Diantara topik yang hot dibicarakan pada pertemuan sabtu lalu tentang problematika pendidikan di kota Bandung adalah soal semakin tingginya biaya masuk ke sekolah-sekolah. Setiap awal tahun ajaran baru, orang tua murid harus merogoh kocek dalam-dalam untuk biaya bangunan, seragam, buku, pembayaran beberapa bulan SPP, dll.
Seorang pengamat/pemerhati dunia pendidikan di kota Bandung mengungkapkan perkiraannya, tahun lalu rata-rata biaya masuk untuk ke sekolah adalah 1,5 juta. Itu harga rata-rata yang nilai satuannya bervariasi dari 500 ribuan hingga belasan juta rupiah. Uniknya (atau tidak uniknya ?) untuk kasus kota Bandung, ternyata keluhan dari orang tua murid itu biasanya hanya sebentar saja, setelah itu hilang, masing-masing tampaknya berusaha untuk memaklumi kebutuhan sekolah, bahwa sekolah yang berkualitas itu mahal, bahwa gaji atau honor guru ini minim sehingga perlu banyak tambahan dll.
Rekan tersebut selanjutnya membandingkan kondisi serupa juga muncul di daerah-darah lain, tetapi yang menariknya di beberapa daerah lain tersebut terutama di daerah Jawa Tengah, pihak sekolah benar-benar tidak bisa sesukanya menaikkan biaya masuk sekolah. Para orang tua murid di tempat lain tampaknya lebih rewel dibandingkan para orang tua murid di Bandung !.
Analisis saya, kemungkinan masyarakat Bandung umumnya tergolong masyarakat menengah keatas (?) tidak begitu mempermasalahkan kenaikan biaya masuk sekolah ini, bahkan mereka bisa mengeluarkan belasan juta rupiah untuk anaknya bisa bersekolah di sekolah-sekolah favorit. Kemungkinan lain, walaupun diluar kapasitas mereka, mereka akan berusaha menutupinya dengan mencari pinjaman sana-sini guna memenuhi permintaan pihak sekolah tersebut. Tampaknya hal yang berbeda terjadi diluar Bandung dimana tingkat perekonomian penduduknya secara umum termasuk dalam kategori menengah kebawah, issue kenaikan biaya pendidikan ini menjadi issur hidup-mati mereka, jadi mereka akan fight habis-habisan untuk menekan biaya masuk sekolah tersebut, sementara orang-orang Bandung lebih banyak “narima” ?
Hal lain yang juga menarik sebagai pembandingan, di beberapa daerah di Jawa tengah, pihak sekolah secara transparan, bahkan ditempel di papan pengeumuman, memberikan informasi keuangan: pemasukan dan pengeluaran sekolah hingga detail, luar biasa ! Hal seperti itu masih belum terjadi di Bandung. Saat ini dengan manajemen berbasis sekolah, tiap sekolah mememiliki semacam otoritas menarik dana dari masyarakat dan mengelolanya sendiri tanpa terlebih dahulu disetor ke rekening pemerintah. Nah, bisakah untuk kota Bandung, sistem seperti ini dibuat lebih akuntable, transparan, sehingga ketika akan menaikkan biaya sumbangan pendidikan, pihak sekolah harus bisa secara rinci memaparkan kebutuhan-kebutuhan mereka dan mempertanggungjawabkan penggunaannya kepada publik. Tentu sangat dianjurkan bila dapat dilakukan pemeriksaan oleh akuntan publik.
What do you think ?

6 comments
Comments feed for this article
Mei 15, 2008 pada 3:20 pm
juliach
Th. 2003, saya diminta untuk membayar Rp. 20 jt utk memasukan anak di play group di Depok. Namun saya ogah membayar. Playgroup saja koq mahal begitu! Setahun kemudian waktu mendaftarkan di TK di Jakarta selatan diminta Rp. 30 jt. Duh…duh…mahal amat, hanya karena anak saya WN Perancis, padahal anak ini ditinggal sama bapaknya gitu saja tanpa dapat pensangon. Ini sekolah juga kurang ajar enggak lihat ibunya yg WNI dan kerjanya golong komeng.
Akhirnya saya bawa anak ini kembali ke Perancis: dari TK sampai saat ini saya tidak pernah membayar uang masuk sekolah dan biaya bulanan. Anehnya lagi anak sekolah di sini malah mendapat uang untuk membeli keperluannya (ini tergantung dengan coefisien keluarga) dan buku/alat tulis/kegiatan2 gratis.
Jadi bingun deh
Mei 16, 2008 pada 9:21 am
nik_nik
agh!!!!!!!
tapi wajar juga sih klo uang sekolah semakin mahal , asal sesuai dengan kualitas..
Oktober 18, 2009 pada 7:13 pm
adi
kwalitas mana?
Mei 18, 2008 pada 1:31 pm
AA Arman
Menarik dana bantuan dari sumber manapun adalah hal yang positif. Saya setuju dengan pernyataan harus transparan dan akuntabel, bahkan cerita tentang sekolah yang memajang laporan keuangannya.
Saya kira, kalau perlu pemerintah kota bisa memaksakan untuk mengatur teknis akuntabilitas dan transparansi semua dana di sekolah. Jika hal ini tercapai, bantuan akan lebih mudah mengalir.
salam
arry akhmad arman
Agustus 28, 2008 pada 3:46 am
Uang Pembangunan Rp 5 Juta (Masuk Kelas 1 SMA) « Sains-Inreligion
[...] di Jakarta Selatan ini. Katanya tahun sebelumnya Rp 3,5 Juta. Di Bandung, kata seorang pemerhati biayanya antara Rp 500 ribu sampai belasan juta rupiah. Ini tentu saja di luar biaya eskul, biaya seragam, biaya tas, buku, ongkos jajan, biaya pulsa, [...]
Oktober 18, 2009 pada 7:12 pm
adi
Sangat gak masuk akal, masuk sekolah mahal gitu, ini departemen pendidikan harus dituntut, kualitas masih kacangan bisa mahal gitu, di Belanda aja sekolah hampir gratis malah. Saya setuju dgn @juliach
di Belanda sini juga gratis, dan kwalitas jauuuuuuuh beda dengan indonesia… di Indonesia biasanya morotin duit orang tua aja anak masih goblok juga…dan orang tuanya juga semakin goblok…dia kira yg mahal bisa bikin anak pintar…yang ada bodo juga….