutu dibelakang.
Jalan keluar untuk mengatasi hal tersebut, saya kira adalah Diknas sepatutnya mengeluarkan rambu-rambu semacam standarisasi biaya apa saja yang boleh ada dalam RAPBS, setiap item ada nomenklatuur-nya yang jelas dan logis. Selanjutnya APBS harus dipertanggungjawabkan dan diaudit setiap tahunnya oleh akuntan publik. Beberapa SMA di Bandung, menurut selentingan, memiliki dana tahunan paling tidak 6 milyar rupiah. Itu dana yang cukup besar tentu dan harus dipertanggungjawabkan penggunaannya kepada publik, apalagi sekolah-sekolah negeri yang seharusnya merupakan servis negara kepada rakyat, harusnya gratis ! sesuai amanat konstitusi. Pertanggungjawaban kepada publik sepatutnya bisa dilakukan sekolah dengan menayangkan laporan keuangan di papan pengumuman sekolah, buletin sekolah, atau kalau perlu bahkan di mass media agar masyarakat bisa menilai dan setulusnya bisa mempercayai pihak sekolah dalam pengelolaan keuangannya. Mungkinkah hal tersebut dilakukan oleh sekolah-sekolah di Bandung ? Beberapa daerah di luar Bandung saja bisa kok, mestinya di Bandung juga bisa ya …

Komentar Terakhir